Jatengkita.id – Di tengah kawasan wisata sejarah yang terkenal di sekitar Candi Prambanan, terdapat sebuah candi yang menyimpan cerita panjang tentang kebijaksanaan, toleransi, dan keindahan arsitektur masa lampau, yaitu Candi Sojiwan.
Meski tidak setenar Prambanan atau candi besar lainnya di Jawa Tengah, Sojiwan memiliki pesona yang berbeda.
Candi ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga tempat yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Nusantara pada masa lampau menanamkan nilai moral melalui karya seni dan arsitektur.
Terletak di Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, candi ini berdiri anggun di tengah kawasan yang tenang dengan latar pemandangan pedesaan yang asri.
Sejarah Candi Sojiwan
Candi Sojiwan diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi, tepatnya sekitar tahun 842 hingga 850 M. Masa tersebut merupakan periode kejayaan kerajaan Mataram Kuno yang berkembang pesat di wilayah Jawa Tengah.
Dalam berbagai penelitian sejarah, candi ini diyakini didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada seorang tokoh bangsawan perempuan bernama Pramodhawardhani yang juga dikenal sebagai Nini Haji Rakryan Sanjiwana.
Ia merupakan putri dari raja besar Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Pada masa itu, Dinasti Syailendra dikenal sebagai penguasa yang sangat mendukung perkembangan agama Buddha di Jawa.
Kehadiran Candi Sojiwan di wilayah yang tidak jauh dari kompleks Prambanan menjadi bukti menarik tentang kehidupan masyarakat pada masa tersebut. Jika Prambanan merupakan candi Hindu yang megah, maka Sojiwan adalah candi Buddha yang berdiri berdampingan di wilayah yang sama.
Fenomena ini sering dipandang sebagai bukti bahwa toleransi dan harmoni antar-agama telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Kedua bangunan suci ini tidak hanya menjadi simbol keagamaan, tetapi juga mencerminkan budaya saling menghormati yang berkembang pada masa Mataram Kuno.
Arsitektur Candi Sojiwan
Dari segi arsitektur, Candi Sojiwan memiliki bentuk yang unik dan elegan. Tinggi bangunan ini mencapai sekitar 27 meter dengan struktur yang ramping namun kokoh. Candi tersebut tersusun dari batu andesit yang dipahat dan disusun dengan sangat presisi.
Warna abu-abu batu candi berpadu dengan taman hijau yang mengelilinginya menciptakan pemandangan yang menenangkan. Ciri khas utama yang menegaskan identitasnya sebagai candi Buddha adalah bagian atapnya yang berbentuk stupa bertingkat.
Stupa merupakan simbol penting dalam arsitektur Buddha yang melambangkan pencerahan dan kesempurnaan spiritual. Tangga utama candi menghadap ke arah barat dan menjadi akses utama bagi pengunjung untuk memasuki bagian tubuh candi.
Pada bagian kaki bangunan, pengunjung dapat melihat berbagai relief yang dipahat dengan detail yang sangat halus. Relief-relief tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam.

Cerita Fabel pada Relief Candi Sojiwan
Salah satu hal yang membuat Candi Sojiwan sangat istimewa adalah keberadaan relief fabel yang terpahat di bagian kaki candi.
Jika pada kebanyakan candi, relief biasanya menggambarkan kisah dewa, raja, atau cerita epik seperti Ramayana dan Mahabharata, maka Candi Sojiwan menghadirkan kisah yang berbeda. Relief di candi ini menampilkan cerita-cerita fabel yang berasal dari kisah Jataka.
Kisah Jataka merupakan kumpulan cerita tentang kehidupan Buddha sebelum mencapai pencerahan yang disampaikan melalui tokoh-tokoh hewan. Cerita tersebut mengandung banyak pesan moral yang ditujukan untuk mendidik masyarakat.
Salah satu relief yang terkenal adalah kisah Kera dan Buaya. Cerita ini menggambarkan kecerdikan seekor kera yang berhasil menyelamatkan dirinya dari ancaman buaya yang ingin memangsanya. Kisah ini mengajarkan bahwa kecerdikan dan ketenangan dapat menjadi kunci untuk keluar dari situasi berbahaya.
Ada pula relief yang menggambarkan perkelahian antara gajah dan burung pipit yang menyampaikan pesan tentang kesombongan dan pentingnya menghargai makhluk lain.
Selain itu, terdapat pula kisah lomba lari antara kancil dan siput yang mengajarkan bahwa strategi dan kerja sama dapat mengalahkan kecepatan semata. Kisah-kisah ini seakan menjadi perpustakaan moral yang dipahat di batu.
Pada masa lalu, cerita tersebut kemungkinan digunakan sebagai media pembelajaran bagi masyarakat, terutama anak-anak, agar mereka dapat memahami nilai kebijaksanaan melalui cerita yang mudah dipahami.
Sarana Edukasi
Keunikan relief fabel tersebut membuat Candi Sojiwan tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga menjadi ruang edukasi yang menarik. Para pengunjung tidak hanya melihat bangunan kuno, tetapi juga dapat belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh masyarakat masa lalu.
Selain nilai sejarah dan budaya, Candi Sojiwan juga menawarkan suasana yang sangat menenangkan. Berbeda dengan kawasan wisata yang ramai, area di sekitar candi ini relatif tenang dengan pemandangan pedesaan yang hijau.
Dari segi aksesibilitas, Candi Sojiwan termasuk destinasi yang sangat mudah dijangkau. Lokasinya yang berada di jalur wisata antara Yogyakarta dan Surakarta membuat candi ini mudah dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah.
Cara Menuju Candi Sojiwan dan Fasilitas
Bagi pengunjung yang sedang berada di kawasan Candi Prambanan, perjalanan menuju Candi Sojiwan hanya memerlukan waktu sekitar beberapa menit saja. Jalan menuju kawasan candi sudah diaspal dengan kondisi yang cukup baik sehingga dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Wisatawan yang menggunakan aplikasi peta digital seperti Google Maps juga dapat dengan mudah menemukan rute menuju lokasi karena Candi Sojiwan telah terdaftar sebagai destinasi wisata yang jelas dalam sistem navigasi.
Jalur menuju candi juga cukup nyaman karena melintasi kawasan pedesaan yang tenang dengan pemandangan sawah dan permukiman warga.
Fasilitas yang tersedia di kawasan candi juga cukup memadai untuk menunjang kegiatan wisata. Area parkir yang tersedia cukup luas sehingga dapat menampung kendaraan pribadi maupun bus pariwisata yang membawa rombongan wisatawan.
Harga tiket masuk ke Candi Sojiwan juga tergolong terjangkau, yakni berkisar antara Rp10.000 hingga Rp20.000 per orang.
Baca juga: Simbol Cinta Rakai Pikatan yang Terabadikan Lewat Candi Plaosan






