Jatengkita.id – Pondok Boro dikenal sebagai penginapan legendaris di Kota Semarang dengan tarif yang nyaris tak masuk akal, hanya Rp4.000 per malam. Di balik bangunan tuanya, tempat ini menyimpan kisah perjuangan para perantau kecil yang datang ke kota dengan mimpi besar dan bekal seadanya.
Bangunan ini terletak di Kampung Sumeneban, Kota Semarang. Bukan sekadar tempat bermalam, Pondok Boro menjelma simbol keteguhan dan daya juang warga kecil yang bertahan di tengah ramainya kehidupan kota pelabuhan.
Asal Usul Misterius Era Kolonial
Sebelum dikenal sebagai tempat singgah para perantau, Pondok Boro menyimpan jejak sejarah panjang. Bangunan ini dulunya merupakan gudang rempah-rempah dan kayu milik Belanda yang berdiri di bantaran Kali Semarang, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Letaknya yang dekat pelabuhan menjadikannya simpul logistik penting di Jawa Tengah pada masa itu. Usai 1945, perannya berubah drastis. Gudang tua tersebut menjadi tempat berteduh bagi para perantau miskin yang tak sanggup membayar sewa rumah di pusat kota.
Ada pula cerita yang menyebut Pondok Boro pernah berfungsi sebagai kandang kuda, sebelum akhirnya dimiliki warga Tionghoa yang tergerak oleh nasib para pekerjanya asal Kebumen.

Tarif Murah, Fasilitas Sederhana
Dengan ongkos yang nyaris tak masuk akal, Rp4.000 per hari atau Rp120.000 per bulan, penghuni Pondok Boro sudah mendapatkan listrik, air bersih, serta kamar mandi bersama. Ajaibnya, tarif ini nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu.
Bangunannya sederhana dan apa adanya. Ada dipan-dipan panjang tersusun rapat, lorong sempit berlantai batu, serta atap kain kusam yang sesekali bocor menjadi pemandangan sehari-hari.
Kipas angin kecil setia melawan panasnya Semarang, sementara barang-barang pribadi tertata seadanya di kardus dan rak kayu. Bahkan saat musim mudik tiba, para penghuni diperbolehkan tak membayar sewa. Ini merupakan sebuah kelonggaran yang nyaris tak pernah ditemui di penginapan modern.
Di tempat inilah sekitar 90 orang menetap, mayoritas perantau asal Kebumen, meski kini penghuninya datang dari berbagai daerah. Mereka memulai hari sejak subuh, menjalani pekerjaan serabutan seperti kuli bangunan atau buruh pasar, lalu kembali malam hari untuk melepas lelah di dipan panjang.
Suasananya mirip asrama darurat, yaitu obrolan ringan antar penghuni, suara kipas angin yang berdecit, dan aroma masakan seadanya. Meski jauh dari kata layak, Pondok Boro tetap memberi rasa aman dan tempat pulang bagi wong cilik yang berjuang mencari rezeki di Semarang.
Bertahan di Tengah Ancaman Zaman
Sebagai bangunan tua, Pondok Boro menghadapi ancaman kerusakan, struktur rapuh, atap bocor, hingga risiko roboh. Namun para penghuninya tetap bertahan karena nyaris tak ada hunian lain yang semurah ini.
Wacana renovasi dari Pemkot Semarang pun kerap terbentur kekhawatiran naiknya tarif sewa. Di tengah gentrifikasi kota yang kian mahal, Pondok Boro berdiri sebagai simbol perlawanan sunyi dan solidaritas.
Lebih dari sekadar bangunan, tempat ini menyimpan kisah perjuangan wong cilik yang mengingatkan kita pada kuatnya nilai gotong royong.
Baca juga: Desa Kartun Pertama di Indonesia Ada di Jawa Tengah, Loh!






