Keistimewaan Budaya Tadarus Al-Qur’an di Bulan Ramadan

Keistimewaan Budaya Tadarus Al-Qur'an di Bulan Ramadan
(Gambar : Pinterest)

Jatengkita.id – Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah satu tradisi yang sangat melekat dalam masyarakat Muslim selama bulan suci ini adalah tadarus Al-Qur’an.

Tadarus berasal dari kata Arab “tadārus” yang berarti saling belajar atau mempelajari sesuatu secara bersama-sama. Dalam konteks Ramadan, tadarus Al-Qur’an merujuk pada aktivitas membaca, memahami, dan menghayati kitab suci Al-Qur’an, baik secara individu maupun bersama dalam komunitas.

Di Indonesia, tradisi tadarus Al-Qur’an sangat kental dengan nuansa kebersamaan. Suara lantunan ayat-ayat suci menggema dari masjid, musala, hingga melalui siaran digital.

Aktivitas ini tidak hanya menjadi bagian dari ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pendidikan, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta meningkatkan literasi keagamaan.

Dalam artikel ini, kita akan mengupas lebih dalam tentang budaya tadarus Al-Qur’an di bulan Ramadan, sejarahnya, serta manfaatnya.

Turunnya Al-Qur’an di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan memiliki keistimewaan karena merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah,

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah : 185)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Qadr ayat 1,

 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)

Berbeda dengan kitab-kitab suci sebelumnya yang diturunkan sekaligus, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah SAW dalam kurun waktu 23 tahun.

Baca juga : Rakaat Salat Tarawih 11 dan 23 Rakaat, Pilih yang Mana?

(Gambar : Pinterest)

Tadarus Al-Qur’an dan Tradisi Rasulullah SAW

Tadarus Al-Qur’an juga merupakan bagian dari sunnah Rasulullah SAW. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa Rasulullah SAW selalu bertadarus bersama Malaikat Jibril setiap malam di bulan Ramadan.

“Dari Ibnu ‘Abbas berkata : Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, terutama pada bulan Ramadan ketika Malaikat Jibril menemuinya. Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadan dan mengajarkannya Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa tadarus bukan sekadar membaca, tetapi juga mempelajari dan mendalami makna Al-Qur’an.

Tradisi Para Ulama dalam Bertadarus

Sejumlah ulama besar juga memberikan perhatian khusus terhadap tadarus Al-Qur’an di bulan Ramadan. Beberapa kisah yang terkenal antara lain sebagai berikut.

  • Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama bulan Ramadan.
  • Imam Malik lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan dan menghentikan aktivitas mengajarnya.
  • Qatadah, seorang tabi’in, biasa mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali, namun di bulan Ramadan meningkat menjadi setiap tiga hari, dan setiap malam pada 10 hari terakhir Ramadan.

Tradisi ini menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an selama Ramadan.

Tadarus Al-Qur’an sebagai Tradisi Masyarakat Indonesia

Di Indonesia, tradisi tadarus Al-Qur’an sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Muslim. Suara tadarus menggema dari masjid, musala, hingga langgar, menciptakan suasana Ramadan yang khas dan penuh keberkahan.

Biasanya, tadarus dilakukan setelah salat tarawih hingga larut malam atau menjelang sahur. Dalam beberapa daerah, tadarus juga dilakukan menjelang berbuka puasa. Masyarakat dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, turut serta dalam kegiatan ini.

Tradisi ini juga sering kali diakhiri dengan khataman Al-Qur’an, di mana setelah menyelesaikan 30 juz, dilakukan doa bersama untuk memohon keberkahan dan kemudahan dalam hidup.

tadarus al-qur'an
(Gambar : istockphoto.com)

Tadarus sebagai Sarana Pendidikan dan Silaturahmi

  • Meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an
    Anak-anak dan remaja yang masih belajar bisa mendapatkan bimbingan dari yang lebih senior dalam hal tajwid dan makharijul huruf.
  • Menguatkan hubungan sosial
    Tadarus menjadi ajang silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.
  • Menanamkan nilai-nilai agama sejak dini
    Anak-anak yang terbiasa ikut tadarus akan lebih cinta kepada Al-Qur’an sejak kecil.

Tadarus Al-Qur’an : Lebih dari Sekadar Membaca

Dalam makna yang lebih mendalam, tadarus bukan sekadar membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan mengamalkan isinya. Rasulullah SAW bersabda,

 “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Untuk itu, umat Islam perlu menyeimbangkan antara membaca, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mempelajari tafsir Al-Qur’an agar lebih memahami makna ayat yang dibaca.
  • Mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dengan menerapkan nilai-nilai Islam dalam akhlak dan perbuatan.
  • Berdiskusi dan belajar bersama untuk memahami hukum-hukum Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Mari manfaatkan bulan Ramadan ini untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an, baik dengan membaca, memahami, maupun mengamalkannya. Semoga kita semua mendapatkan berkah dari setiap ayat yang kita baca. Aamiin.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *