Jatengkita.id – Salah satu petuah yang masih sering digaungkan hingga kini adalah ungkapan, “Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa.” Filosofi ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya kerendahan hati, empati, dan kesadaran diri dalam menjalani kehidupan sosial.
Secara harfiah, ungkapan tersebut berarti, “Jangan merasa paling bisa atau mampu, tetapi berusahalah untuk bisa merasa dan memahami.” Dalam ajaran Jawa, nasihat ini menjadi pedoman moral agar seseorang tidak terjebak dalam kesombongan atas kemampuan, ilmu, maupun jabatan yang dimiliki.
Peringatan Agar Tidak Sombong
Bagian pertama, “aja rumangsa bisa” merupakan peringatan agar manusia tidak mudah merasa paling hebat. Sikap merasa paling pintar atau paling benar sering kali membuat seseorang menutup diri terhadap kritik dan masukan dari orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap semacam ini dapat memicu konflik sosial. Seseorang yang terlalu yakin dengan kemampuan dirinya cenderung meremehkan pendapat orang lain dan sulit bekerja sama.
Karena itu, falsafah Jawa mengingatkan bahwa kemampuan yang dimiliki bukan alasan untuk bersikap angkuh.
Nilai ini juga relevan di era modern, terutama di tengah persaingan dunia kerja dan perkembangan media sosial. Banyak orang berlomba menunjukkan pencapaian, namun lupa menjaga sikap rendah hati.
Padahal, kebijaksanaan sejati tidak hanya terlihat dari kepandaian, tetapi juga dari cara seseorang menghargai orang lain.

Pentingnya Empati dan Introspeksi
Sementara itu, bagian kedua, “nanging bisaa rumangsa,” mengajarkan manusia untuk memiliki empati dan kemampuan introspeksi diri. Dalam budaya Jawa, “rumangsa” tidak sekadar berarti merasa, tetapi juga memahami keadaan, menjaga perasaan orang lain, dan menyadari keterbatasan diri sendiri.
Sikap ini mendorong seseorang untuk lebih peka terhadap lingkungan sosial. Orang yang memiliki “olahrasa” akan berhati-hati dalam bertutur kata maupun bertindak agar tidak menyakiti orang lain.
Selain itu, introspeksi diri menjadi kunci agar manusia terus belajar dan berkembang. Kesadaran bahwa diri belum sempurna membuat seseorang lebih terbuka terhadap pengalaman baru dan tidak cepat menghakimi orang lain.
Menjaga Keharmonisan Sosial
Filosofi ini pada dasarnya bertujuan menciptakan kehidupan yang harmonis. Dalam pandangan masyarakat Jawa, hubungan antarmanusia harus dijaga dengan sikap saling menghormati, rendah hati, dan penuh tenggang rasa.
Ketika seseorang mampu menahan ego serta memahami perasaan orang lain, maka solidaritas sosial akan tumbuh dengan sendirinya. Sebaliknya, kesombongan dan sikap merasa paling benar justru dapat merusak hubungan sosial dan memicu perpecahan.
Tetap Relevan di Masa Kini
Meski berasal dari ajaran leluhur, filosofi “Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa” tetap relevan diterapkan dalam kehidupan modern. Nilai ini mengajarkan bahwa kecerdasan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kemampuan intelektual, tetapi juga melalui kebijaksanaan dalam bersikap.
Di tengah masyarakat yang semakin individualistis, pesan tentang empati, introspeksi, dan kerendahan hati menjadi pengingat penting agar manusia tetap menghargai sesama.
Filosofi Jawa ini mengajak setiap individu untuk terus belajar, tidak mudah merasa paling benar, serta lebih peka terhadap perasaan orang lain.
Singkatnya, petuah tersebut menegaskan bahwa manusia yang bijak bukanlah mereka yang merasa paling mampu, melainkan mereka yang mampu memahami diri sendiri dan menghormati orang lain dengan penuh kerendahan hati.






