Jatengkita.id – Belakangan ini, istilah londo ireng kembali ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial hingga menjadi topik hangat di ruang publik. Banyak masyarakat yang penasaran dengan arti sebenarnya dari frasa tersebut setelah digunakan dalam konteks kritik sosial dan politik.
Padahal, londo ireng bukanlah istilah baru. Frasa ini telah hidup dalam kosakata masyarakat Jawa selama ratusan tahun dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Maknanya pun mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, dari istilah yang merujuk pada kelompok tertentu di masa kolonial hingga menjadi ungkapan bernada sindiran pada era modern.
Lalu, sebenarnya londo ireng artinya apa? Bagaimana asal-usulnya dalam bahasa Jawa? Berikut penjelasan lengkapnya.
Londo Ireng Artinya Apa dalam Bahasa Jawa?
Secara harfiah, londo ireng berasal dari dua kosakata dalam bahasa Jawa.
- Londo berarti orang Belanda atau bangsa Eropa yang datang sebagai penjajah.
- Ireng berarti hitam.
Jika diterjemahkan secara literal, londo ireng berarti “Belanda hitam”.
Namun, arti harfiah tersebut tidak langsung merujuk pada warna kulit semata. Istilah ini muncul karena adanya kelompok tentara berkulit hitam yang bertugas di bawah pemerintahan kolonial Belanda pada masa Hindia Belanda.
Karena itulah, dalam sejarah Jawa, penyebutan londo ireng memiliki konteks yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar gabungan dua kata tersebut.
Asal-Usul Istilah Londo Ireng Berasal dari Masa Kolonial
Asal-usul londo ireng berkaitan erat dengan sejarah Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Pada pertengahan abad ke-19, Belanda mengalami kesulitan memperoleh pasukan untuk mempertahankan wilayah koloninya di Nusantara.
Sebagai solusi, pemerintah kolonial kemudian merekrut ribuan tentara dari Afrika Barat, terutama wilayah yang kini menjadi Ghana, Burkina Faso, dan sekitarnya. Para tentara tersebut kemudian dikirim ke Hindia Belanda untuk memperkuat pasukan KNIL.
Karena mengenakan seragam Belanda, bertugas atas nama pemerintah kolonial, namun memiliki kulit gelap, masyarakat Jawa kala itu menyebut mereka sebagai londo ireng.
Dengan kata lain, istilah tersebut awalnya merupakan penanda identitas kelompok tentara kolonial asal Afrika yang bekerja di bawah pemerintahan Belanda.
Mengapa Belanda Merekrut Tentara Afrika?
Belanda memiliki beberapa alasan merekrut prajurit dari Afrika Barat. Pertama, mereka membutuhkan tambahan kekuatan militer setelah menghadapi berbagai perlawanan di wilayah Nusantara.
Kedua, pemerintah kolonial menganggap tentara Afrika memiliki kemampuan fisik yang tangguh dan lebih tahan terhadap iklim tropis dibanding tentara Eropa.
Ketiga, Belanda berharap pasukan dari luar Nusantara tidak memiliki hubungan emosional dengan masyarakat lokal sehingga dinilai lebih mudah menjalankan perintah militer.
Dalam berbagai catatan sejarah, ribuan tentara Afrika ini ditempatkan di berbagai daerah untuk menjaga stabilitas kekuasaan kolonial.
Dari Sebutan Sejarah Menjadi Sindiran Sosial
Seiring berjalannya waktu, makna londo ireng mengalami perubahan.
Jika pada awalnya merujuk kepada tentara Afrika dalam KNIL, kemudian istilah tersebut berkembang menjadi ungkapan yang digunakan masyarakat Jawa untuk menyindir orang pribumi yang dianggap berpihak kepada penjajah.
Makna simboliknya berubah menjadi seseorang yang berasal dari bangsa sendiri tetapi justru membantu kepentingan pihak luar.

Perubahan makna seperti ini sebenarnya lazim terjadi dalam perkembangan bahasa. Sebuah istilah yang awalnya bersifat deskriptif dapat berubah menjadi metafora sosial sesuai kondisi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, londo ireng tidak lagi dipahami sebagai identitas etnis ataupun ras, melainkan sebagai simbol terhadap sikap atau keberpihakan seseorang.
Mengapa Istilah Londo Ireng Kembali Viral?
Istilah londo ireng kembali menjadi perhatian publik setelah disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada Harlah ke-28 PKB di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Ungkapan tersebut digunakan untuk menyindir sejumlah pihak yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan nasional, sehingga memicu perdebatan mengenai makna dan sejarah di balik istilah tersebut.
Ini membuat kata atau istilah londo ireng kembali meningkat setelah digunakan dalam pernyataan publik.
Banyak orang yang baru pertama kali mendengar frasa tersebut sehingga muncul berbagai pertanyaan mengenai arti dan sejarahnya.
Di media sosial, pencarian mengenai kata kunci seperti “londo ireng artinya apa”, “arti londo ireng”, hingga “asal usul londo ireng” mengalami peningkatan karena masyarakat ingin memahami konteks penggunaan istilah tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kosakata daerah, khususnya bahasa Jawa, masih memiliki pengaruh besar dalam diskursus nasional ketika digunakan dalam peristiwa yang menarik perhatian publik.
Apakah Londo Ireng Berarti Pengkhianat?
Pertanyaan ini sering muncul setelah istilah tersebut kembali viral. Jawabannya adalah tidak selalu.
Dalam sejarah, londo ireng bukan berarti pengkhianat. Istilah tersebut hanyalah penyebutan bagi tentara Afrika yang bertugas dalam KNIL.
Namun, dalam perkembangan makna di masyarakat Jawa, istilah ini kemudian digunakan sebagai sindiran terhadap seseorang yang dinilai lebih membela kepentingan pihak asing daripada kepentingan bangsanya sendiri.
Karena itu, makna “pengkhianat” sebenarnya merupakan interpretasi sosial yang berkembang kemudian. Bukan arti asli dari istilah tersebut.
Artinya, memahami londo ireng harus melihat konteks sejarah maupun konteks penggunaannya saat ini.
Kekayaan Bahasa Jawa yang Sarat Makna Historis
Bahasa Jawa dikenal memiliki banyak kosakata yang lahir dari perjalanan sejarah panjang Nusantara.
Tidak sedikit istilah yang awalnya muncul sebagai penanda suatu peristiwa, kelompok, atau profesi. Tetapi kemudian mengalami perluasan makna mengikuti dinamika sosial masyarakat.
Londo ireng menjadi salah satu contoh bagaimana bahasa merekam perjalanan sejarah kolonial sekaligus perubahan cara pandang masyarakat terhadap suatu istilah.
Bagi masyarakat Jawa, penggunaan ungkapan semacam ini sering kali mengandung makna simbolik yang tidak dapat dipahami hanya melalui terjemahan harfiahnya.
Dibutuhkan pemahaman terhadap latar belakang sejarah, budaya, dan konteks sosial agar arti sesungguhnya tidak disalahartikan.
Hal inilah yang membuat bahasa Jawa tetap menarik untuk dipelajari. Setiap istilah sering kali menyimpan cerita panjang tentang perjalanan bangsa.
Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk update info speutar Jawa Tengah



