Jejak Tradisi Sehat ala Jawa dalam Tren Makanan Kukusan

Jejak Tradisi Sehat ala Jawa dalam Tren Makanan Kukusan
(Gambar: nutrimax.co.id)

Jatengkita.id – Dalam beberapa waktu terakhir, kehadiran pedagang makanan kukusan semakin mudah ditemui di berbagai sudut kota. Dari kawasan permukiman hingga pusat keramaian, jajanan sederhana seperti ubi, singkong, pisang, jagung, dan talas kukus kembali diminati masyarakat.

Dari yang semula banyaknya tren konsumsi  junk food dan beralih ke jajanan hingga makanan kukusan menunjukan bahwa fenomena ini bukan sekadar tren kuliner musiman, melainkan cerminan meningkatnya kesadaran akan pola makan sehat masyarakat yang berakar dari tradisi budaya lokal Jawa.

Kukusan Tradisi Sehat Jawa

Bagi masyarakat Jawa, teknik memasak dengan cara dikukus bukanlah hal baru. Sejak lama, metode ini dikenal sebagai cara mengolah pangan yang sederhana namun menyehatkan.

Berbeda dengan proses menggoreng yang menggunakan banyak minyak, kukusan mampu mempertahankan rasa asli bahan makanan sekaligus menjaga kandungan gizinya.

Kesederhanaan inilah yang justru menjadi nilai utama, karena menghadirkan makanan yang ramah bagi tubuh dan seimbang untuk dikonsumsi sehari-hari.

Kian maraknya pedagang kukusan juga berkaitan dengan kekhawatiran masyarakat terhadap dampak makanan berminyak dan tinggi gula. Makanan kukus relatif rendah lemak, mudah dicerna, dan cukup mengenyangkan.

Karena inilah makanan kukusan cocok dikonsumsi oleh berbagai kalangan, termasuk generasi muda dan mahasiswa yang membutuhkan menu sehat dengan harga terjangkau. Tak heran jika menu sarapan kukusan kini kembali dilirik sebagai pilihan praktis tanpa rasa bersalah.

Di tengah dominasi makanan cepat saji, fenomena ini juga bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan budaya terhadap gaya hidup instan. Kukusan hadir sebagai pengingat bahwa pangan lokal tidak hanya memiliki nilai kesehatan, tetapi juga menyimpan identitas budaya.

Dalam pandangan Jawa, makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan jasmani dan rohani.

Menariknya, pedagang kukusan kini mulai berinovasi dengan kemasan yang lebih modern, penyajian yang rapi, serta variasi menu yang semakin beragam. Tradisi pun tidak ditinggalkan, melainkan diadaptasi agar tetap relevan dengan selera zaman.

Fenomena ini menegaskan bahwa gaya hidup sehat tidak selalu identik dengan makanan mahal atau impor. Tetapi justru dapat ditemukan dari pangan lokal yang sederhana dan berkelanjutan.

makanan kukusan
(Gambar: s1pbsj.fbs.unesa.ac.id)

Popularitas dan Ragam Pengolahan

Popularitas makanan kukusan juga ramai diperbincangkan di media sosial, di mana pedagang sarapan kukusan kerap diserbu anak muda. Padahal, kebiasaan mengonsumsi makanan kukus sudah dikenal sejak masa Jawa kuno.

Umumnya, satu porsi menu kukusan berisi aneka umbi seperti ubi jalar, ubi ungu, singkong, hingga labu kuning, dilengkapi jagung, pisang, kacang-kacangan, atau edamame. Dengan harga berkisar Rp5.000–Rp10.000 per porsi, menu ini dianggap mampu memberi energi sekaligus menjaga kesehatan tubuh.

Menurut pakar kuliner sekaligus Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan dari Universitas Gadjah Mada, Murdijati-Gardjito, kebiasaan makan masyarakat Jawa telah menjadi bagian dari pengetahuan dan teknologi alami sejak zaman kuno.

Ia menjelaskan bahwa orang Jawa memiliki pemahaman khusus dalam mengelompokkan hasil bumi, seperti polo kependem untuk umbi-umbian yang tumbuh di dalam tanah, pari untuk padi, polowija untuk jagung dan kacang-kacangan, pala gemantung untuk buah yang menggantung, serta pala kesimpar untuk hasil bumi yang tumbuh di atas tanah.

Dari pengelompokan tersebut, masyarakat kemudian mengolah dan menyajikannya sesuai dengan kreativitas dan selera daerah masing-masing. Di Jawa Timur, misalnya, umbi kukus kerap disajikan dengan cocolan petis.

Sementara di wilayah lain seperti Jawa Barat atau Kalimantan, metode pengolahan dan penyajiannya bisa berbeda. Semua itu menunjukkan bahwa makanan kukusan bukan sekadar tren baru, melainkan warisan pengetahuan pangan yang terus hidup dan beradaptasi secara  lintas generasi.

Baca juga: 6 Kuliner Jawa Tengah dari Jagung, Tradisional hingga Modern

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *