Purworejo, Jejak Sejarah Ibu Kota Sementara Jawa Tengah

Purworejo, Jejak Sejarah Ibu Kota Sementara Jawa Tengah
(Gambar : jejakkolonial.blogspot.com)

Jatengkita.id – Tak banyak yang tahu, tapi Purworejo pernah punya peran besar dalam sejarah Indonesia. Di balik pesonanya yang kini tenang dan bersahaja, siapa sangka daerah ini pernah jadi pusat pemerintahan Jawa Tengah?

Ya, sebelum Semarang dikenal sebagai ibu kota provinsi, Purworejo sempat dipercaya memegang kendali, tepatnya di masa-masa krusial usai proklamasi kemerdekaan, antara tahun 1945 hingga 1949. Sebuah bab penting yang terlupakan dari lembaran sejarah negeri ini. 

Asal Usul Nama dan Wilayah Purworejo 

Nama Purworejo yang kita kenal sekarang ternyata baru resmi dipakai pada 27 Februari 1831, saat seorang pemimpin bernama Raden Tumenggung Cokrojoyo yang saat itu menjabat sebagai Bupati Brengkelan mengubah nama wilayahnya menjadi Purworejo.

Tapi bukan asal ganti nama, lho. Ada makna mendalam dibaliknya. “Purwo” berarti awal, dan “rejo” artinya makmur. Jadi Purworejo adalah simbol harapan sebuah tempat di mana kemakmuran bermula. Sebuah makna yang mencerminkan visi besar sang Bupati untuk rakyatnya. 

Jauh sebelum bernama Purworejo, daerah ini dikenal dengan sebutan Tanah Bagelen, sebuah wilayah yang begitu disegani pada masanya. Bagelen bukan sekadar tempat. Di sinilah Sunan Geseng, seorang ulama besar, menyebarkan ajaran Islam ke Wilayah selatan Jawa.

Tak hanya itu, Bagelen juga dikenal sebagai markas pasukan tangguh andalan Kerajaan Mataram Islam saat Panembahan Senapati memimpin. Sebuah daerah kecil dengan peran besar dalam sejarah Jawa. 

Seputar Purworejo : Historical! Kompleks SMAN 7 Purworejo Jadi Cagar Budaya Nasional

Kecamatan Bruno, Purworejo
Kecamatan Bruno, Purworejo (Gambar : jateng.akurat.co)

Purworejo Sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah

Usai Indonesia merdeka, situasi belum sepenuhnya aman. Semarang yang seharusnya jadi ibu kota Jawa Tengah masih berada dalam cengkeraman Belanda. Di tengah kekacauan itu, Gubernur Jawa Tengah, KRT. Mr. Wongsonegoro, mengambil langkah berani.

Ia memindahkan pusat pemerintahan provinsi sementara ke Kecamatan Bruno, sebuah wilayah terpencil di Purworejo. Bukan tanpa alasan, Bruno dikelilingi hutan lebat dan pegunungan, menjadikannya tempat yang sulit dijangkau musuh.

Tempat ini sebagai markas darurat sekaligus tempat berlindung dari ancaman penjajah. Nama Bruno punya cerita menarik. Konon, berasal dari ungkapan Jawa “Di buru ora ono”  yang berarti diburu tidak ada. Nama tersebut menggambarkan betapa tersembunyinya kawasan ini.

Tak hanya itu, di masa genting setelah kemerdekaan, Desa Kembangan menjadi pusat pemerintahan darurat Jawa Tengah. Selama sekitar 100 hari, Gubernur Wongsonegoro menjalankan roda pemerintahan dari sebuah rumah sederhana milik warga bernama Dul Wahid.

Rumah itu, yang tampak biasa dari luar, sejatinya menyimpan kisah luar biasa menjadi saksi bisu perjuangan dan strategi di balik kelangsungan pemerintahan saat situasi negara belum stabil.

Kembalinya Ibu Kota ke Semarang

Setelah situasi politik perlahan membaik dan Belanda meninggalkan Semarang, roda pemerintahan pun kembali ke ibu kota semula. Pada tahun 1950 melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1950, Semarang kembali ditetapkan secara resmi sebagai Ibu kota Provinsi Jawa Tengah.

Momen ini menandai berakhirnya masa penting Purworejo sebagai pusat pemerintahan provinsi. Sebuah peran yang mungkin tak banyak dikenal, tapi punya makna besar dalam sejarah perjuangan bangsa.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *