Mi Kopyok, Kuliner Legendaris Semarang yang Jarang Orang Tahu

Mi Kopyok, Kuliner Legendaris Semarang yang Jarang Orang Tahu
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Bukan lumpia ataupun wingko babat, tapi mi kopyok merupakan salah satu kuliner tradisional khas Semarang yang telah ada sejak lama. Meski termasuk makanan legendaris, hidangan ini ternyata belum terlalu populer di kalangan wisatawan luar daerah.

Padahal, mi kopyok memiliki cita rasa unik yang membuatnya tetap digemari oleh masyarakat lokal hingga sekarang.

Di Semarang sendiri, hidangan ini dikenal dengan beberapa nama. Sebagian orang menyebutnya mi lontong karena disajikan bersama potongan lontong.

Ada juga yang menyebutnya mi teng-teng, nama yang berasal dari kebiasaan pedagang keliling yang memukul piring hingga berbunyi “teng-teng” sebagai cara menarik perhatian pembeli.

Namun, nama mi kopyok tetap menjadi sebutan yang paling populer. Dalam bahasa Jawa, kata kopyok berarti diaduk atau dikocok. Nama tersebut merujuk pada cara menikmati hidangan ini, yaitu dengan mengaduk seluruh bahan agar kuah dan bumbunya tercampur merata.

Cita Rasa Khas Mi Kopyok

Mi kopyok dikenal sebagai hidangan sederhana dengan bahan yang mudah ditemukan. Sajian ini biasanya terdiri dari mi kuning, lontong, tauge, dan potongan tahu goreng yang sebelumnya dicelupkan ke dalam air panas.

Setelah itu, bahan-bahan tersebut disiram dengan kuah gurih yang terbuat dari campuran bawang putih dan bumbu lainnya. Di atasnya ditambahkan seledri, bawang goreng, serta kerupuk gendar yang diremas untuk memberikan tekstur renyah.

Kerupuk gendar menjadi salah satu ciri khas utama mi kopyok. Kerupuk yang dibuat dari nasi yang dikeringkan lalu digoreng ini memberikan rasa gurih yang khas dan memperkaya cita rasa hidangan.

Bagi pecinta pedas, kuliner ini biasanya juga dinikmati dengan tambahan sambal kacang atau cabai rawit agar rasanya semakin mantap.

Kuliner Legendaris yang Bertahan Puluhan Tahun

Mi kopyok diperkirakan sudah ada sejak awal tahun 1900-an dan menjadi salah satu jajanan favorit masyarakat Semarang. Dahulu, hidangan ini banyak dijual oleh pedagang keliling yang menggunakan gerobak dan berjualan di kampung-kampung pada pagi hari.

Salah satu penjual mi kopyok yang cukup terkenal adalah Mi Kopyok Pak Dhuwur. Usaha ini sudah ada sejak tahun 1970-an ketika Pak Dhuwur berjualan menggunakan gerobak keliling.

Kini, warung mi kopyok tersebut sudah memiliki tempat tetap di kawasan Jalan Tanjung, Pandansari, Semarang. Bahkan, usaha kuliner ini juga membuka beberapa cabang untuk melayani pelanggan yang ingin menikmati kuliner khas Semarang ini.

mi kopyok
(Gambar: Pinterest)

Resep Mi Kopyok Khas Semarang

Bagi kamu yang belum sempat berkunjung ke Semarang, hidangan ini sebenarnya bisa dibuat sendiri di rumah. Berikut resep sederhana mie kopyok khas Semarang yang bisa dicoba.

Bahan kuah:

  • 200 gram tetelan sapi, potong kecil
  • 3 siung bawang putih
  • ¼ biji pala
  • 1 sendok teh lada
  • 1 liter air
  • 2 sdm minyak sayur untuk menumis
  • Garam secukupnya

Bahan pelengkap:

  • 150 gram mi kuning basah, seduh air panas lalu tiriskan
  • 4 buah lontong, potong sesuai selera
  • 100 gram tauge
  • 100 gram kol
  • 2 sendok makan kecap manis
  • 2 batang daun seledri, iris halus
  • 1 sendok teh bawang goreng
  • Tahu goreng secukupnya
  • Kerupuk gendar secukupnya

Cara membuat:

  1. Membuat kuah:
    Tumis bawang putih hingga harum, kemudian masukkan tetelan sapi dan masak hingga berubah warna. Tambahkan air, lada, pala, dan garam. Rebus hingga mendidih dan kuah matang.
  2. Menyiapkan isi:
    Rebus sebentar mi kuning, kol, dan tauge dalam air panas, lalu tiriskan.
  3. Penyajian:
    Susun mi kuning, lontong, kol, dan tauge dalam mangkuk. Siram dengan kuah panas, kemudian tambahkan tahu goreng.
  4. Tambahan pelengkap:
    Taburi bawang goreng, seledri, serta kerupuk gendar yang sudah diremas. Tambahkan kecap manis sesuai selera.

Mi kopyok paling nikmat disantap selagi hangat. Perpaduan mi, lontong, tauge, serta kuah gurih menciptakan rasa yang gurih, segar, dan sedikit pedas yang cocok dinikmati kapan saja.

Kesederhanaan bahan yang digunakan justru menjadi daya tarik utama kuliner ini. Mi kopyok membuktikan bahwa hidangan tradisional dengan bahan sederhana tetap mampu menghadirkan cita rasa yang khas dan sulit dilupakan.

Baca juga: 10 Gorengan Khas Jawa Tengah untuk Buka Puasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *