Jatengkita.id – Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga saat ini, khususnya di Pulau Jawa, adalah weton. Weton Jawa berkaitan erat dengan penanggalan Jawa yang menggabungkan hari dalam kalender Masehi dengan siklus pasaran Jawa.
Meskipun di era modern sebagian masyarakat mulai meninggalkan tradisi-tradisi lama, nyatanya perhitungan weton masih banyak digunakan, terutama untuk menentukan hari baik dalam berbagai aspek kehidupan.
Mulai dari menentukan hari pernikahan, membangun rumah, pindah tempat tinggal, hingga memperkirakan watak atau karakter seseorang.
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif tentang pengertian weton, sejarahnya dalam budaya Jawa, fungsi-fungsinya, hingga cara menghitung weton menurut pakem yang dipercaya masyarakat.
Pengertian Weton dalam Budaya Jawa
Secara sederhana, weton dapat diartikan sebagai hari kelahiran seseorang berdasarkan perpaduan antara tujuh hari dalam kalender Masehi dan lima hari pasaran dalam kalender Jawa.
Dengan kata lain, weton adalah kombinasi dari hari kelahiran (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, atau Minggu) dengan pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), weton adalah “hari lahir seseorang dengan pasarannya”. Misalnya, seseorang lahir pada hari Sabtu dan bertepatan dengan pasaran Pon, maka wetonnya disebut Sabtu Pon. Begitu pula jika lahir pada Selasa Kliwon, maka wetonnya Selasa Kliwon.
Siklus ini selalu berulang setiap 35 hari sekali karena merupakan hasil perkalian dari 7 hari dalam kalender Masehi dengan 5 hari pasaran Jawa. Oleh sebab itu, setiap orang diyakini akan mengalami pengulangan weton setiap lima minggu sekali.
Dalam jurnal Pandangan Islam Terhadap Perhitungan Weton Dalam Kelahiran karya Ahmad Faruq (2019), dijelaskan bahwa secara etimologis, weton atau neptu diartikan sebagai “nilai”. Sedangkan secara terminologi, weton adalah angka perhitungan yang didasarkan pada hari, bulan, dan tahun Jawa.
Hal inilah yang kemudian membuat masyarakat Jawa sejak dahulu menjadikan weton sebagai pedoman penting dalam kehidupan sosial maupun spiritual.
Sejarah dan Asal Usul Weton
Budaya weton berakar dari sistem penanggalan Jawa yang sudah ada sejak masa kerajaan-kerajaan di Jawa, terutama pada era Mataram Islam. Kalender Jawa sendiri merupakan hasil perpaduan antara kalender Saka (Hindu) dengan kalender Hijriyah (Islam).
Pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645) dari Mataram Islam, sistem penanggalan Jawa diperbarui dengan memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriyah.
Dari sinilah muncul sistem penanggalan Jawa yang masih digunakan hingga kini, lengkap dengan siklus pancawara (lima hari pasaran) dan saptawara (tujuh hari dalam kalender Masehi).
Kepercayaan terhadap weton kemudian berkembang sebagai bagian dari kearifan lokal yang menyatukan unsur spiritual, sosial, dan budaya. Weton tidak hanya digunakan untuk menandai hari kelahiran, tetapi juga sebagai dasar ramalan dan pedoman dalam mengambil keputusan penting.
Fungsi Weton dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Hingga kini, weton masih diyakini memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Meskipun sebagian orang menganggapnya sebagai mitos, bagi masyarakat tradisional Jawa, weton adalah bagian dari warisan budaya yang sarat makna.
Salah satu fungsi paling populer dari weton adalah menentukan hari baik untuk melangsungkan pernikahan. Masyarakat Jawa percaya bahwa perhitungan weton kedua mempelai dapat memengaruhi keharmonisan rumah tangga, rezeki, dan keselamatan pasangan.
Dengan menghitung neptu dari masing-masing calon pengantin, kemudian dijumlahkan dan diolah sesuai aturan tertentu, masyarakat akan mengetahui apakah pernikahan tersebut membawa keberuntungan atau justru sebaliknya.
Selain itu, weton juga digunakan untuk membaca watak seseorang. Misalnya, mereka yang lahir pada hari tertentu dengan pasaran tertentu dipercaya memiliki sifat khas. Walaupun tidak mutlak, keyakinan ini masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai gambaran kepribadian seseorang.
Beberapa masyarakat Jawa juga menjalankan puasa weton, yaitu berpuasa setiap kali hari kelahirannya (wetonnya) tiba. Tradisi ini diyakini dapat membersihkan diri, menolak bala, serta meningkatkan spiritualitas.
Fungsi lain dari weton adalah menentukan hari baik dalam berbagai acara, seperti membangun rumah, pindah rumah, membuka usaha, hingga panen hasil pertanian. Semua ini bertujuan agar aktivitas yang dilakukan membawa keberkahan dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sebagian masyarakat Jawa juga percaya bahwa weton dapat dijadikan dasar untuk meramalkan nasib seseorang, termasuk kecocokan pasangan.
Bahkan, terdapat larangan tertentu, misalnya orang yang lahir pada Minggu Kliwon sebaiknya tidak menikah dengan orang yang lahir pada Senin Kliwon karena dianggap akan membawa dampak buruk bagi rumah tangganya.

Cara Menghitung Weton
Perhitungan weton pada dasarnya menggunakan nilai atau angka tertentu yang disebut neptu. Setiap hari dalam seminggu memiliki nilai neptu, begitu pula dengan lima hari pasaran Jawa.
Neptu Hari (Saptawara):
- Minggu = 5
- Senin = 4
- Selasa = 3
- Rabu = 7
- Kamis = 8
- Jumat = 6
- Sabtu = 9
Neptu Pasaran (Pancawara):
- Legi = 5
- Pahing = 9
- Pon = 7
- Wage = 4
- Kliwon = 8
Untuk mengetahui weton seseorang, nilai hari dan pasarannya dijumlahkan. Misalnya, jika seseorang lahir pada Jumat Kliwon, maka perhitungannya adalah 6 (Jumat) + 8 (Kliwon) = 14. Jika lahir pada Rabu Legi, maka 7 (Rabu) + 5 (Legi) = 12.
Kemudian, perhitungan kecocokan pernikahan biasanya menggunakan metode tertentu, salah satunya adalah tibo rampas. Caranya yaitu jumlahkan neptu masing-masing calon mempelai, hasil penjumlahannya dibagi 3, lalu lihat sisa pembagian tersebut.
Maknanya adalah, jika sisanya 1 maka dianggap kurang baik. Jika sisanya 2 maka dianggap baik, rumah tangga harmonis dan rezeki lancar. Namun jika sisanya 0 maka dianggap penuh rintangan jika tetap dilanjutkan.
Weton dan Relevansinya di Era Modern
Meski banyak yang menganggap tradisi weton sebagai mitos kuno, kenyataannya hingga kini masih banyak masyarakat Jawa yang menjadikannya pedoman. Bahkan di kalangan anak muda, weton seringkali dijadikan bahan perbincangan ringan untuk sekadar mengetahui karakter diri atau kecocokan pasangan.
Tidak sedikit pula jasa perhitungan weton ditawarkan secara daring, baik melalui media sosial maupun situs khusus, yang menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap tradisi ini masih tinggi.
Namun, sebagian kalangan, terutama dari sudut pandang agama Islam, memandang perhitungan weton perlu disikapi dengan bijak. Hal ini karena nasib dan rezeki seseorang sejatinya sudah ditentukan oleh Tuhan.
Tradisi weton sebaiknya dilihat sebagai bagian dari kearifan lokal dan warisan budaya, bukan sesuatu yang mutlak menentukan kehidupan.
Pelestarian Budaya Weton
Sebagai salah satu warisan budaya Jawa, weton memiliki nilai historis, filosofis, dan sosial yang penting. Oleh sebab itu, pelestarian tradisi ini sebaiknya dilakukan dengan pendekatan budaya, bukan semata-mata keyakinan spiritual.
Pengenalan weton kepada generasi muda, misalnya melalui pendidikan budaya lokal di sekolah, dapat menjadi salah satu cara untuk melestarikan tradisi. Dengan begitu, generasi penerus tidak hanya memahami arti weton, tetapi juga menghargai warisan leluhur.
Selain itu, digitalisasi budaya, seperti aplikasi kalender Jawa yang dapat menghitung weton secara otomatis, juga menjadi inovasi penting agar tradisi ini tetap relevan di tengah modernisasi.
Baca juga: Mengenal Tahun Duda dalam Tradisi Jawa, Benarkah Tahun Sial?
Weton adalah salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa yang menggabungkan sistem penanggalan dengan aspek spiritual dan sosial.
Dengan pemahaman yang bijak, weton dapat tetap dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia tanpa harus mengabaikan nilai-nilai agama maupun rasionalitas modern.
Sebab, pada akhirnya, weton adalah warisan budaya yang mencerminkan cara pandang leluhur Jawa dalam membaca kehidupan.
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






