Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu: Menaklukkan Diri, Menata Negeri

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu: Menaklukkan Diri, Menata Negeri
(Gambar: facebook.com)

Jatengkita.id – Di tanah Jawa, leluhur kita meninggalkan sebuah pitutur yang penuh rahasia: Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Kalimat ini seperti mantra, tapi sejatinya adalah cermin.

Ia mengajarkan, bahwa hidup manusia akan menemukan maknanya bila mampu menundukkan “diyu” dalam dirinya—ambisi liar, nafsu serakah, dan ego yang merusak—hingga menjelma ketentraman jagad, hayuningrat.

Bukankah inilah yang juga diajarkan Islam? Allah ﷻ berfirman:

> قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَاۖ • وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Qad aflaha man zakkāhā, wa qad khāba man dassāhā

“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Mensucikan jiwa adalah inti dari pangruwating diyu. Dan dalam jalan dakwah, upaya itu menemukan bentuk yang sangat indah dalam ajaran Hasan al-Banna tentang sepuluh rukun mukmin sejati.

Rukun pertama adalah fahm (pemahaman). Karena seringkali nafsu bersembunyi di balik kebodohan, membuat manusia salah menilai hidup. Dengan pemahaman, pandangan jernih terbuka, sehingga kebenaran bisa ditangkap dengan hati yang bersih.

Lalu ikhlas, yang membersihkan amal dari riya dan pamrih. Betapa banyak “diyu” menjelma dalam keinginan dipuji, dalam obsesi menonjol. Ikhlas adalah obatnya dengan beramal semata karena Allah.

Namun, niat saja tidak cukup. Ia harus berwujud amal, kerja nyata. Nafsu suka menunda dan hanya berbicara, sementara amal meruwat kebiasaan kosong menjadi langkah yang membawa hasil.

Dalam proses itu, ada jihad. Bukan semata perang fisik, tapi perjuangan melawan rasa malas, menahan diri dari kerakusan, hingga berani mengambil risiko demi kebenaran.

Jihad tak pernah bisa tanpa tadhhiyah (pengorbanan). Nafsu suka menuntut, tadhhiyah melatih memberi. Waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa, semuanya ditimbang bukan dengan ego, melainkan dengan rida Allah.

sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu
Perang melawan hawa nafsu (Ilustrasi: AI generated)

Semua itu terjaga hanya jika ada tha‘ah (ketaatan). Karena diyu kerap membisikkan pembangkangan, merasa diri lebih tahu. Tha‘ah mengajarkan kerendahan hati, tunduk pada kebenaran, pada syariat, dan pada Allah SWT.

Dan perjalanan ini juga menuntut tsabat (keteguhan). Sebab hawa nafsu selalu ingin kita berhenti, goyah di tengah jalan. Keteguhan menjaga kita tetap di rel, istikamah sampai tujuan.

Lalu ada tajarrud (pemurnian loyalitas). Nafsu ingin hati terbagi: sedikit untuk Allah, sedikit untuk dunia. Tajarrud menegaskan, hanya Allah dan risalah-Nya yang menjadi pusat kesetiaan.

Dengan itu, lahirlah ukhuwwah (persaudaraan). Nafsu menumbuhkan iri dan benci, tapi ukhuwwah meruwatnya menjadi kasih sayang, kepercayaan, dan kerelaan saling menopang.

Dan akhirnya, semua ditutup dengan tsiqah (kepercayaan). Nafsu suka menebar curiga dan perpecahan, tapi tsiqah menumbuhkan keyakinan: kepada pemimpin, kepada saudara, dan lebih dari itu, kepada janji Allah bahwa kebenaran pasti menang.

Nabi ﷺ bersabda:

> الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ

Al-mujāhidu man jāhada nafsahu fī ṭā‘atillāh

“Pejuang sejati adalah orang yang berjihad melawan dirinya sendiri dalam ketaatan kepada Allah.”

Maka jalan Sastra Jendra dan jalan mukmin sejati sesungguhnya bertemu pada satu titik: menundukkan diri agar mampu menata negeri. Mukmin sejati bukanlah yang sibuk mencari kedudukan, tetapi ia yang sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, trimah mawi pasrah, sepi pamrih tebih ajrih.

Dan di situlah letak hayuningrat—rahayu bagi jagad, rahmatan lil alamin.

Dalam pewayangan, Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, ada dalam lakon yang menceritakan lamaran Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi, anak Prabu Sumali yang bertahta di Alengka.

Lamaran Begawan Wisrawa sendiri sesungguhnya mewakili anaknya, yaitu Prabu Danaraja. Tetapi Dewi Sukesi memberi syarat bahwa lamaran akan diterima bila dia mendapatkan ajaran Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Ringkas kata, Begawan Wisrawa berhasil mengajarkan ilmu tersebut. Tetapi ia dan Sukesi justru malah tergelincir dalam hubungan terlarang.

Diyu dalam dirinya tak terkendali sampai akhirnya melahirkan Dasamuka yg sakti digdaya, Kumbakarna yang penyuka tidur dan makan enak, Sarpa Kenaka yg pemuja nafsu syahwat dan Wibisana yg akhirnya menjadi kesatria pembela kebenaran.

Pada akhirnya ilmu tanpa pengendalian diri akan menghancurkan diri sendiri.

Baca juga: Membaca Ulang Legenda Pusaka Majapahit, Kejatuhan dan Harapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *