Fenomena Fatherless: Bagaimana Emosi Ayah Menghilang di Rumah

Fenomena Fatherless: Bagaimana Emosi Ayah Menghilang di Rumah
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Kehadiran seorang ayah di rumah sering digambarkan sebagai pemimpin, sosok yang menjadi “atap” pelindung bagi keluarganya. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kehadiran ayah sering tampak hanya pada momen tertentu. Kini, kita mengenalnya dengan fenomena fatherless.

Kondisi ini bukan karena ia tidak peduli, tapi karena ia berjuang di luar rumah, berbeda dengan ibu yang biasanya lebih banyak berada di rumah. Karena hal itu, ayah kerap distigma sebagai sosok yang keras, cuek, atau tidak hadir secara emosional.

Padahal sebenarnya tidak begitu. Kehadirannya mungkin tidak selalu terlihat, tapi dampaknya sangat terasa bagi keluarga.

Masakan yang kamu makan mungkin dibuat oleh ibu. Tapi sering kita lupa bahwa bahan-bahan mentahnya dibeli dari uang hasil kerja ayah. Karena ayah lebih sering tidak di rumah, keberadaannya kerap dianggap “tidak ada”, seolah tidak hadir, padahal ia sedang sibuk mencari nafkah.

Fenomena fatherless, yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan, tidak selalu berarti ayah tidak bertanggung jawab. Banyak ayah yang sudah jungkir-balik mencari penghidupan yang layak, namun tetap dianggap tidak hadir hanya karena fisiknya jarang terlihat atau emosinya tidak selalu tersampaikan.

Pertanyaannya, apakah adil kalau begitu?

Baca juga: Menelusuri Peran Ayah dalam Keluarga Modern

Fatherless adalah fenomena sosial yang sebenarnya perlu kita telaah ulang, baik sebagai anak, ibu, maupun ayah itu sendiri. Rumah tangga dibangun atas kesepakatan bersama. Setiap anggota keluarga punya peran yang sama pentingnya.

Ayah memang bertugas mencari nafkah dan memimpin keluarga. Tetapi dalam beberapa situasi, ayah juga perlu ikut terlibat dalam pengasuhan. Bagaimana pembagian perannya? Itu kembali pada kesepakatan keluarga.

Ibu juga berperan penting untuk mengingatkan bahwa kehadiran ayah di hati anak-anak adalah prioritas, meski ayah tidak selalu ada secara fisik.

fenomena fatherless
Seorang anak yang snegaja mencoret gambar ayahnya karena tidak merasakan kehadiran sosok ayah (Gambar: istockphoto.com)

Ibu dapat membantu membangun pemahaman bahwa alasan ayah tidak selalu di rumah bukan karena tidak sayang, melainkan karena sedang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.

Di sisi lain, anak juga perlu memahami bahwa ketidakhadiran ayah dalam momen-momen kecil bukan berarti ia tidak disayangi. Justru komunikasi yang baik antara ayah, ibu, dan anak adalah kunci agar semua peran terasa seimbang.

Jika sebuah keluarga masih tinggal bersama ayah, ibu, dan anak berada di lingkungan yang sama namun sang anak tetap merasa “fatherless”, maka perlu ditinjau kembali bagaimana komunikasi dalam keluarga berjalan.

Sudah sejauh apa kesepakatan peran dibangun? Apakah semua anggota keluarga memahami bahwa peran mereka saling melengkapi?

Dengan adanya kesadaran, ilmu, dan komunikasi yang lebih baik di antara setiap anggota keluarga, harapannya fenomena fatherless dapat berkurang.

Karena pada akhirnya, keluarga yang solid bukan hanya tentang siapa yang hadir secara fisik. Tetapi juga bagaimana mereka saling memahami dan bekerja sama.

Untuk mengurangi rasa “ketidakhadiran” ayah di rumah, keluarga sebenarnya bisa mulai dari hal-hal sederhana yang sifatnya konsisten. Misalnya, membuat ritual kecil yang jadi momen khusus ayah dan anak.

Entah itu sarapan bersama setiap Sabtu, menemani mengerjakan PR 10 menit sebelum tidur, atau sekadar ngobrol santai di teras setelah pulang kerja. Rutinitas kecil yang dilakukan berulang justru punya dampak emosional yang jauh lebih besar daripada momen besar yang jarang terjadi.

Ibu juga bisa berperan sebagai jembatan komunikasi. Berilah ruang bagi ayah untuk ikut terlibat, bukan mengoreksi atau menilai kemampuan ayah dalam mengurus anak. Dengan begitu, ayah merasa dihargai dan hubungan antar-anggota keluarga jadi lebih solid.

Selain itu, keluarga juga perlu membangun pola komunikasi yang lebih jelas dan terbuka. Banyak ayah yang sebenarnya ingin dekat dengan anak, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana atau merasa tidak cukup mampu menunjukkan emosi.

Di sinilah pentingnya emotional literacy dalam sebuah keluarga. Ayah belajar mengekspresikan perhatian dengan cara yang nyaman untuk dirinya. Sementara ibu membantu mengomunikasikan kebutuhan anak, dan anak belajar memahami bahwa setiap orang punya cara berbeda dalam menunjukkan kasih sayang.

Ketika komunikasi berjalan dua arah seperti ini, jarak emosional dapat terjembatani dan kehadiran ayah terasa lebih utuh meski kesibukan tidak bisa sepenuhnya dihindari.

Baca juga: Hari Ayah Nasional: Sejarah dan Bagaimana Memaknai Perannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *