Jatengkita.id – Salah satu tokoh penceramah yang memiliki gaya dalam dakwahnya adalah Ma’ruf Islamuddin. Ia merupakan penceramah asal Sragen yang juga mengelola pesantren Walisongo yang sudah mendapat izin Kementerian Agama sejak tahun 1995.
Pondok Pesantren Walisongo sendiri terletak di Dukuh Sungkul, Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen. Pondok ini juga mendirikan daycare, KB, TK, SD, SMP, SMA, Pendidikan sekolah sepak bola dan futsal, Pondok Tahfidz, TPQ dan Pondok khusus ngaji kitab.
Untuk pendidikan formal bisa ditempuh pada tingkat SMP-SMA dengan kurikulum terbaru menyesuaikan Kementerian Pendidikan.
Dalam dakwahnya, Ma’ruf Islamuddin selalu menyelipkan syair-syair berbahasa Jawa yang berisi nasihat-nasihat hidup. Gaya penyampainnya tidak berapi-api, santai, dan menyisipkan humor-humor yang relevan dengan kondisi masyarakat.
Pihaknya sendiri mengakui kesenangannya pada seni dan salawat. Karena itu, ia selalu menyisipkan lagu atau macapat dalam ceramahnya. Untuk mendukung hiburan tersebut, Ma’ruf Islamuddin membentuk grup rebana Walisongo yang mengiringinya saat bersenandung di tengah ceramah.
Gaya inilah yang dinilai membuat ceramahnya jadi lebih hidup dan tidak membosankan. Ia menggunakan peluang syair-syair Jawa yang masih mengakrabi masyarakat sebagai media berdakwah. Beberapa lagu Jawa populer sering dijadikan sebagai lagu unggulan dengan mengubah liriknya.

Sebut saja lagu seperti Sri Minggat dari Sonny Josz dan Cinta Tak Terpisahkan dari Cak Diqin. Alih-alih hafal lirik asli, para pendengar justru akan menyenandungkan gubahan lirik versi Ma’ruf Islamuddin. Lagu lainnya yang juga populer adalah Tiket Suwarga dan Wahdana.
Tiket suwarga regane murah
Nanging anehe akeh sing wegah
Tumindak becik angel lakone
Akeh godane lan rintangane
Yen kuat imane slamet uripe
Tiket neraka regane larang
Nanging sing seneng kok pirang-pirang
Tumindak doso pancene gampang
Aja turuti godane setan sing ngajak marang kasengsaran
Lirik di atas merupakan bagian refrain dari lagu Tiket Suwarga. Ma’ruf Islamuddin mencoba menyampaaikan realitas bahwa godaan-godaan setan mampu menghalangi manusia untuk berbuat kebaikan. Karena itulah banyak yang berat untuk memperjuangkan surga Allah.
Sementara perbuatan-perbuatan menyimpang yang didasari pada nafsu dan belenggu setan sangatlah mudah dilakukan manusia. Neraka jadi tempat faforit yang dihuni bagi siapa saja yang melakukan banyak dosa.
Baca juga: Wajib Masuk Wishlist! 5 Wisata Sragen Cocok untuk Libur Akhir Tahun 2025


