4 Bandara di Jawa Tengah Selain Ahmad Yani dan Adi Soemarmo

4 Bandara di Jawa Tengah Selain Ahmad Yani dan Adi Soemarmo
Lanud Jenderal Besar Soedirman (Gambar: infopublik.id)

Jatengkita.id – Dari sekian banyak bandara yang ada di Jawa Tengah mana yang paling kamu ingat? Memang, bandara Ahmad Yani dan Adi Soemarmo jadi bandara paling populer di provinsi ini. Padahal ada 4 bandara di Jawa Tengah lainnya yang tak kalah fungsional dibanding kedua bandara populer itu.

Selain fungsi dan fasilitasnya, ada sejumlah alasan mengapa bandara-bandara berikut ini tak boleh dilupakan peran fungsionalnya. Meski berada didaerah atau kota yang tak cukup populer, tapi fungsi dari 4 bandara ini tak boleh diragukan!

  1. Bandara Jenderal Besar Soedirman
bandara di jawa  tengah
(Gambar: arahkita.com)

Bandara pertama adalah Lanud Jenderal Besar Seodirman. Landasan pacu pesawat ini ini berada di kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Keunikan dari bandara ini adalah pembangunannya yang dilakukan di atas lahan milik TNI AU. Bandara ini juga sudah ada sejak tahun 1938 di mana pada masa itu pemerintahan Hindia Belanda masih berkuasa.

Memiliki landasan pacu seluas 1.600 m dengan luas terminal mencapai 1.353 m2 membuat bandara Jenderal Besar Soedirman mampu menampung 200.000 penumpang per tahunnya.

Dikelola oleh pasukan TNI AU, bandara Jenderal Besar Sudirman melayani penerbangan Citilink dengan rute Jakarta-Halim Perdana Kusuma.

2. Bandara Tunggul Wulung

(Gambar: katadata.co.id)

Bandara Tunggul Wulung jadi bandara kedua yang jadi salah satu dari 4 bandara di Jawa Tengah yang tak kalah fungsional dari Ahmad Yani dan Adi Soemarmo. Kawasan ini bertujuan mendukung personel proyek pembangunan kilang minyak dan mobilitas di Cilacap.

Namun kini, bandara tersebut juga melayani penerbangan umum. Sejumlah maskapai yang mengadakan jalur penerbangan melewati bandara ini di antaranya Merpati Nusantara Airlines dan Wings Air.

Fasilitas lain yang disediakan Bandara Tunggul Wulung adalah penerbangan malam dan adanya sekolah penerbangan bernama Perkasa Flight School dan Genesa Academy.

Sebagai bandara yang ada di wilayah eks keresidenan Banyumas, bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 1.400 x 30 m dan luas terminal mencapai 777 m2.

Dikelola oleh UPT Ditjen Hubud, Bandara Tunggul Wulung masuk kedalam bandara kelas III. Bandara ini sudah ada sejak tahun 1977 dan pengambilan namanya berasal dari nama senopati Tunggul Wulung. Dan sampai kini masih aktif digunakan.

Baca juga: Deretan Kota Metropolitan di Jawa Tengah, Modis dan Kontributif

3. Bandara Dewadaru

(Gambar: radarkudus.jawapos.com)

Bandara yang ketiga adalah Dewadaru. Dewadaru sendiri merupakan nama yang diambil dari nama pohon Dewadaru yang hanya ada di kawasan Karimunjawa.

Berada di 22 km dari pusat Kota Jepara, bandara ini memiliki panjang lapangan pacu 1.200 x 30 m. Dewadaru juga melayani maskapai penerbangan Airfast Indonesia dan Wings Air. Sementara jenis pesawat terbesar yang bisa mendarat di bandara ini, yaitu ATR 72-600.

Memiliki luas terminal sebesar 220 m2, bandara Dewadaru fokus melayani rute penerbangan domestik dan rute penerbangan internasional. Desain bandara yang unik dan terinspirasi dari bangunan candi yang ada di Jepara membuat bendara ini semakin menarik untuk dijadikan pilihan memulai perjalanan udara.

4. Bandara Ngloram

(Gambar: industry.co.id)

Bandara terakhri adalah Bandara Ngloram. Kawasan ini sudah dibangun sejak tahun 1980 dan terletak di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Memiliki landasan pacu seluas 1.500 m dan terminal seluas 3.200 m2, pada mulanya bandara ini dibangun untuk mendukung proyek minyak dan gas yang ada di kawasan Blora.

Bandara Ngloram sendiri mampu menampung penumpang sebanyyak 210 ribu orang tiap tahunnya dengan maskapai penerbangan Citilink rute Jakarta, Halim Perdana Kususuma, dan Surabaya.

Desain unik dengan corak daun jadi jadi daya bandara yang ada di kabupaten Blora ini. Mengusung konsep eco airport, bandara satu ini menciptakan fasilitas dengan teknologi canggih berupa sistem pencahayaan buatan dari lampu LED, sistem pencahayaan alami dari atap sunroof, hingga ventilasi siang yang memaksimalkan pergerakan angin.

Tersebar di sejumlah daerah di Jawa Tengah membuat bandara-bandara tersebut mampu memudahkan mobilitas masyarakat yang ada di sekitarnya tanpa harus menuju bandara populer, seperti Ahmad Yani dan Adi Soemarmo saja.

Gimana menurutmu, apakah kamu sudah pernah mencoba penerbangan dari salah satu dari empat bandara tersebut? Coba komen di kolom komentar!

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *