Mencicipi Nasi Koyor Semarang, Kuliner Legendaris Sejak 1955

Mencicipi Nasi Koyor Semarang, Kuliner Legendaris Sejak 1955
(Gambar: lalamove.com)

Jatengkita.id – Berjalan-jalan di kawasan Kota Lama Semarang tak lengkap rasanya jika hanya menikmati bangunan tua dan suasana klasik.

Di balik deretan bangunan bergaya kolonial, tersimpan pula cerita kuliner yang telah melewati perjalanan panjang dan masih bertahan hingga sekarang.

Salah satunya adalah Nasi Koyor Kota Lama, kuliner sederhana yang telah dikenal sejak 1955. Berada di kawasan Kota Lama, tepatnya di Jalan Gelatik, kuliner ini menjadi salah satu sajian yang menarik perhatian pencinta makanan tradisional ketika berkunjung ke Semarang.

Usianya bahkan sudah jauh melampaui beberapa generasi. Di tengah perkembangan Kota Lama yang semakin modern dan menjadi salah satu tujuan wisata populer, warung nasi koyor tersebut tetap mempertahankan konsep sederhana dan cita rasa yang diwariskan keluarga.

Bukan Sekadar Nasi dengan Urat Sapi

Bagi sebagian orang yang belum mengenalnya, nama nasi koyor mungkin terdengar asing.

Koyor sendiri merujuk pada bagian urat atau jaringan otot sapi yang memiliki tekstur kenyal. Bahan tersebut kemudian diolah dengan bumbu hingga menghasilkan rasa gurih, manis, dan kaya rempah.

Baca juga: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gudeg Yogyakarta dengan Solo

Dalam satu porsi nasi koyor, pengunjung umumnya mendapatkan nasi putih hangat yang dipadukan dengan potongan koyor, sayuran, sambal, serta berbagai lauk pendamping. Beberapa penyajian juga dilengkapi telur, tahu, tempe, atau gudeg.

Perpaduan tersebut membuat nasi koyor memiliki karakter rasa yang cukup kuat. Bagi pencinta makanan tradisional, sajian ini menawarkan pengalaman berbeda dari kuliner Semarang yang lebih dulu populer seperti lumpia, tahu gimbal, maupun wingko.

Sudah Ada Sejak 1955

Yang membuat Nasi Koyor Kota Lama semakin menarik bukan hanya rasanya, tetapi juga sejarah panjang di balik warung tersebut.

Menurut artikel Putra Indo News, warung Nasi Koyor Kota Lama telah ada sejak 1955. Kisahnya bermula dari keluarga yang telah berjualan nasi koyor.

Ayah Yulianti, yang kemudian menjadi generasi penerus, disebut pernah bekerja sebagai petugas keamanan di sekitar Gedung Marba. Yulianti bersama suaminya kemudian meneruskan usaha tersebut sebagai generasi kedua.

(Gambar: regional.espos.id)

Cara Memasak Tradisional dan Resep Keluarga yang Dipertahankan

Salah satu hal yang membuat kuliner lawas tetap menarik adalah cara pengolahannya.

Putra Indo News menyebut warung Nasi Koyor Kota Lama masih menggunakan peralatan dan metode tradisional, termasuk arang untuk memasak koyor. Menurut pemilik, penggunaan arang dipercaya memberikan aroma dan cita rasa tersendiri pada masakan.

Aroma asap dari proses memasak dengan arang juga dapat memberikan karakter tersendiri pada makanan.

Selain teknik memasak, resep menjadi bagian penting dari keberlangsungan Nasi Koyor Kota Lama.

Yulianti disebut masih menggunakan resep keluarga yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Bahkan, meskipun zaman berubah dan kawasan Kota Lama terus mengalami penataan, warung tersebut tetap mempertahankan keaslian cita rasanya.

Warung Sederhana yang Pernah Jadi Langganan

Warung Nasi Koyor Kota lama erada di kawasan Jalan Gelatik No. 7, Purwodinatan, Semarang Tengah, di sekitar Gedung Marba dan Gedung Spiegel. Lokasi ini membuat pengunjung dapat sekaligus menikmati suasana kawasan Kota Lama setelah menyantap hidangan.

Di satu sisi, pengunjung dapat menikmati bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur kolonial. Di sisi lain, mereka bisa menemukan warung tradisional yang telah bertahan selama puluhan tahun.

Namun, jam operasional dan harga makanan dapat berubah sehingga sebaiknya pengunjung mengecek informasi terbaru sebelum datang.

Baca juga: Serunya Pasar Sentiling Semarang, Jelajahi Ragam Kuliner Nusantara

Popularitas Nasi Koyor Kota Lama juga tercermin dari cerita mengenai para pelanggannya.

Dalam artikel Putra Indo News, pemilik warung menyebut sejumlah tokoh pernah mampir untuk menikmati nasi koyor di tempat tersebut. Daya tarik utama warung ini tetap terletak pada makanannya.

Nasi koyor bukan kuliner yang mengandalkan tampilan mewah. Hidangannya justru hadir dalam bentuk sederhana, tetapi menawarkan rasa khas makanan rumahan Jawa yang kaya bumbu.

Karakter tersebut membuatnya mudah diterima berbagai kalangan, terutama mereka yang ingin merasakan kuliner tradisional ketika berkunjung ke Semarang.

Perjalanan Nasi Koyor Kota Lama tidak selalu berjalan mulus. Pemilik warung pernah menghadapi persoalan terkait rencana pemindahan serta dampak perbaikan kawasan yang sempat membuat pelanggan berkurang. Meski demikian, warung tersebut tetap bertahan. 

Join saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi menarik seputar Jawa Tengah

Exit mobile version