11 Jajanan Pasar Tradisional Khas Jawa Tengah

11 Jajanan Pasar Tradisional Khas Jawa Tengah
Kue Moho (Gambar : Pinterest)

Jatengkita.id – Setiap kota dan kabupaten di Jawa Tengah memiliki ciri khas dan cita rasa yang autentik perihal jajanan pasar. Di tengah gempuran jajanan modern dan makanan cepat saji dari luar negeri, jajanan pasar tradisional Jawa Tengah tetap menjadi warisan kuliner yang patut dijaga dan dilestarikan.

Bagi pencinta kuliner, mengunjungi daerah-daerah di Jawa Tengah rasanya belum lengkap tanpa mencicipi ragam jajanan khasnya.

Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang 11 jajanan khas Jawa Tengah yang nikmat, mulai dari yang masih populer hingga yang mulai langka, lengkap dengan asal daerah masing-masing.

  • Kue Lumpang (Pekalongan)
(Gambar : regional.espos.id)

Kue lumpang merupakan jajanan tradisional yang berasal dari Kota Pekalongan. Kuliner ini sudah ada sejak sekitar tahun 1940-an dan dahulu dijajakan oleh pedagang keliling.

Kue lumpang memiliki bentuk menyerupai lesung kecil dan umumnya terbuat dari tepung beras yang dikukus, diberi warna alami, serta disajikan dengan parutan kelapa di atasnya.

Sayangnya, kue lumpang kini mulai terpinggirkan oleh camilan modern. Padahal, tekstur kenyal dan rasa manis gurihnya sangat menggoda. Di Pekalongan, kue ini dulunya menjadi sajian rutin pada acara keluarga atau hajatan.

  • Gethuk (Magelang)

Gethuk adalah makanan tradisional berbahan dasar singkong yang direbus, dihaluskan, dan dicampur dengan gula serta kelapa parut. Kuliner ini paling terkenal berasal dari Magelang, terutama jenis gethuk lindri yang memiliki bentuk memanjang dan warna-warni.

Penjual gethuk lindri biasanya memiliki ciri khas menggunakan pikulan atau gerobak kecil, dan gethuk disajikan dalam potongan kecil bersama parutan kelapa. Rasanya manis dan legit, cocok sebagai teman minum teh atau kopi.

  • Kue Lapis Pati Bodin (Jepara)
(Gambar : Sajian Sedap)

Kue lapis pati bodin berasal dari Jepara dan memiliki tampilan yang sangat menggoda karena warna yang cerah. Dibuat dari campuran tepung beras, tepung kanji, santan, dan air daun suji, kue ini dikukus berlapis-lapis hingga membentuk motif garis warna yang unik.

Kue lapis tidak hanya disukai karena rasanya yang manis dan teksturnya yang kenyal, tetapi juga karena tampilannya yang estetik. Masyarakat Jepara biasanya menyajikan kue ini saat Lebaran atau acara keluarga.

  •  Kue Mendut (Temanggung dan Semarang)

Kue mendut adalah salah satu kue tradisional yang masih banyak ditemukan di acara pernikahan, selamatan, atau hajatan di Temanggung dan Semarang. Mendut memiliki dua versi, versi bulat kecil mirip klepon dengan kuah santan dan versi persegi panjang yang dibungkus daun pisang seperti nagasari.

Terbuat dari tepung ketan dan santan, isiannya berupa unti kelapa yang dimasak dengan gula merah. Kelezatan kue mendut terletak pada perpaduan rasa gurih santan dan manisnya gula kelapa yang legit.

  • Bikang (Semarang)

Kue bikang berasal dari Semarang. Kue ini memiliki bentuk menyerupai bunga dengan bagian tengah yang mengembang dan bagian pinggir yang mengelupas, memberikan tekstur berserat yang unik.

Bikang dibuat dari tepung beras, santan, dan gula, lalu diberi pewarna makanan alami seperti daun suji atau rosella. Teksturnya lembut dan berserat dengan rasa manis yang pas di lidah. Biasanya dijual di pasar-pasar tradisional dan sangat cocok sebagai camilan sore.

  •  Klepon (Banyumas)

Klepon adalah salah satu jajanan paling ikonik dari Jawa Tengah, khususnya Banyumas. Terbuat dari tepung ketan yang dibentuk bola kecil dan diisi gula merah cair, klepon kemudian direbus hingga matang lalu digulingkan ke parutan kelapa.

Lelehan gula merah yang meledak di dalam mulut menjadikan klepon sangat digemari. Saat ini klepon mengalami berbagai inovasi, mulai dari warna, isi, hingga topping, seperti mengganti parutan kelapa dengan keju. Meski begitu, versi tradisional tetap yang paling digemari.

Lumpia Semarang sudah sangat populer di kancah nasional bahkan internasional. Berisi rebung (tunas bambu muda), wortel, dan kadang ayam atau udang, lumpia dibungkus dengan kulit tipis yang bisa digoreng atau disajikan basah.

Cita rasanya gurih dan sedikit manis, apalagi jika dicocol dengan saus kental khas Semarang atau cabai rawit. Lumpia menjadi ikon kuliner Semarang dan hampir selalu menjadi oleh-oleh wajib.

  • Putu Ayu (Kudus)

Putu ayu adalah kue yang tampak menggoda dengan warna hijau alami dari pandan dan taburan kelapa parut di bagian atasnya. Kue ini berasal dari Kudus dan sering disajikan pada acara resmi atau keagamaan.

Dibuat dari campuran tepung terigu, gula, telur, dan santan, putu ayu dikukus dalam cetakan kecil berbentuk bunga. Teksturnya lembut dan rasa manis-gurihnya membuatnya cocok untuk segala usia.

  • Sengkulun (Jepara)
jajanan pasar
(Gambar : Perpustakaan Digital Budaya Indonesia)

Sengkulun adalah jajanan basah dari Rembang yang memiliki tampilan mengilap dengan bagian atas berwarna-warni. Terbuat dari tepung ketan atau singkong, sengkulun memiliki tekstur kenyal dan rasa manis gurih berkat parutan kelapa.

Sayangnya, jajanan ini kini mulai langka dan sulit ditemukan di pasar-pasar modern. Padahal, rasa dan teksturnya sangat unik dan layak untuk dilestarikan.

  • Kue Moho (Surakarta)

Kue moho sekilas mirip bolu kukus, tapi teksturnya lebih padat dan mengenyangkan. Jajanan ini berasal dari Surakarta dan dibuat dari tepung terigu atau tepung beras yang dikukus hingga mengembang.

Warna-warna cerah pada moho membuatnya menarik secara visual. Biasanya kue ini disajikan dalam berbagai acara adat atau keluarga karena porsinya yang besar dan mengenyangkan.

  • Wajik (Beberapa daerah di Jawa Tengah)

Wajik adalah makanan manis yang terbuat dari beras ketan, gula merah, dan santan. Camilan ini biasanya berwarna coklat gelap atau kadang merah muda dan hijau.

Adonan ketan dimasak hingga kental, lalu dipotong berbentuk belah ketupat atau persegi panjang. Wajik kerap hadir di acara-acara penting seperti pernikahan dan tasyakuran sebagai simbol kemanisan dalam kehidupan.

Jajanan khas Jawa Tengah bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah bagian dari sejarah, budaya, dan identitas masyarakat setempat. Setiap gigitan bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang tradisi, cerita masa lalu, dan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.

Follow akun YouTube Jateng Kita untukkonten menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *