Jatengkita.id – Di tengah pesatnya perkembangan kuliner Indonesia yang semakin modern dan beragam, keberadaan makanan tradisional seperti tempe gembus menjadi hal yang penting untuk terus dijaga dan dilestarikan.
Gembus merupakan salah satu makanan khas yang berasal dari daerah Jawa Tengah, khususnya dikenal di Solo dan sekitarnya. Makanan ini terbuat dari ampas tahu, bahan limbah yang diolah sedemikian rupa hingga menjadi makanan lezat dan bergizi.
Ampas tahu tersebut merupakan sisa padat yang didapat setelah susu kedelai disaring untuk membuat tahu. Ampas tahu ini kemudian dicampur dengan tepung terigu, bumbu-bumbu, dan terkadang tambahan sayuran atau rempah. Kemudian, dibentuk bulat atau pipih dan digoreng hingga matang.
Proses penggorengan menghasilkan tekstur gembus yang unik, renyah di luar dan lembut di dalam, dengan rasa gurih alami dari kedelai. Di Banyumas, tempe ini juga dikenal dengan nama tèmpé gajês; sedangkan di Surabaya dan sekitarnya, sebutannya adalah tèmpé mènjés.
Selain rasanya yang enak, gembus juga mengandung protein nabati yang cukup tinggi karena berasal dari kedelai. Ini membuat gembus menjadi pilihan makanan sehat, terutama bagi mereka yang menghindari protein hewani.
Kandungan serat dari tepung dan bumbu tambahan juga menambah nilai gizi gembus. Meskipun tempe gembus berasal dari hasil sampingan proses pembuatan makanan, tempe ini tetap mengandung nutrisi yang cukup.
Namun, jika dibandingkan dengan tempe kedelai, tempe gembus memiliki kandungan protein dan lemak yang lebih rendah. Nilai energinya hanya sekitar setengah dari tempe kedelai, tetapi justru mengandung serat makanan dalam jumlah lebih banyak.
Tempe gembus juga mengandung berbagai jenis asam amino yang serupa dengan yang ditemukan pada tempe kedelai, meskipun kadarnya jauh lebih sedikit. Selain itu, tempe gembus kaya akan asam lemak esensial seperti asam linoleat (21,51%), asam oleat tak jenuh (16,72%), dan asam linolenat (1,82%).
Tempe ini juga mengandung senyawa isoflavon, khususnya daidzein dan genistein, dengan kadar tertinggi ditemukan pada tempe gembus setelah fermentasi selama tiga hari, yakni masing-masing sebesar 9,868 µg/g dan 3,480 µg/g.
Proses fermentasi tempe memang tidak banyak mengubah nilai gizi dari ampas tahu. Namun, fermentasi ini berhasil mengubah tekstur dan rasa ampas tahu yang sebelumnya kurang menarik dan kurang enak, sehingga menjadi lebih lezat dan mudah diterima sebagai makanan.

Dari sisi ekonomi, gembus memberikan peluang usaha bagi banyak pengrajin dan pedagang kecil di daerah asalnya. Pembuatan gembus yang sederhana namun memerlukan keterampilan membuat makanan ini bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan, sekaligus menjaga tradisi lokal.
Seiring perkembangan zaman, gembus mulai mengalami berbagai inovasi agar dapat menarik minat konsumen yang lebih luas. Beberapa varian gembus kini diberi bumbu pedas, taburan keju, atau disajikan dengan berbagai jenis sambal dan saus modern.
Bahkan, gembus kini sudah mulai muncul di beberapa restoran dan kafe yang mengusung konsep makanan tradisional dengan sentuhan kekinian. Pemasaran gembus juga semakin berkembang dengan hadirnya media sosial dan layanan pesan antar makanan.
Perkembangan tersebut membuat gembus bisa dikenal dan dinikmati oleh generasi muda dan masyarakat di luar daerah asalnya.
Baca juga : 8 Kabupaten di Jawa Tengah dengan Biaya Hidup Termurah
Gembus lebih dari sekadar makanan tradisional biasa. Ia adalah wujud kreativitas dan ketangguhan masyarakat dalam mengolah sumber daya yang ada menjadi makanan bergizi dan lezat.
Dengan terus mengenalkan dan mengembangkan gembus, kita turut melestarikan kekayaan budaya kuliner Indonesia sekaligus memberikan pilihan makanan sehat yang ramah lingkungan.
Bagi Anda yang penasaran dan ingin merasakan cita rasa autentik makanan tradisional ini, cobalah mencari gembus di pasar tradisional, warung, atau restoran khas Jawa. Gembus siap menjadi teman santap yang nikmat dan membawa Anda menyelami sejarah dan budaya Nusantara.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






