Jatengkita.id – Stadion toko buku Semarang merupakan kawasan lawas yang berjejer di Stadion Diponegoro Semarang. Deretan kios ini pernah menjadi salah satu pelataran ikonik dan titik literasi paling hidup di ibu kota Jawa Tengah.
Bukan sekadar deretan lapak yang menjajakan buku bekas, stadion ini juga menjadi ruang nostalgia yang menyimpan kenangan banyak orang, terutama dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga para kolektor buku jadul.
Menyusuri Jalan Stadion Timur di Kelurahan Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah, dulunya mata kita akan dimanjakan dengan deretan kios yang selalu ramai oleh pengunjung. Mereka berburu buku bacaan murah dan buku bekas yang masih berkualitas layak baca.
Namun kini, pemandangan itu berubah drastis. Lapak-lapak yang dulu sesak oleh pembeli perlahan meredup, tergeser perkembangan zaman. Banyak bermunculan kafe-kafe modern yang lebih diminati generasi muda.
Hanya beberapa pelanggan setia yang masih rutin datang mencari buku baru maupun buku lawas yang sulit ditemukan di tempat lain. Atau beberapa karena alasan hanya untuk bernostalgia.
Padahal, kawasan ini sejak dulu menjadi pusat literasi. Banyak kios-kios yang menjajakan buku murah ataupun bekas secara turun-temurun. Harganya terjangkau, bisa ditawar, serta aksesnya juga strategis.
Bagi sebagian orang, datang ke kios-kios ini seperti membuka kembali album kenangan. Tata letaknya hampir tidak berubah, aroma khas buku bekasnya masih sama, dan adanya kesempatan tawar-menawar harga yang jarang ditemukan di toko buku modern masih menjadi daya tarik tersendiri.

Banyak pula yang mengenang masa-masa ketika kios buku lawas ini menjadi tujuan utama membeli buku paket sekolah, terutama saat musim kenaikan kelas. Sampai awal 2010-an, kawasan ini selalu penuh oleh siswa-siswi yang mencari kebutuhan belajar.
Sayangnya, para pedagang kini menghadapi realitas sulit. Perkembangan teknologi dan mudahnya akses hiburan digital membuat minat baca menurun. Salah satu pemilik kios bahkan mengaku omzetnya turun hingga 80 persen dibanding era tahun 2000-an.
Dulu, sebelum gawai dan internet merajai keseharian, buku adalah hiburan favorit anak-anak. Mereka berburu komik, cerita bergambar, hingga novel remaja. Kini, hiburan hanya sejauh satu klik di YouTube atau media sosial.
Program pemerintah seperti “Bulan Literasi” yang dulu rutin mendatangkan rombongan pelajar kini tidak lagi berjalan. Hilangnya program ini turut mengurangi kunjungan dan pendapatan pedagang buku.
Meski demikian, masih ada harapan. Banyak yang berharap pemerintah lebih memberi perhatian dan mulai untuk melakukan penertiban buku bajakan, mendukung jual-beli buku bekas yang sehat, hingga mempromosikan kawasan ini sebagai destinasi literasi kota.
Komunitas baca, even tematik, hingga festival buku bisa menjadi langkah untuk menghidupkan kembali denyut kawasan ini.
Dulu, stadion toko buku Semarang adalah tempat berburu ilmu sekaligus ruang nostalgia. Kini, para pedagang yang tersisa terus berjuang agar kawasan ini tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi kembali berdiri sebagai ruang literasi yang relevan di tengah perubahan zaman.
Baca juga: Bibliofilia? Check It Out! Cara Merawat Buku Agar Tahan Lama
