Asal-Usul Ayam Geprek: Dari Kuliner Jawa hingga Menasional

Asal-Usul Ayam Geprek: Dari Kuliner Jawa hingga Menasional
(Gambar: istockphoto.com)

Jatengkita.id – Ayam geprek berawal dari ide sederhana di Yogyakarta pada awal 2000-an. Diracik oleh Ruminah, menu ini perlahan menjelma jadi ikon kuliner pedas favorit Indonesia.

Dari warung kaki lima, ayam geprek melesat ke ribuan gerai di berbagai daerah, berkat rasa pedasnya yang bikin ketagihan dan harga yang ramah di kantong.

Inovasi Tak Terduga dari Warung Mahasiswa

Pada 2003, Ruminah, membuka warung makan sederhana di Jalan Wulung Lor, Papringan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Warung kecil ini mulanya menyajikan menu rumahan berharga terjangkau seperti lotek, soto, dan ayam goreng tepung, yang menjadi solusi makan siang favorit mahasiswa.

Momen penting terjadi ketika seorang mahasiswa mengajukan permintaan ayam gorengnya digeprek dan disajikan bersama sambal agar lebih mudah disantap. Permintaan spontan tersebut justru melahirkan inovasi baru.

Ruminah kemudian menggeprek ayam krispi di atas cobek, mencampurnya dengan cabai rawit, bawang, dan terasi. Perpaduan rasa pedas dan gurih itu langsung mencuri perhatian pelanggan.

Sejak saat itu, menu ayam geprek mulai dikenal luas dan perlahan berkembang menjadi fenomena kuliner yang kini menjamur di berbagai daerah di Indonesia.

ayam geprek
(Gambar: istockphoto.com)

Ledakan Popularitas: Dari Jogja ke Seluruh Nusantara

Ayam geprek racikan Ruminah menyebar cepat ke berbagai kota seperti Solo dan Semarang, dibawa para mahasiswa yang pulang ke kampung halaman. Popularitasnya terus menanjak hingga mencapai puncak pada 2017.

Media sosial dan layanan ojek online mencatat penjualan ratusan juta porsi secara nasional, menjadikannya pesaing serius ayam goreng tepung bermerek.

Dalam waktu singkat, gerai ayam geprek bermunculan di Bandung, Surabaya, hingga Makassar. Daya tarik utamanya terletak pada harga yang ramah di kantong, berkisar Rp15.000 hingga Rp25.000. Selain itu juga sensasi pedas yang bikin ketagihan, pas untuk anak muda dan pekerja.

Saat pandemi 2020, layanan pesan-antar melonjak hingga dua kali lipat, semakin mengukuhkan posisi ayam geprek di pasar. Kini, menu ini mudah ditemui mulai dari mal mewah hingga warung pinggir jalan di Papua.

Hingga 2025, jumlah gerainya telah melampaui  lima ribu unit. Dari dapur rumahan di Yogyakarta, ayam geprek menjelma menjadi fenomena kuliner nasional yang membuktikan kekuatan cita rasa lokal menaklukkan Indonesia.

Evolusi Menu: Dari Tradisional ke Modern

Versi asli racikan Ruminah sejatinya sangat sederhana. Ayam goreng tepung tipis yang langsung digeprek bersama sambal bawang super pedas, lalu disajikan dengan lalapan kemangi dan irisan timun segar. Kesederhanaan inilah yang justru jadi kekuatannya—pedas, gurih, dan jujur dari dapur rumahan.

Memasuki 2017, ayam geprek mulai bertransformasi mengikuti selera zaman. Keju mozarella leleh hadir menciptakan efek cheese pull yang menggoda kamera media sosial. Sementara sentuhan pedas ala Korea menjadikannya favorit generasi Z.

Sambal pun tak lagi terpaku pada resep klasik. Muncul beragam varian kreatif seperti sambal matah khas Bali, lombok ijo yang segar, sambal korek ala Manado, kemangi harum, hingga taburan daun jeruk purut yang wangi.

Inovasi terus melaju ke ranah menu kekinian. Ada geprek bowl dengan nasi hangat sebagai alas, geprek jumbo berbahan seafood, hingga versi vegan berbahan jamur oyster yang menyesuaikan tren hidup sehat 2025.

Beragam topping tambahan, mulai dari telur asin lumer, mangga muda asam manis, hingga saus susu gula aren, membuat paket harga Rp20.000-an makin laris di layanan pesan-antar.

Lewat transformasi ini, ayam geprek berhasil menjaga ruh “geprekan” aslinya sekaligus berani menantang dominasi fast food import. Sebuah adaptasi cerdas yang menunjukkan betapa dinamisnya kuliner Nusantara.

Baca juga: 11 Kreasi Olahan Ayam yang Menggugah Selera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *