Jatengkita.id – Jika kita melangkah di sepanjang jalan-jalan tua Kota Semarang, Magelang, atau Surakarta, mungkin kita tak sadar sedang melewati saksi bisu peradaban pendidikan masa kolonial. Ada beberapa bangunan yang ternyata merupakan sekolah jaman Belanda.
Gedung bergaya neoklasik dengan jendela tinggi dan atap lebar itu dahulu bukan sekadar bangunan megah, melainkan tempat dimana masa depan “calon-calon pegawai Hindia Belanda” ditempa.
Di sinilah, di balik aroma kapur tulis dan disiplin yang kaku, tersusun sistem pendidikan yang justru menjadi akar dari lahirnya kalangan intelektual pribumi.
- ELS dan HIS, Sekolah Dasar yang Beda Kelas
Pada awal abad ke-20, sistem pendidikan kolonial terbagi tegas menurut ras dan status sosial. Di Semarang, misalnya, berdiri Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar bagi anak-anak Eropa dan segelintir pribumi yang “diistimewakan”.
Pelajar ELS diajarkan bahasa Belanda, sejarah Eropa, geografi dunia, dan tata krama “barat”. Sekolah ini melahirkan mereka yang kelak mengisi jabatan administrasi tinggi atau melanjutkan studi ke negeri Belanda.
Namun, bagi pribumi kebanyakan, pintu ELS tertutup rapat. Sebagai gantinya, ada Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah untuk anak-anak bangsawan, priyayi, atau pegawai pemerintah lokal. Di HIS, bahasa Belanda tetap digunakan, tetapi materinya lebih sederhana.
HIS-lah yang kelak menjadi batu loncatan bagi tokoh-tokoh seperti Soetomo dan Ki Hajar Dewantara untuk memasuki dunia pendidikan modern.
Tak hanya itu, komunitas Tionghoa pun memiliki sekolah tersendiri, Hollandsch-Chineesche School (HCS), yang menjadi simbol mobilitas sosial bagi kalangan peranakan di kota-kota pesisir seperti Pekalongan dan Tegal.
- MULO dan HBS, Gerbang Menuju Dunia Birokrasi dan Ilmu Pengetahuan
Naik satu tingkat, kita mengenal MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setara sekolah menengah pertama. Di sini, siswa diajarkan ilmu pasti, bahasa asing, hingga ekonomi dasar. Dari MULO, mereka bisa melanjutkan ke HBS (Hogere Burgerschool), sekolah menengah atas yang prestisius.
HBS di Semarang dan Magelang terkenal karena mencetak lulusan cemerlang yang banyak menjadi pejabat, insinyur, dan intelektual.
HBS bukan sekadar tempat belajar, tapi juga ruang pertemuan gagasan. Para siswa pribumi mulai mengenal pemikiran modern dan nasionalisme lewat pergaulan di sekolah ini. Dari ruang-ruang kelas bercat putih dan koridor panjang yang sejuk, benih pergerakan kebangsaan pelan-pelan tumbuh.
- Kweekschool dan Normaalschool, Pabrik Guru Kolonial

Selain mencetak pegawai, pemerintah Belanda juga sadar pentingnya menyiapkan guru untuk mendidik pribumi. Maka berdirilah Kweekschool dan Normaalschool, sekolah keguruan yang tersebar di berbagai kota Jawa Tengah seperti Magelang dan Purworejo.
Di sinilah calon guru dilatih untuk mengajar sesuai metode Belanda yaitu tertib, rasional, dan terstruktur. Namun menariknya, dari sekolah-sekolah ini pula muncul guru-guru yang justru menjadi pelopor pendidikan nasional.
Mereka tidak sekadar mengajar membaca dan menulis, tapi juga menanamkan rasa harga diri sebagai bangsa. Para alumni Kweekschool banyak yang kemudian menjadi pendiri sekolah rakyat dan taman siswa setelah kemerdekaan.
- Technische School dan Ambachtsschool, Lahirnya Tukang-Tukang Terampil
Jawa Tengah masa kolonial juga menjadi pusat pendidikan teknik. Technische School dan Ambachtsschool berdiri di kota industri seperti Semarang dan Surakarta. Di sana, anak-anak muda diajarkan menggambar bangunan, memperbaiki mesin, hingga mengelas logam.
Lulusan sekolah ini banyak bekerja di perusahaan listrik, pelabuhan, dan perkeretaapian milik pemerintah kolonial.
Bagi banyak keluarga pribumi, sekolah teknik menjadi jalan realistis untuk memperbaiki nasib karena setelah lulus, mereka bisa bekerja dan mendapat gaji tetap. Maka tak heran, sekolah ini menjadi favorit bagi kalangan menengah baru di kota-kota besar.
- Sekolah Pertanian dan Perempuan, Pendidikan yang Membangun dan Membatasi
Di daerah pedesaan seperti Salatiga atau Banyumas, muncul Landbouwschool, sekolah pertanian yang mengajarkan cara mengelola lahan, menanam tebu, kopi, dan tembakau. Sekolah ini dirancang bukan untuk memberdayakan petani, melainkan untuk meningkatkan hasil ekspor perkebunan kolonial.
Meski begitu, secara tidak langsung, banyak lulusan Landbouwschool yang kemudian menjadi penggerak pertanian lokal pasca kemerdekaan.
Sementara itu, perempuan juga mulai diberi akses pendidikan, meskipun dengan ruang gerak terbatas. Di Normaalschool voor Meisjes atau sekolah kejuruan wanita, mereka belajar menjahit, merawat rumah, dan menjadi guru TK.
Tapi dari tempat seperti inilah muncul perempuan-perempuan pelopor seperti Siti Sukaptinah dan Dewi Sartika, yang menuntut pendidikan yang lebih setara bagi kaumnya.
Baca juga: Historical! Kompleks SMAN 7 Purworejo Jadi Cagar Budaya Nasional
Kini, banyak gedung bekas sekolah kolonial itu masih berdiri megah. Sebagian beralih fungsi menjadi sekolah negeri, kantor pemerintahan, atau museum. Di Semarang, bekas HBS kini menjadi SMA Negeri 3, sementara gedung Kweekschool di Magelang berubah menjadi kompleks pendidikan guru.
Meski catnya memudar, langit-langit tinggi dan ventilasi lebar itu masih menyimpan aroma masa lalu. Melihat bangunan-bangunan itu, kita seperti menelusuri peta sosial masa lalu tentang siapa yang boleh belajar, dan siapa yang dibiarkan buta huruf.
Namun di sisi lain, dari sistem pendidikan kolonial inilah lahir generasi yang justru menggugat ketidakadilan itu. Deretan sekolah kolonial di Jawa Tengah adalah cermin paradoks masa lalu, ia menindas sekaligus mencerdaskan.
Ia melahirkan kesenjangan, tapi juga menumbuhkan kesadaran. Kini, bangunan-bangunan itu tak lagi menjadi simbol kekuasaan Belanda, melainkan saksi perjalanan bangsa yang beranjak dari murid ke tuan di negeri sendiri.
Dari ruang-ruang belajar tempat anak-anak pribumi dulu duduk paling belakang, kini berdiri generasi baru yang bebas menulis sejarahnya sendiri, tanpa harus tunduk pada nama-nama asing di atas papan sekolah mereka.
Baca juga: Deretan Infrastruktur Warisan Belanda di Jawa Tengah






