Jatengkita.id – Sejarah penggunaan huruf Arab Pegon tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Islam di Nusantara. Aksara ini menjadi salah satu bentuk pertemuan antara tradisi tulis Arab dengan bahasa dan kebudayaan lokal.
Berbeda dengan bahasa Arab, Pegon menggunakan huruf hijaiyah untuk menuliskan bahasa daerah, seperti Jawa, Sunda, Madura, Melayu, hingga bahasa Indonesia. Karena itu, meskipun bentuk hurufnya menyerupai tulisan Arab, bahasa yang dituliskan belum tentu bahasa Arab.
Sejarah Munculnya Arab Pegon
Kemunculan Arab Pegon diperkirakan berkaitan erat dengan perkembangan dakwah Islam di Jawa sekitar abad ke-15.
Salah satu pendapat yang cukup banyak disebut dalam tradisi pesantren adalah aksara ini mulai diperkenalkan oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel di Pesantren Ampel Denta, Surabaya.
Sejumlah kajian juga mencatat adanya pendapat yang mengaitkan awal penggunaan Pegon dengan lingkungan Wali Songo pada masa tersebut.
Meski begitu, sejarah penciptaan Pegon tidak memiliki satu versi yang benar-benar disepakati. Ada pendapat yang menyebut Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai tokoh yang turut menggagas atau mengembangkan penggunaannya.
Sementara itu, Syekh Nawawi Al-Bantani juga kerap disebut dalam sejarah perkembangan Pegon, terutama karena kiprahnya dalam tradisi keilmuan pesantren pada abad ke-19.
Karena itu, lebih tepat melihat sejarah Pegon sebagai proses perkembangan yang berlangsung secara bertahap, bukan sebagai karya satu orang dalam satu waktu.
Makna Pegon
Di lingkungan masyarakat Jawa, istilah Pegon diyakini berasal dari kata pego. Istilah tersebut merujuk pada sesuatu yang dianggap tidak lazim atau menyimpang dari kebiasaan.
Dalam konteks aksara, penyebutan ini berkaitan dengan penggunaan huruf Arab untuk menuliskan bahasa Jawa, yang sebelumnya memiliki sistem aksara sendiri.
Kajian paleografi juga mencatat bahwa istilah Pegon berkaitan dengan anggapan bahwa bahasa Jawa yang ditulis menggunakan huruf Arab terlihat tidak lazim ketika dibaca.
Penggunaan Arab Pegon di Pesantren
Di pesantren, Pegon kemudian memiliki fungsi yang sangat praktis. Aksara ini digunakan untuk memberikan makna atau terjemahan pada kitab-kitab berbahasa Arab, terutama kitab kuning.
Dalam metode pembelajaran bandongan, kiai atau guru membaca dan menjelaskan isi kitab, sementara para santri mencatat makna kata atau keterangan penting menggunakan tulisan Pegon di sela-sela teks Arab. Dari sinilah Pegon menjadi bagian penting dari tradisi intelektual pesantren.
Baca juga: Menelusuri Islamisasi Jawa, dari Majapahit ke Mataram
Penggunaan huruf Arab untuk bahasa lokal juga memiliki alasan yang cukup kuat pada masa awal perkembangannya. Ketika Islam mulai menyebar luas di Nusantara, masyarakat tidak serta-merta menguasai bahasa Arab.
Para pendakwah membutuhkan cara untuk menjelaskan ajaran agama menggunakan bahasa yang sudah akrab bagi masyarakat. Pegon menjadi salah satu jembatan antara bahasa keagamaan yang menggunakan aksara Arab dengan bahasa sehari-hari masyarakat setempat.

Dalam konteks dakwah Sunan Ampel, penggunaan Pegon sering dipahami sebagai bagian dari pendekatan budaya tersebut. Ajaran Islam dapat disampaikan menggunakan bahasa Jawa, tetapi tetap ditulis dengan huruf yang memiliki kedekatan dengan tradisi literasi Islam.
Dengan cara itu, masyarakat tidak harus terlebih dahulu menguasai bahasa Arab untuk memahami pesan keagamaan yang disampaikan. Tradisi ini kemudian berkembang di lingkungan pesantren dan menyebar ke berbagai wilayah Nusantara.
Perkembangan dan Variasi Arab Pegon
Dari Jawa, penggunaan Pegon berkembang dengan bentuk dan kebiasaan yang tidak selalu sama. Di daerah lain, huruf Arab tersebut digunakan untuk menuliskan bahasa setempat sesuai dengan bunyi yang terdapat dalam bahasa masing-masing.
Karena itu, muncul variasi Pegon untuk bahasa Jawa, Sunda, Madura, Melayu, dan sejumlah bahasa lokal lainnya. Penyebarannya juga berlangsung melalui jaringan ulama, pesantren, dan murid yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain.
Penggunaan untuk Berbagai Kebutuhan
Seiring berjalannya waktu, fungsi Pegon tidak hanya terbatas pada pembelajaran agama. Aksara ini juga digunakan dalam berbagai naskah, surat, dan karya sastra. Bahkan sejak sekitar abad ke-16, aksara Arab digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu dalam berbagai keperluan.
Sebut saja naskah keagamaan, surat, serta dokumen tertentu. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan aksara berbasis Arab pernah menjadi bagian penting dari budaya literasi masyarakat Nusantara.
Baca juga: Ma’ruf Islamuddin Sragen, Berdakwah dengan Syair
Perkembangan Pegon kemudian semakin kuat melalui dunia pesantren. Para ulama dan santri menggunakannya untuk menulis penjelasan, menerjemahkan kitab, mencatat pelajaran, hingga menyusun karya keagamaan.
Di sejumlah daerah, tradisi ini bertahan selama berabad-abad. Syekh Nawawi Al-Bantani, misalnya, dikenal sebagai ulama besar asal Banten yang memiliki pengaruh luas dalam tradisi keilmuan Islam dan literasi pesantren.
Sejumlah sumber menyebut Pegon di Banten berkembang dan digunakan untuk mentransfer pengetahuan di lingkungan pesantren.
Tradisi Literasi yang Bertahan
Keberadaan Pegon pada akhirnya menunjukkan bahwa proses Islamisasi di Nusantara tidak selalu berlangsung dengan menghapus kebudayaan yang sudah ada.
Sebaliknya, terjadi proses penyesuaian antara ajaran Islam dengan bahasa, tradisi, dan cara berkomunikasi masyarakat setempat.
Huruf Arab tetap dipertahankan, sementara bahasa lokal digunakan sebagai media untuk menyampaikan gagasan. Dari proses akulturasi inilah lahir tradisi literasi yang khas dan bertahan hingga sekarang.
Kini, Arab Pegon masih dapat ditemui di berbagai pesantren, terutama pesantren yang mempertahankan tradisi pembelajaran kitab kuning. Bagi sebagian santri, membaca dan menulis Pegon bukan sekadar keterampilan membaca aksara.
Keterampilan ini juga bagian dari cara memahami warisan intelektual ulama terdahulu. Di tengah dominasi huruf Latin dalam kehidupan sehari-hari, keberadaan Pegon menjadi pengingat bahwa Nusantara memiliki sejarah literasi yang panjang.
Hal ini sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat dahulu menemukan cara untuk menyampaikan ilmu agama dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka.





