The Sin Nio: Mulan-nya Indonesia, Pahlawan dari Wonosobo

The Sin Nio: Mulan-nya Indonesia, Pahlawan dari Wonosobo
(Gambar: rri.co.id)

Jatengkita.id – Perempuan kerap menjadi narasi yang hilang dari sejarah yang ditulis laki-laki. Terlebih lagi kalau perempuan itu berasal dari kaum minoritas. The Sin Nio (baca: Teh Sin Nyo) adalah kasus nyatanya.

Sosok perempuan pahlawan ini mendapat julukan “Mulan Indonesia”. Kisahnya mirip dengan Hua Mulan, wanita pejuang dari negeri Tiongkok yang namanya melegenda, hingga menginspirasi cerita Disney. Bedanya, tak ada adaptasi untuk kisah hidup Sin Nio.

Tak ada catatan hidupnya dalam buku-buku sejarah sekolah. Namanya bahkan nyaris tak dikenal oleh bangsa sendiri. Sampai akhirnya pada November 2022, atau sekitar 37 tahun setelah kematiannya, barulah namanya dicantumkan ke daftar pahlawan nasional setelah Komnas Perempuan mengusulkannya.

Perempuan di Dunia yang Maskulin

Masa kolonial didominasi oleh elit laki-laki. Perempuan dianggap bertugas mengurusi pekerjaan domestik, seperti memasak dan membersihkan rumah. Suara mereka tak dianggap penting dalam politik dan sejarah.

Lahir pada masa kolonial ini, Sin Nio memiliki tekad baja untuk menjadi pejuang negeri. Perempuan beretnis Tionghoa ini menyamar menjadi lelaki agar bisa ikut bertempur melawan penjajah. Dengan begitu, dunia mengizinkannya untuk turut andil dalam gerilya.

Struggle Etnis Tionghoa

Posisi masyarakat Tionghoa saat itu terjepit. Mereka dianggap orang asing, bukan orang pribumi, tapi juga bukan orang Belanda. Status sosial mereka menjadi rawan, seolah mereka tak punya tempat sendiri.

Ditambah Sin Nio adalah seorang perempuan, makin terjepitlah statusnya. Maka ketika berpura-pura menjadi lelaki, ia mengubah namanya menjadi Mochamad Moeksin, nama yang lebih pribumi, lebih diterima oleh kalangan mayoritas.

the sin nio
(Gambar: Hops ID)

Perjuangan yang Tak Pernah Berakhir

The Sin Nio bergabung dalam Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18 pada 1943. Ia ikut berjuang meraih kemerdekaan negeri. Kemudian menikah, memiliki enam anak dari dua orang suami. Tapi perjuangannya tak selesai meski perang telah usai.

Bercerai dengan kedua suaminya, membesarkan enam orang anak bukanlah hal yang mudah. Karena itu, dari tempat asalnya yaitu Wonosobo, perempuan ini pergi ke Jakarta untuk kembali berjuang. Bukan melawan penjajah, kali ini ia memperjuangkan pengakuan atas jasanya dan menuntut haknya.

Pada 29 Juli 1976, Sin Nio berhasil mendapatkan pengakuan sebagai pejuang lewat Surat Keputusan pengakuan The Sin Nio yang dikeluarkan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta, yang ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno SH dan Lettu CKH Drs.Soehardjo.

Namun, tak ada sepeser pun uang pensiun untuknya. Ironis, perempuan pejuang ini akhirnya hidup menggelandang di seputaran pintu air yang tak jauh dari Masjid Istiqlal, Jakarta.

Jika Hua Mulan dalam cerita Disney mendapatkan ending yang bahagia dan penuh kehormatan, ini tidak berlaku untuk Sin Nio. Janji pemerintah untuk memberikan tunjangan rumah tidak pernah terealisasi. Hingga akhirnya, Sin Nio meninggal pada tahun 1985.

Baca juga: Lika-Liku Haji Samanhudi Bangun Sarekat Dagang Islam

The Sin Nio dan Narasi yang Kita Bangun

Sejarah kerap menyingkirkan mereka yang tak sesuai arus narasi utama. Perempuan. Etnis minoritas. Masyarakat kelas bawah. The Sin Nio hanya satu dari banyak nama yang terpinggirkan dari arus narasi tersebut.

The Sin Nio menunjukkan bahwa keberanian tak punya jenis kelamin dan ras. Ia berjuang di garis depan, meski namanya tak tercatat di halaman depan. Bahkan ketika akhirnya pengakuan datang, ia tak lagi hidup untuk menyaksikannya.

Setiap golongan layak tertulis dalam sejarah, termasuk mereka yang tersisihkan. Sambil mengenang perjuangan dan keberanian The Sin Nio, mari kita bertanya, siapa lagi nama-nama yang belum tercatat dengan layak dalam sejarah kita?

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *