Jatengkita.id – Coba bayangkan sebuah desa sederhana. tiba-tiba hidup lewat deretan kartun ceria di setiap sudutnya. Itulah Cartoon Village Sidareja di Purbalingga, Jawa Tengah. Desa ini disulap jadi galeri terbuka penuh cerita tentang para leluhur dan menjadikannya jadi desa kartun pertama di Indonesia.
Bukan cuma spot foto estetik buat media sosial, tempat ini juga mengajak pengunjung bertualang sambil belajar, memadukan seni, tradisi, dan keindahan alam dalam satu pengalaman seru.
Asal Mula Desa Ajaib Sidareja
Dulu, Desa Sidareja di Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, kerap dipandang sebagai desa yang tertinggal dan jauh dari hiruk pikuk wisata.
Namun semuanya mulai berubah pada tahun 2020, ketika Kie Art Cartoon School hadir dengan konsep sederhana tapi penuh mimpi, sebuah sekolah kartun yang lahir dari bangunan bekas kandang ayam. Dari tempat itulah ide-ide kreatif mulai tumbuh dan menyebar ke seluruh desa.
Perlahan tapi pasti, wajah Sidareja pun bertransformasi. Kini, sekitar 88 rumah warga disulap menjadi kanvas raksasa yang dipenuhi mural kartun berwarna cerah. Setiap gambar bercerita tentang legenda lokal, makanan tradisional khas daerah, tarian budaya, hingga permainan masa kecil yang dulu akrab di halaman rumah.
Hasilnya, Sidareja bukan hanya tampil lebih hidup, tapi juga menjelma menjadi desa penuh cerita yang mengajak siapapun bernostalgia sekaligus belajar budaya lokal.
Mural Kartun yang Bercerita
Di Sidareja, setiap rumah terasa seperti galeri yang hidup dan bernapas. Dinding-dindingnya berubah menjadi kanvas raksasa berisi ilustrasi tokoh pewayangan, wayang dalam versi kartun, hingga cerita ritual ruwat bumi yang digambar dengan gaya ceria dan penuh warna oleh tangan-tangan kreatif pemuda desa. Suasana kampung pun jadi lebih hangat, akrab, dan sarat makna.
Pengunjung tidak sekadar berjalan, tetapi seolah diajak menyusuri sebuah “jalan cerita” yang mengalir dari satu sudut ke sudut lain. Di sepanjang perjalanan, potongan budaya Jawa disajikan dengan cara yang ringan, mudah dipahami, dan jauh dari kesan membosankan.
Mural-mural ini memang memanjakan mata dan cocok jadi latar foto, tapi di balik keindahannya tersimpan pesan kearifan leluhur yang disampaikan secara fun, membekas, dan relevan dengan generasi masa kini.

Dari Panggung Seni hingga Hidup Desa yang Nyata
Sidareja jadi bukti kalau seni bisa tumbuh bareng kehidupan desa. Melalui Kie Art, berbagai kelompok seni bermunculan, mulai dari kartun, tari, wayang, musik tradisional, hingga ritual budaya.
Karya anak-anak mudanya dipamerkan di Village Gallery, sekaligus membuka kesempatan bagi pengunjung untuk ikut terlibat lewat kegiatan melukis, menari, atau membuat wayang kartun.
Biar makin terasa, ada program Live In The Village yang mengajak tamu tinggal langsung di rumah warga bermural. Aktivitasnya sederhana tapi berkesan, yaitu membantu membuat gula jawa, menggembala kambing, atau mengambil air nira di pagi hari.
Malamnya, suasana desa dihangatkan dengan alunan musik tradisional dan cerita budaya. Selain menggerakkan ekonomi warga, pengalaman ini memberi gambaran nyata tentang hidup desa yang hangat dan apa adanya.
Keindahan Alam Pendukung
Tak hanya karya seni, Sidareja juga dikelilingi alam yang menggoda untuk dijelajahi. Jalur hiking dan bersepeda mengantar pengunjung ke Batu Barut, Batu Peninis, Sungai Peninisan, hingga Batu Besar Melayang.
Lokasi-lokasi tersebut lekat dengan kisah legenda setempat. Udara segar dan panorama alami ini menjadi pelengkap sempurna setelah menyusuri mural dan ruang seni desa.
Perpaduan alam, budaya, dan kreativitas membuat Sidareja tampil utuh sebagai destinasi wisata edukatif. Sejak resmi dibuka pada November 2025 oleh Bupati Purbalingga, desa ini juga mencatatkan prestasi dengan menghadirkan galeri lukisan terpanjang se-Indonesia.






