Mengenal Umbi Jawa yang Tak Semuanya Asli Nusantara

Mengenal Umbi Jawa yang Tak Semuanya Asli Nusantara
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Jauh sebelum pilihan pangan semakin beragam seperti sekarang, masyarakat telah mengenal berbagai jenis umbi sebagai sumber karbohidrat.

Menariknya, tidak semua umbi yang kini dianggap sebagai pangan lokal Jawa berasal dari Indonesia.

Kimpul, misalnya, memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium dan secara botani berasal dari kawasan tropis Amerika, dengan sebaran asli dari Kosta Rika hingga Amerika Selatan bagian tropis.

Tanaman ini kemudian diperkenalkan ke berbagai wilayah tropis, termasuk Asia Tenggara. Fakta tersebut menunjukkan bahwa istilah “pangan lokal” tidak selalu berarti tanaman yang sejak awal berasal dari suatu daerah.

Sebuah tanaman bisa menjadi bagian dari budaya pangan lokal setelah dibudidayakan, diolah, dan dikonsumsi secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

  • Mengenal Ragam Umbi Pangan di Jawa

Ilustrasi yang dipublikasikan Wikimedia Indonesia menampilkan beragam umbi yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Di dalamnya terdapat kimpul, bentul, suweg, porang, kenthang, ganyong, gembili, gembolo, pohung, garut, uwi, gadung, besusu, tela rambat, kleci, dan senthe.

Sebagian di antaranya sudah sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Pohung atau singkong, misalnya, memiliki nama ilmiah Manihot esculenta, sedangkan tela rambat atau ubi jalar dikenal sebagai Ipomoea batatas.

Kenthang atau kentang merupakan Solanum tuberosum. Ketiganya kini jauh lebih mudah ditemukan dibandingkan sejumlah umbi yang mulai jarang dikonsumsi.

Kelompok lain memiliki hubungan erat dengan tradisi pangan pedesaan. Gembili (Dioscorea esculenta), gembolo (Dioscorea bulbifera), uwi (Dioscorea alata), dan gadung (Dioscorea hispida) termasuk kelompok yang masih ditemukan dalam berbagai catatan mengenai pemanfaatan tumbuhan pangan di Jawa.

Penelitian tentang tumbuhan pangan liar di Pacitan, misalnya, mencatat uwi, gadung, talas mbothe atau kimpul, serta garut sebagai tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat.

Sementara itu, suweg (Amorphophallus paeoniifolius) dan porang (Amorphophallus muelleri) sama-sama termasuk keluarga Araceae. Suweg memiliki potensi sebagai bahan pangan dan dapat dikembangkan menjadi tepung maupun pati.

Porang lebih dikenal luas dalam pengembangan bahan pangan dan industri karena kandungan glukomanannya.

(Gambar: Pinterest)
  • Kimpul dan Bentul, Sama-Sama Talas tetapi Berbeda

Kimpul sering disamakan begitu saja dengan talas karena bentuk dan pemanfaatannya serupa. Padahal, secara botani keduanya berbeda. Kimpul merupakan Xanthosoma sagittifolium, sedangkan talas yang umum dikenal sebagai talas adalah Colocasia esculenta.

Dalam penelitian mengenai tumbuhan pangan di Indonesia, kimpul bahkan disebut sebagai salah satu jenis tumbuhan yang telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan bersama talas, porang, dan suweg.

Kimpul dapat dikonsumsi setelah melalui pengolahan yang tepat. Umbinya secara tradisional dapat direbus atau dikukus. Pengembangannya juga tidak berhenti pada olahan sederhana.

Penelitian IPB menunjukkan bahwa kimpul dapat dikembangkan menjadi produk seperti keripik sebagai bagian dari diversifikasi pangan.

Hal ini memperlihatkan bahwa umbi yang selama ini dianggap sebagai pangan sederhana sebenarnya mempunyai peluang untuk masuk ke produk pangan modern.

  • Dari Pangan Harian hingga Cadangan Pangan

Keberadaan berbagai jenis umbi tidak hanya berkaitan dengan makanan tradisional. Umbi juga memiliki posisi penting dalam diversifikasi pangan karena sebagian besar dapat menjadi sumber karbohidrat.

Garut (Maranta arundinacea), misalnya, dikenal sebagai bahan baku pati atau tepung. Ganyong juga banyak dibicarakan sebagai sumber pati. Sementara uwi dan gembili memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi tepung maupun bahan olahan lainnya.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa umbi-umbian lokal mengandung pati dan komponen lain yang membuatnya berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif.

Namun, tidak semua umbi dapat dimakan secara langsung. Gadung menjadi salah satu contohnya.

Umbi ini perlu melalui proses pengolahan tertentu sebelum dikonsumsi karena mengandung senyawa yang dapat menyebabkan gangguan apabila tidak diolah dengan benar. Karena itu, pengetahuan pengolahan menjadi bagian penting dari tradisi pangan masyarakat.

  • Mengapa Umbi Lokal Perlu Dikenalkan Kembali?

Sejumlah jenis umbi kini tidak lagi menjadi makanan sehari-hari. Pemerintah melalui lembaga pertanian juga mencatat bahwa ganyong, gembili, gadung, gembolo, suweg, uwi, kimpul dan sejumlah tanaman pangan lainnya masih banyak dibudidayakan secara sambilan, bahkan sebagian belum dimanfaatkan secara optimal.

Padahal, keberagaman tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat diversifikasi pangan. Umbi dapat diolah menjadi makanan tradisional, tepung, keripik, kue, hingga produk pangan yang lebih modern.

Kimpul menjadi salah satu contoh menarik. Meski bukan tanaman asli Indonesia, keberadaannya telah masuk dalam khazanah pangan masyarakat dan tercatat sebagai salah satu sumber pangan yang dimanfaatkan di Indonesia.

Dalam konteks seperti ini, yang penting bukan hanya dari mana sebuah tanaman berasal, tetapi bagaimana masyarakat mengadopsi, membudidayakan, mengolah, dan mewariskan pengetahuan tentangnya.

Ragam umbi di Jawa akhirnya tidak sekadar menunjukkan banyaknya pilihan sumber karbohidrat. Keberagaman itulah yang membuat pangan lokal Jawa memiliki cerita yang jauh lebih luas daripada sekadar pengganti nasi.

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah

Exit mobile version