Jatengkita.id – Menjelang berbuka puasa, banyak aktivitas bermanfaat yang bisa dilakukan, mulai dari tadarus Al-Qur’an, mendengarkan kajian, hingga membaca buku atau novel islami populer. Bagi penikmat literasi, membaca buku kerap jadi pilihan unggulan.
Berikut ini rekomendasi novel islami populer karya penulis asal Jawa Tengah yang cocok jadi bacaan Ramadan.
-
Ayat-Ayat Cinta
Novel “Ayat-Ayat Cinta” (2004) adalah karya Habiburrahman El Shirazy, penulis asal Semarang, yang sukses mengguncang dunia sastra Indonesia. Berlanjut pada tahun 2008, novel ini diadaptasi ke layar lebar dan juga sukses gilang-gemilang.
Habiburrahman berhasil mengemas cerita dengan alur yang fresh, complicated, sekaligus membongkar cara pandang tentang poligami.
Karya masterpiece ini berfokus pada perjalanan tokoh Fahri, pemuda Indonesia yang mengejar mimpinya untuk melanjutkan pendidikan di Al-Azhar Kairo, Mesir. Ia adalah anak yang sederhana secara materi maupun latar belakang sosial.
Selama prosesnya menempuh pendidikan, ia dihadapkan pada ujian keteguhan hati dari banyak perempuan yang menaruh rasa padanya. Sebut saja Maria, Nurul, Noura, dan Aisha. Fahri bahkan harus mendekam di penjara lantaran fitnah yang dialamatkan padanya.
Klimaksnya adalah keputusan Fahri yang pada akhirnya harus menikahi Maria karena sakitnya di saat posisinya sudah menikah dengan Aisha, perempuan yang memang ia cintai dan ia pilih untuk menjadi istrinya.
Habiburrahman sukses membuat banyak penikmat dan pengamat karya sastra memberikan penilaian tentang karyanya.
-
Ketika Cinta Bertasbih
Masih dengan karya Habiburrahman El Shirazy, novel “Ketika Cinta Bertasbih” (2007) juga sukses besar hingga di industri hiburan. Novel ini diadaptasi ke layar lebar dan series televisi. Berbeda dengan “Ayat-Ayat Cinta”, penulis yang juga populer dengan nama Kang Abik ini turut terlibat dalam proses pembuatan film “Ketika Cinta Bertasbih”.
Novel ini menceritakan tokoh bernama Khairul Azzam yang melanjutkan pendidikan di Al-Azhar Kairo, Mesir. Selain belajar, ia juga dibebani dengan tanggungan membantu ibunya menghidupi adik-adiknya. Keunggulan cerita ini terletak pada proses pencarian dan penemuan pendamping hidup.
Azzam dan Anna Althafunnisa akhirnya disatukan setelah melalui jalan berliku dan proses yang sangat panjang. Novel ini banyak mengeksplorasi nilai-nilai Islam dan sisi spiritual karakter dalam cerita.
Misalnya kesabaran, keteguhan hati dalam menghadapi cobaan dan ujian, kegigihan, serta kekuatan dalam memegang prinsip. Novel bergenre roman ini berhasil menunjukkan proses pencarian jodoh yang dibalut dalam koridor syar’i.

-
Tetralogi De Winst
Beralih ke novel selanjutnya karya Afifah Afra, penulis fiksi islami asal Kota Surakarta. Novel ini merupakan tetralogi dengan judul “De Winst”, “De Liefde”, “De Conspiracao”, dan “De Hoop Eiland”. Novel ini berlatar era perjuangan kemerdekaan saat Indonesia dijajah oleh Belanda.
Karena mengangkat era kolonialisme, novel ini sarat dengan perjuangan dan keteguhan idealisme kemerdekaan. Cerita berfokus pada tokoh bernama RM Rangga Puruhita, keturunan bangsawan yang berkesempatan sekolah di Universitas Leiden.
Dalam usahanya memerdekakan bangsanya lewat jalur ekonomi, Rangga juga diliputi gejolak kawula muda pada seorang totok Belanda dan perempuan pribumi.
-
Nun Pada Sebuah Cermin
Novel “Nun, Pada Sebuah Cermin” adalah karya Afifah Afra yang cukup prestatif. Pada tahun 2015, novel ini berhasil masuk IBF Award dan pada platform Goodreads berhasil mendapat rating 4.08 dari 5.00.
Novel ini bercerita tentang seorang remaja perempuan cerdas bernama Nun yang harus merelakan mimpinya melanjutkan sekolah karena alasan ekonomi. Ia adalah anak yatim sejak kecil dan harus membantu ibunya yang seorang pemulung untuk menghidupi kedua adiknya.
Nun tergabung dalam grup kesenian ketoprak yang saat itu mulai sepi peminat hingga mati suri. Kesulitan-kesulitan yang ia alami selama hidupnya membuatnya banyak mendapat bantuan dari seorang laki-laki dewasa.
Nun menaruh rasa pada laki-laki itu, namun bertolak belakang. Hingga kemudian, ia kembali menemukan sosok laki-laki muda dan cerdas namun memiliki status sosial yang sangat jauh darinya.
Baca juga: Habiburrahman El Shirazy dan Masterpiece Ayat-Ayat Cinta-nya



