Jatengkita.id – Peringatan Hari Pahlawan tahun 2025 kali ini menjadi istimewa lantaran adanya penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh terpilih.
Pemberian gelar pahlawan nasional langsung disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto melalui upacara kenegaraan di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (10/11/2025).
Penganugerahan ini menjadi bentuk penghargaan tertinggi dari negara bagi individu-individu yang menunjukkan dedikasi luar biasa di berbagai bidang. Hal yang membuat istimewa, para tokoh yang dianugerahi berasal dari beragam latar belakang.
Ada yang dulunya menjabat sebagai presiden, aktivis yang memperjuangkan hak-hak buruh, hingga Jenderal TNI. Menariknya, di antara 10 nama tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional, ada satu pejuang yang berasal dari Jawa Tengah, yaitu Sarwo Edhie Wibowo.
Ia terkenal dalam perjuangan dan peran pentingnya terhadap penumpasan peristiwa pemberontakan G30 S/PKI.
Pada saat menjabat sebagai Komandan RPKAD (kini Kopassus), ia memimpin operasi perebutan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan penumpasan anggota PKI di Jawa Tengah atas perintah Mayor Jenderal Soeharto.
Selain berjasa dalam menjaga stabilitas negara, Sarwo Edhie juga berperan penting dalam pembentukan pasukan elit TNI AD, cikal bakal Kopassus. Setelah karier militernya, ia menjabat sebagai Gubernur AKABRI (1970–1974), kemudian menjadi Duta Besar RI untuk Korea Selatan, serta Kepala BP7.
Sarwo Edhie Wibowo wafat di Jakarta, 09 November 1989. Berkat dedikasinya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional seperti yang termaktub di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Sarwo Edhie Wibowo resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa dan pengabdiannya dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal ini menegaskan bahwa kontribusi bagi bangsa Indonesia dapat diwujudkan dalam berbagai cara. Gelar tersebut diberikan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116.TK/Tahun 2025, yang resmi ditandatangani di Jakarta pada 06 November 2025.
Nah siapa saja tokoh-tokoh selain Sarwo Edhie Wibowo yang berhasil meraih penghargaan ini? Melansir dari antaranews.com, berikut merupakan profil singkat dari 10 Pahlawan Nasional baru tahun 2025.
1. Jenderal Besar TNI Soeharto
Soeharto, Presiden kedua Indonesia, memimpin bangsa selama lebih dari tiga dekade. Lahir di Kemusuk, Yogyakarta, pada 08 Juni 1921, dibalik kepemimpinannya yang memang sering dianggap otoriter, Soeharto juga membawa stabilitas nasional dan pertumbuhan ekonomi.
Ia berkuasa dari 1966 hingga 1998 dan memainkan peran penting dalam hubungan internasional Indonesia. Soeharto meninggal pada 27 Januari 2008, namun namanya tetap menjadi bagian penting sejarah bangsa.
2. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 07 September 1940 dan dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama sekaligus Presiden ke-4 RI (1999–2001).
Ia dikenal memperjuangkan demokrasi, toleransi, kebebasan berpendapat, dan hak asasi manusia, serta memperkuat citra Indonesia di kancah internasional. Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009. Tetapi, ide dan perjuangannya untuk keberagaman tetap dikenang.
3. Marsinah
Marsinah, lahir di Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 April 1969, adalah aktivis buruh yang memperjuangkan hak pekerja, terutama tuntutan kenaikan upah. Keberaniannya menjadikannya simbol perjuangan buruh dan perempuan.
Ia diculik pada 5 Mei 1993 dan ditemukan meninggal pada 8 Mei 1993, meninggalkan jejak penting dalam sejarah advokasi buruh di Indonesia.
4. Mochtar Kusumaatmadja
Lahir di Batavia (sekarang Jakarta) pada 17 Februari 1929, Mochtar Kusumaatmadja dikenal sebagai pakar hukum dan diplomat. Ia berkontribusi besar dalam hukum laut internasional dan penegasan batas maritim Indonesia.
Pernah menjabat Menteri Luar Negeri (1988–1998) dan Duta Besar Indonesia untuk PBB, ia wafat pada 06 Juni 2021 dan tetap dihormati sebagai arsitek diplomasi Indonesia.

5. Hajjah Rahmah El Yunusiyyah
Rahmah El Yunusiyyah lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 26 Oktober 1900. Ia menjadi pelopor pendidikan perempuan di Sumatera Barat dan aktif dalam perjuangan kemerdekaan.
Selain mendirikan lembaga pendidikan untuk perempuan, ia juga pernah menjadi anggota DPR (1950–1955). Rahmah wafat pada 16 Februari 1969 dan dikenang sebagai tokoh pendidikan perempuan yang berpengaruh.
Baca juga: 4 Pahlawan dari Jawa Tengah yang Berjasa bagi Indonesia
6. Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo
Sarwo Edhie lahir di Purworejo pada 1925 dan dikenal sebagai tokoh militer yang berperan dalam operasi penumpasan PKI 1965. Ia menjabat Panglima Kostrad (1967–1970) dan Gubernur Sumatera Utara (1983–1988).
Sarwo Edhie meninggal pada 09 November 1989 dan tercatat sebagai sosok militer yang berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
7. Sultan Muhammad Salahuddin
Sultan Muhammad Salahuddin dari Bima, Nusa Tenggara Barat, dikenal sebagai pemimpin kerajaan yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia memimpin Kesultanan Bima (1947–1951) dan pernah menjadi anggota DPR (1950–1955).
8. Syaikhona Muhammad Kholil
KH Muhammad Kholil bin Abdul Lathif atau Syaikhona Kholil Bangkalan, lahir di Madura pada 27 Januari 1820 dan wafat pada 1925. Sebagai ulama besar, ia menjadi guru bagi banyak kiai berpengaruh di Indonesia.
Gelar “Syaikhona” mencerminkan penghormatan tinggi terhadap perannya dalam pengembangan ilmu agama dan pesantren.
9. Tuan Rondahaim Saragih
Lahir di Simalungun, Sumatera Utara, pada 01 Januari 1900, Tuan Rondahaim Saragih adalah pemimpin daerah yang aktif mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia pernah menjabat Raja Simalungun (1927–1945) dan anggota DPR (1950–1955). Wafatnya tercatat sebagai kehilangan bagi sejarah pejuang nasional Sumatera Utara.
10. Zainal Abidin Syah
Sultan Zainal Abidin Syah dari Tidore, Maluku Utara, lahir pada 1912 dan menjadi Sultan ke-37 sejak 1946 hingga wafat pada 1967. Ia dikenal memperjuangkan kepentingan rakyat dan diplomasi lokal untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, serta memperkuat posisi negara di awal masa kemerdekaan.
Penetapan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh ini mengingatkan bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan dan kemajuan yang dinikmati hari ini lahir dari keberanian, kegigihan, dan pengorbanan para pendahulu yang berjuang untuk bangsa.
Baca juga: Guru Zaman Sekarang: Antara Inspirator dan Content Creator


