Kenali 4 Tipe Attachment Style, Kunci Membangun Komunikasi Sehat

Kenali 4 Tipe Attachment Style, Kunci Membangun Komunikasi Sehat
(Ilustasi : mind.help)

Jatengkita.id – Dalam membangun hubungan yang sehat, baik, dan romantis, persahabatan, maupun keluarga, memahami diri sendiri dan orang lain menjadi faktor penting. Salah satu kunci untuk membuka pemahaman ini terletak pada tipe attachment style atau gaya keterikatan emosional seseorang.

Attachment style terbentuk sejak masa kanak-kanak, dan berpengaruh besar terhadap cara kita berhubungan dengan orang lain di masa dewasa.

Ada empat tipe utama attachment style dan masing-masing memiliki karakteristik unik yang dapat membantu kita memahami perilaku emosional dalam relasi.

Memahami gaya keterikatan ini bukan hanya penting untuk mengenali diri sendiri, tetapi juga untuk membangun komunikasi yang lebih sehat dengan pasangan atau orang-orang terdekat.

Berikut adalah ulasan lengkap mengenai empat tipe attachment style:

  1. Secure Attachment (Keterikatan Aman)

Karakteristik

Orang dengan secure attachment memiliki pandangan positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Mereka merasa nyaman dengan keintiman emosional dan tahu bagaimana menetapkan batasan yang sehat. Mereka tidak takut ditinggalkan dan tidak merasa perlu menggantungkan kebahagiaan pada pasangan.

Mereka juga mampu menghadapi konflik dalam hubungan dengan tenang dan terbuka, serta mampu memberikan dan menerima dukungan emosional secara seimbang.

Penyebab

Attachment ini biasanya terbentuk dari masa kecil yang penuh kasih sayang, stabil, dan responsif. Anak-anak yang dibesarkan oleh pengasuh yang peka terhadap kebutuhan emosional mereka akan tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan mampu membangun hubungan yang sehat.

Dalam hubungan

Orang dengan secure attachment cenderung memiliki hubungan jangka panjang yang stabil. Mereka tidak mudah merasa cemburu, tidak manipulatif, dan terbuka dalam berkomunikasi.

Kelebihan

  • Mampu mengelola emosi dengan baik
  • Mudah mempercayai orang lain
  • Tidak takut menunjukkan kerentanan
  1. Anxious Attachment (Keterikatan Cemas)

Karakteristik

Tipe ini cenderung merasa tidak aman dalam hubungan. Mereka sering khawatir akan ditinggalkan, merasa tidak cukup baik, dan terus-menerus mencari validasi dari pasangan.

Individu dengan anxious attachment sangat sensitif terhadap tanda-tanda penolakan atau perubahan kecil dalam perilaku pasangan, bahkan jika tidak nyata.

Penyebab

Biasanya berkembang dari pola asuh yang inkonsisten. Pengasuh yang kadang memberi perhatian dan kadang mengabaikan anak akan membuat anak bingung dan cemas. Akibatnya, anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang terus-menerus mencari kepastian dalam relasi.

Dalam hubungan

Mereka mungkin tampak terlalu bergantung, posesif, atau cemburu. Saat konflik muncul, mereka bisa menjadi dramatis atau terlalu emosional karena ketakutan akan kehilangan.

Kelebihan

  • Peka terhadap emosi pasangan
  • Mampu menunjukkan kasih sayang secara intens
  • Loyal dan perhatian

Tantangan

  • Perlu belajar mempercayai pasangan
  • Butuh mengembangkan rasa aman dari dalam diri sendiri
  1. Avoidant Attachment (Keterikatan Menghindar)

Karakteristik

Individu dengan avoidant attachment cenderung menolak keintiman dan ketergantungan dalam hubungan. Mereka merasa tidak nyaman jika terlalu dekat dengan seseorang dan lebih suka menjaga jarak emosional.

Mereka mengandalkan diri sendiri dan sering menolak menunjukkan atau menerima emosi secara terbuka.

Penyebab

Tumbuh dari lingkungan di mana pengasuh emosionalnya tidak responsif, dingin, atau menuntut kemandirian secara berlebihan. Anak-anak belajar bahwa menunjukkan emosi tidak akan mendapatkan respons, sehingga mereka menekan kebutuhan emosional mereka.

Dalam hubungan

Tipe ini sering kesulitan untuk berkomitmen atau merasa tertekan saat hubungan menjadi terlalu intens. Mereka bisa terlihat dingin, tertutup, atau tidak peduli, padahal sebenarnya mereka menyembunyikan ketakutan akan kedekatan emosional.

Kelebihan

  • Mandiri dan tidak menuntut
  • Tidak mudah terguncang dalam konflik
  • Rasional dan logis

Tantangan

  • Perlu belajar untuk membuka diri secara emosional
  • Butuh menyadari bahwa keintiman bukan kelemahan
  1. Disorganized Attachment (Keterikatan Tidak Teratur)

Karakteristik

Tipe ini merupakan gabungan dari anxious dan avoidant. Orang dengan disorganized attachment mengalami konflik internal antara ingin dekat dengan orang lain dan takut terhadap keintiman. Mereka bisa sangat ingin dicintai, namun juga takut tersakiti.

Mereka sering menunjukkan perilaku yang tidak konsisten—kadang sangat dekat, lalu tiba-tiba menjauh. Emosi mereka tidak stabil dan sulit ditebak.

Penyebab

Seringkali muncul dari latar belakang trauma, kekerasan, atau lingkungan pengasuhan yang sangat tidak aman. Anak-anak yang dibesarkan dalam ketakutan atau kebingungan karena pengasuh yang menyakiti atau tidak bisa ditebak, cenderung mengembangkan tipe ini.

Dalam hubungan

Tipe ini bisa sangat sulit membangun hubungan jangka panjang. Mereka takut ditinggalkan tapi juga takut terlalu dekat. Akibatnya, mereka bisa bersikap sabotase terhadap hubungan yang sebenarnya sehat.

Kelebihan

  • Peka terhadap dinamika relasi
  • Mampu berempati tinggi bila sudah pulih

Tantangan

  • Membutuhkan dukungan profesional untuk menyembuhkan luka masa lalu
  • Perlu waktu lebih panjang untuk membangun kepercayaan
Attachment style
(Gambar : simplypsychology.org)

Baca juga : Apa Arti Rumah Buatmu? Konstruksional atau Emosional?

Bagaimana Cara Mengenali Attachment Style Anda?

Mengetahui attachment style bisa dilakukan dengan refleksi diri terhadap pola hubungan masa lalu. Pertanyaan berikut bisa membantu.

  • Apakah saya nyaman dengan keintiman emosional?
  • Seringkah saya merasa cemas jika pasangan tidak membalas pesan dengan cepat?
  • Apakah saya cenderung menutup diri saat mengalami konflik?
  • Apakah saya merasa takut untuk ditinggalkan, atau justru takut terlalu dekat?

Selain itu, tes attachment style dari sumber psikologi terpercaya juga bisa menjadi alat bantu. Namun, hasil tersebut sebaiknya digunakan sebagai refleksi, bukan label tetap.

Attachment Style Bisa Berubah

Kabar baiknya, attachment style bukan takdir. Meskipun terbentuk sejak kecil, pola keterikatan ini bisa berubah seiring waktu, terutama jika seseorang menjalani hubungan yang aman dan penuh dukungan atau melalui proses terapi.

Ini disebut sebagai earned secure attachment, kondisi di mana seseorang dengan attachment tidak aman berhasil mengembangkan gaya keterikatan yang lebih sehat.

Dengan kesadaran, refleksi diri, komunikasi terbuka, dan terkadang bantuan profesional, seseorang bisa menciptakan pola relasi yang lebih sehat dan membangun hubungan yang lebih memuaskan.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *