Mengupas Nilai Gizi Nasi Tiwul, Pernah Jadi Makanan Pokok

Mengupas Nilai Gizi Nasi Tiwul, Pernah Jadi Makanan Pokok
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Indonesia memang tak pernah kehabisan cerita soal kuliner. Dari ujung barat hingga timur, selalu ada makanan khas yang punya rasa unik sekaligus kisah menarik di baliknya. Salah satunya adalah nasi tiwul.

Sekilas tampak sederhana, namun siapa sangka hidangan tradisional ini menyimpan jejak budaya dan manfaat kesehatan yang sayang jika dilewatkan. Yuk, kita kenali lebih dekat nasi tiwul, mulai dari sejarahnya, cara pembuatannya, sampai nilai gizi makanan khas ini. 

Apa itu Nasi Tiwul?

Nasi tiwul merupakan salah satu warisan kuliner tradisional Indonesia yang bahan dasarnya bukan dari beras, melainkan singkong. Singkong yang sudah dikeringkan kemudian diolah hingga menjadi tepung tiwul, lalu dimasak menyerupai nasi.

Proses sederhana namun khas ini menjadikan nasi tiwul sebagai alternatif pengganti nasi putih yang biasa kita santap sehari-hari.

Dahulu, nasi tiwul lekat dengan cerita perjuangan masyarakat pedesaan yang sulit memperoleh beras, sehingga hidangan ini dikenal sebagai makanan rakyat sederhana.

Kini, citra tiwul justru semakin naik daun. Banyak orang kembali meliriknya, bukan hanya karena rasa uniknya, tapi juga karena kandungan seratnya yang tinggi serta dianggap lebih menyehatkan.

Tiwul banyak dikenal di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sejak jaman masa penjajahan Jepang, makanan ini sudah populer dan bahkan menjadi makanan pokok karena harga beras yang mahal.

nasi tiwul
Tekstur nasi tiwul (Gambar: Pinterest)

Keunikan Proses Pembuatan Nasi Tiwul 

Salah satu daya tarik nasi tiwul ada pada proses pembuatannya yang unik dan penuh sentuhan tradisi. Bahan utamanya adalah singkong kering atau gaplek, yang kemudian ditumbuk hingga menjadi tepung halus.

Tepung ini lalu dicampur dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk, hingga terbentuk butiran kecil yang kenyal dan tidak terlalu basah.

Butiran tepung tiwul tersebut kemudian dikukus dalam dandang yang biasanya dialasi daun pisang, sehingga aroma khasnya semakin terasa. Proses pengukusan ini membutuhkan waktu sekitar 25 hingga 40 menit, sampai tiwul matang dengan tekstur pulen, tidak keras, dan tetap terasa ringan di mulut.

Rahasia kelezatan tiwul sebenarnya ada pada tahap pencampuran air. Jika takaran air berlebihan, tiwul bisa lembek; sebaliknya jika terlalu sedikit, hasilnya kasar dan kurang nikmat.

Di sinilah kelihaian tangan tradisional sangat menentukan, menjadikan tiwul bukan sekadar makanan, melainkan juga karya yang lahir dari kesabaran dan pengalaman.

Baca juga: Bikin Nagih! Kuliner Wonogiri yang Menggugah Selera

Manfaat dan Nilai Gizi Nasi Tiwul

Nasi tiwul bukan sekadar pengganti nasi biasa. Karena berbahan dasar singkong, tiwul menyimpan banyak manfaat, mulai dari sumber energi yang berasal dari karbohidrat kompleks hingga kelebihannya yang bebas gluten, sehingga aman bagi mereka yang sensitif terhadap gluten.

Tak hanya itu, singkong juga kaya serat yang membantu menjaga kesehatan pencernaan. Dengan kandungan gizi tersebut, tiwul bisa menjadi pilihan makanan pokok yang lebih sehat sekaligus memberi variasi baru di meja makan.

Meski begitu, sama seperti makanan lainnya, menikmatinya tetap perlu dalam porsi yang seimbang agar manfaatnya terasa maksimal bagi tubuh.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *