Jatengkita.id – Belakangan ini di Indonesia muncul kehebohan di media sosial mengenai kasus seorang ibu yang disebut-sebut mengalami “rahim copot” usai melahirkan dengan bantuan seorang dukun beranak.
Cerita ini bermula dari pengakuan dr. Gia Pratama dalam sebuah podcast bersama Raditya Dika. Saat bertugas di IGD rumah sakit, seorang pasien wanita datang dengan kondisi kritis dan kantong kresek hitam yang berisi organ rahim. Pasien dikatakan baru saja melahirkan secara tradisional oleh dukun beranak.
Menurut ceritanya, setelah bayi lahir, dukun beranak menarik tali pusat terlalu cepat padahal plasenta dan rahim belum siap untuk dilepaskan secara alami. Hasilnya, rahim ikut “tercabut” keluar tubuh, menyebabkan perdarahan hebat dan kondisi darurat.
Kisah ini segera menyebar luas di media sosial, memunculkan kecemasan besar terutama di kalangan perempuan muda dan calon ibu. Banyak yang bertanya-tanya: seburuk itukah risiko melahirkan dengan bantuan dukun? Apakah benar rahim bisa “copot” begitu saja?
Namun para dokter kandungan dan ginekolog memberikan klarifikasi penting. Menurut sebagian besar ahli, istilah “rahim copot” sangat tidak tepat secara anatomi. Rahim manusia ditopang oleh ligamen dan jaringan penyangga yang sangat kuat. Organ ini tidak bisa “lepas” dengan mudah hanya karena ditarik.
Fenomena yang bisa terjadi dan kemungkinan mendekati deskripsi “copot” adalah kondisi langka bernama Inversio uteri atau “uterus terbalik”.
Pada kondisi ini, rahim terdorong ke bawah secara ekstrem, terkadang sampai keluar lewat vagina, ketika plasenta atau tali pusat menarik dengan paksa sebelum kontraksi rahim cukup kuat.
Inversio uteri adalah kondisi darurat obstetrik yang sangat jarang, diperkirakan terjadi hanya pada 1 dari 2.000–2.500 persalinan. Meski sangat langka, bila terjadi, bisa menyebabkan perdarahan berat dan mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.
Karena itulah, sejumlah dokter menekankan bahwa kisah “rahim copot” yang viral harus dibaca dengan kritis. Peristiwa ini jangan dimaknai sebagai demonisasi terhadap persalinan normal, tetapi sebagai pengingat bahwa proses persalinan harus dilakukan dengan tenaga profesional, protokol medis, dan pengetahuan yang benar.
Kenapa Persalinan di Tempat Dukun Bayi/Paraji Masih Jadi Pilihan dan Apa Risikonya?
Praktik persalinan oleh paraji (dukun beranak) atau dukun bayi di Indonesia masih marak, terutama di daerah pedesaan atau wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas.
Faktor budaya, kebiasaan turun-temurun, biaya, dan kepercayaan tradisional sering membuat keluarga memilih dukun daripada rumah sakit.

Namun, kasus viral ini menunjukkan sisi gelap dari persalinan non-medis. Ketika proses kritis seperti pelepasan plasenta dilakukan tanpa alat medis, tanpa protokol sterilisasi, tanpa tenaga medis terlatih, risiko komplikasi seperti perdarahan, infeksi, inversio uteri, prolaps, atau bahkan kematian bisa meningkat drastis.
Beberapa dokter menilai fenomena “rahim copot” sebagai cermin dari tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia akibat persalinan di tempat tidak aman.
Para tenaga medis mengingatkan bahwa kehamilan dan persalinan bukan sekadar urusan bayi lahir selamat, tetapi juga keselamatan ibu. Persiapan kehamilan, pemilihan fasilitas persalinan yang aman, pemeriksaan rutin, dan pendampingan medis profesional sangatlah penting.
Dampak pada Publik & Pentingnya Edukasi Reproduksi
Para dokter menyarankan agar ketakutan atas peristiwa “rahim copot” diimbangi dengan pemahaman ilmiah. Dengan persiapan baik, pemeriksaan kehamilan rutin, dan persalinan di fasilitas medis, risiko komplikasi jauh lebih kecil dibandingkan persalinan tradisional tanpa protokol.
Kasus ini juga membuka kembali diskusi tentang pentingnya edukasi kesehatan reproduksi, sejak masa remaja, hingga calon orang tua. Hal ini agar masyarakat memahami risiko dan memilih jalur persalinan yang aman.
Waspada, Hindari Menyebar Riset yang Salah, dan Pilih Persalinan Aman
Persalinan bukan urusan main-main. Meski ada penjelasan medis bahwa kondisi seperti inversio uteri bisa terjadi, itu sangat jarang. Kasus itu hanya dapat terjadi dalam situasi darurat dan bila ada tindakan medis yang keliru.
Melahirkan di tempat dukun tanpa protokol medis meningkatkan risiko komplikasi serius. Oleh karena itu, sangat penting bagi calon orang tua, terutama di daerah dengan tradisi dukun bayi, untuk mencari akses layanan kesehatan profesional. Perlu juga memahami potensi bahaya sebelum memutuskan tempat bersalin.
Terakhir! jangan biarkan cerita viral menebar ketakutan tanpa pengetahuan. Edukasi, informasi benar, dan akses ke layanan kesehatan aman adalah kunci agar setiap ibu dan bayi bisa melalui proses lahiran dengan selamat dan sehat.
Baca juga: Apakah Perempuan dengan Endometriosis Masih Bisa Hamil? Ini Penjelasannya






