Polytron: Mengenal Sejarah dan Perkembangan Raksasa Elektronik Indonesia

Polytron: Mengenal Sejarah dan Perkembangan Raksasa Elektronik Indonesia
(Gambar: polytron.com)

Jatengkita.id – Nama Polytron mungkin tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Dari televisi tabung hitam putih yang menghiasi ruang tamu keluarga di era 1980-an, hingga kini merambah ke perangkat elektronik modern dan kendaraan listrik, Polytron telah menjelma menjadi salah satu ikon industri elektronik Tanah Air.

Didirikan oleh Hartono bersaudara, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono. Polytron menjadi bukti nyata bahwa Indonesia mampu menghadirkan produk elektronik berkualitas tinggi, bersaing dengan merek global.

Meski berasal dari Kudus, Jawa Tengah, Polytron kini telah dikenal luas di pasar nasional, bahkan mulai melirik panggung internasional.

Artikel ini mengulas perjalanan panjang Polytron selama hampir lima dekade, mulai dari sejarah pendiriannya, perkembangan produk, strategi bisnis, hingga langkah berani memasuki industri kendaraan listrik.

Awal Berdiri: Dari Kudus untuk Indonesia

Polytron pertama kali berdiri pada 18 September 1975 dengan nama PT Indonesian Electronic & Engineering Limited.

Dengan modal awal sekitar Rp50 miliar, perusahaan ini merupakan langkah besar keluarga Hartono untuk masuk ke dunia non-rokok, mengingat Grup Djarum sebelumnya dikenal luas sebagai raksasa industri rokok kretek.

Satu tahun kemudian, tepatnya 18 September 1976, perusahaan berganti nama menjadi PT Hartono Istana Electronic Limited. Nama ini lebih menegaskan identitas perusahaan di bawah kepemilikan Hartono bersaudara.

Dalam perjalanannya, Polytron juga sempat bekerja sama dengan Philips dan Salora, dua perusahaan elektronik global, dalam bentuk transfer teknologi. Kerja sama ini memungkinkan Polytron menguasai teknologi modern dan menerapkannya dalam produksi lokal.

Produk pertama yang diluncurkan adalah televisi hitam putih pada akhir dekade 1970-an. Televisi ini menjadi tonggak sejarah yang menandai kehadiran Polytron di pasar elektronik Indonesia. Televisi tidak hanya sekadar barang hiburan, melainkan simbol modernisasi masyarakat pada masa itu.

Inovasi Awal: Dari Audio Compo hingga Merek Digitec dan Oke

Setelah sukses dengan televisi, Polytron tidak berhenti berinovasi. Pada tahun 1984, perusahaan memperkenalkan audio compo sebagai produk kedua. Produk ini segera populer di kalangan masyarakat perkotaan, terutama anak muda yang menggemari musik.

Tahun 1988, Polytron mengambil langkah strategis dengan meluncurkan dua merek tambahan, yakni Digitec dan Oke. Digitec diposisikan sebagai produk elektronik digital mewah dengan citra berasal dari Jepang. Sementara  Oke dipasarkan sebagai produk elektronik digital bergaya Amerika Serikat.

Kedua merek ini menunjukkan strategi Polytron untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas dengan diferensiasi brand. Namun seiring waktu, perusahaan kemudian lebih fokus menggunakan nama Polytron sebagai identitas utama yang lebih kuat dan mudah dikenali konsumen.

Ekspansi Produk di Era 2000-an

Memasuki abad ke-21, Polytron semakin gencar memperluas lini produknya. Dari yang semula hanya televisi dan audio, perusahaan ini mulai memproduksi berbagai jenis perangkat elektronik rumah tangga.

Beberapa produk penting yang diluncurkan antara lain kulkas yang mulai diproduksi sejak akhir 2000, menjadi salah satu produk andalan hingga saat ini. Air Conditioner (AC) masuk ke pasar sejak awal 2000-an untuk menjawab kebutuhan iklim tropis Indonesia.

Mesin cuci diluncurkan pada 2010, bersaing dengan merek global. Ponsel pintar (smartphone) mulai diproduksi sejak 2011, meski persaingan dengan brand asing membuatnya kurang dominan.

Speaker dan perangkat audio modern melanjutkan tradisi panjang Polytron di bidang audio. Diversifikasi produk ini menjadi strategi jitu Polytron agar tidak hanya bergantung pada televisi.

Pabrik dan Infrastruktur Produksi

Saat ini Polytron memiliki dua pabrik utama. Pertama, di Kudus, Jawa Tengah dengan luas sekitar 70.000 m², menjadi basis awal produksi perusahaan. Kedua, di Sayung, Demak dengan luas 130.000 m², dikenal sebagai pabrik lemari es terbesar di Jawa Tengah.

Kedua pabrik tersebut mempekerjakan lebih dari 10 ribu karyawan yang tersebar di berbagai divisi. Selain itu, Polytron juga memiliki 11 kantor perwakilan, 5 dealer resmi, serta 50 pusat layanan (service center) yang tersebar di seluruh Indonesia. Kehadiran jaringan layanan ini menjadi kunci penting dalam menjaga loyalitas konsumen.

Kekuatan Riset dan Pengembangan

Keunggulan Polytron tidak hanya pada produksi, tetapi juga pada divisi Research and Development (R&D) yang diperkuat oleh sekitar 500 tenaga ahli di berbagai bidang teknologi.

Divisi ini memastikan Polytron mampu mengikuti perkembangan teknologi global, menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar Indonesia, dan berinovasi menghadirkan fitur-fitur yang sesuai dengan gaya hidup konsumen lokal.

R&D juga menjadi bekal penting ketika Polytron memutuskan untuk masuk ke industri baru seperti kendaraan listrik.

Polytron dan Kendaraan Listrik: EV Fox dan EV T-Rex

Langkah berani Polytron terlihat ketika pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2023, perusahaan resmi meluncurkan dua model sepeda motor listrik.

Polytron EV Fox dirancang untuk kebutuhan harian dengan desain praktis dan ramah lingkungan. Polytron EV T-Rex hadir dengan desain lebih besar dan bertenaga, menyasar segmen premium.

Keputusan ini menandai transformasi Polytron dari sekadar produsen elektronik rumah tangga menjadi pemain baru di industri otomotif listrik. Bergabungnya Polytron ke sektor kendaraan listrik sejalan dengan tren global menuju energi ramah lingkungan dan mobilitas berkelanjutan.

polytron
(Gambar: polytron.com)

Anak Perusahaan dan Diversifikasi Bisnis

Selain di bidang elektronik, Polytron juga memiliki sejumlah anak perusahaan yang memperluas cakupan bisnisnya.

Beberapa di antaranya adalah PT Fira Makmur Sejahtera (Fira), PT Global Media Visual (Mola) yang dikenal melalui platform streaming Mola TV, PT Cahaya Televisi Indonesia (CTV/MOS), SENT Entertainment Ltd, Como 1907 yang merupakan klub sepak bola asal Italia yang diakuisisi Grup Djarum, serta PT Perada Swara Produksi (Megapro Komunikasi).

Langkah ini menunjukkan strategi diversifikasi Hartono bersaudara dalam mengembangkan sayap bisnis di luar sektor elektronik.

Filosofi Nama: Polytron

Nama Polytron sendiri berasal dari gabungan kata “poli” yang berarti banyak dan “tron” yang merujuk pada elektronik. Dengan makna “banyak elektronik”, nama ini mencerminkan visi perusahaan untuk menghadirkan beragam produk elektronik bagi masyarakat.

Tantangan Persaingan dengan Produk Global

Meski memiliki basis produksi besar dan pasar domestik kuat, Polytron menghadapi tantangan besar dari dominasi merek-merek global seperti Samsung, LG, Sony, hingga Xiaomi.

Beberapa tantangan yang dihadapi Polytron antara lain persepsi konsumen, karena produk asing sering dianggap lebih modern.

Dari sisi skala produksi, perusahaan global memiliki kapasitas produksi lebih besar dengan biaya lebih efisien. Persaingan harga juga semakin ketat, terutama dengan produk Tiongkok yang murah dan agresif di pasar Indonesia.

Meski begitu, Polytron tetap bertahan dengan strategi mengutamakan pasar lokal, inovasi berkelanjutan, serta layanan purna jual yang luas.

Kiprah Hartono Bersaudara

Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, pemilik Polytron, dikenal sebagai dua orang terkaya di Indonesia. Namun kesuksesan tidak membuat mereka meninggalkan akar bisnis lokal.

Dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Bambang Hartono menegaskan bahwa bisnis bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan juga memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dengan membuka lapangan kerja di Kudus dan Demak.

Polytron menjadi contoh bagaimana konglomerat nasional bisa mengembangkan bisnis non-rokok yang berkelanjutan.

Kontribusi Polytron bagi Perekonomian Indonesia

Polytron tidak hanya menghadirkan produk elektronik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata. Perusahaan ini membuka lapangan kerja bagi lebih dari 10 ribu orang, meningkatkan industri lokal melalui transfer teknologi, mengurangi ketergantungan impor dengan memproduksi elektronik dalam negeri, serta mendukung transisi energi melalui kendaraan listrik.

Kontribusi ini membuat Polytron bukan sekadar perusahaan, melainkan bagian penting dalam ekosistem industri nasional.

Masa Depan Polytron

Ke depan, Polytron menghadapi dua jalan penting. Pertama, menguatkan basis produk elektronik rumah tangga dengan terus meningkatkan kualitas dan inovasi. Kedua, mengembangkan kendaraan listrik sebagai sektor masa depan yang menjanjikan.

Dengan dukungan modal kuat dari Grup Djarum, serta pengalaman panjang di industri, Polytron diprediksi mampu terus berkembang, baik di pasar lokal maupun internasional.

Dari sebuah perusahaan kecil di Kudus, Polytron telah menjelma menjadi salah satu pemain utama di industri elektronik Indonesia.

Sejarah panjang, inovasi produk, jaringan distribusi luas, serta keberanian memasuki sektor kendaraan listrik menunjukkan bahwa Polytron tidak sekadar bertahan, tetapi juga terus berevolusi. Polytron memiliki visi, inovasi, dan komitmen pada kualitas.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *