Jatengkita.id – Majapahit pernah menorehkan kejayaan. Jejaknya tidak hanya tersimpan dalam kitab atau prasasti, melainkan juga dalam pusaka. Keris-keris yang lahir dari masa itu bukan sekadar senjata, melainkan bahasa simbol yang mencatat denyut sejarah bangsanya.
Kejayaan mula-mula tergambar dalam Keris Dapur Nagasasra. Sosok naga berhias mahkota itu bukan sekadar ukiran indah, melainkan lambang hukum yang tegak, kekuasaan yang manut marang pranata.
Selama hukum berdiri sebagai pangayom, rakyat akan merasa ayem, dan negara pun menemukan puncak kejayaannya.
Namun, ketika kemewahan mulai terkonsentrasi di istana, lahirlah keris dapur Sabuk Inten. Permata yang melingkar di pinggang bangsawan menjelma simbol kesenjangan.
Kemewahan berputar hanya di kalangan elit, sementara wong cilik cukup puas menjadi penonton. Dari sinilah jurang sosial terbentang, menandai retaknya harmoni.
Sesudahnya, pusaka keris dapur Condong Campur hadir. Namanya sudah menjadi isyarat tentang kekuasaan yang condong ke sana dan campur ke mari. Para elit terjebak dalam perebutan pengaruh, rakyat kehilangan arah, dan kepercayaan mulai menguap.
Ketika janji tinggal janji, rakyat pun berubah menjadi sangkel, marah. Maka lahirlah keris dapur Sangkelat. Keris ini bukan hanya pusaka, melainkan teriakan diam rakyat kecil yang sudah muak. Mereka marah pada hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Mereka geram melihat kesenjangan yang terus melebar. Amarah itu akhirnya menjelma gelombang yang menggerus, meruntuhkan, hingga singgasana pun tak lagi kokoh.
Namun sejarah tidak hanya mencatat amarah. Dari balik reruntuhan, masih tumbuh pengharapan. Itulah makna keris dapur Parung Sari. Pusaka ini melambangkan kesuburan, tanah yang tak pernah lelah memberi, rakyat yang terus bekerja meski pemimpinnya lalai.
Dari bumi dan keringat wong tani, dari sawah yang tetap hijau meski istana berdebu, bangsa ini bertahan.

Rangkaian pusaka itu berbicara dalam urutan yang runtut.
- Nagasasra → hukum tegak, negara jaya.
- Sabuk Inten → kemewahan, jurang sosial terbuka.
- Condong Campur → elite pecah, rakyat kehilangan arah.
- Sangkelat → rakyat marah, negara terguncang.
- Parung Sari → bumi dan rakyat, harapan yang tak pernah mati.
Dan bukankah pola ini terasa dekat dan tak asing dengan zaman kita hari ini? Ketika hukum masih jadi perdebatan, ketika kemewahan dipamerkan di layar kaca sementara rakyat menahan lapar, ketika politik berputar condong-campur tanpa arah, dan ketika rakyat mulai sangkel pada janji yang tak ditepati.
Tetapi harapan itu tetap ada, selama bumi masih memberi, selama rakyat masih bekerja, selama doa tidak berhenti.
Pusaka Majapahit sejatinya adalah pitutur. Ia tidak hanya bercerita tentang masa lalu, melainkan juga menggugah kesadaran kita hari ini bahwa kekuasaan tanpa keadilan akan runtuh, tetapi rakyat dan bumi akan selalu menjadi penopang kehidupan.
Baca juga: Estetika Keris dan Nilai Filosofis dalam Budaya Nusantara






