Jatengkita.id – Ternyata tak banyak orang yang mengetahui bahwa di balik perbukitan Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, berdiri sebuah bangunan unik berbentuk piramida. Konstruksi tersebut menyimpan kisah panjang penuh misteri.
Bangunan yang kini dikenal dengan nama Piramida Rowosari ini awalnya dibangun pada awal 1990-an. Dulu, piramida ini dirancang sebagai kantor pemasaran untuk mega proyek pengembangan perumahan di kawasan Semarang bagian timur.
Proyek tersebut digagas oleh pengembang properti dengan visi membangun kota satelit baru lengkap dengan infrastruktur pendukungnya.
Namun, rencana besar itu tidak berjalan mulus karena terkendala masalah finansial, sehingga pembangunan terhenti di tengah jalan dan bangunan piramida tersebut pun ditinggalkan begitu saja.
Seiring waktu, Piramida Rowosari berubah menjadi bangunan terbengkalai yang menyisakan rangka dan fondasi utamanya. Furnitur, kaca, serta berbagai ornamen yang dahulu menghiasi bagian dalam dan luar bangunan perlahan hilang akibat kerusakan dan pencurian.
Area sekitar piramida pun dipenuhi semak belukar, tumbuhan liar, pecahan kaca, dan coretan di dinding. Pemandangan ini menciptakan suasana sunyi yang kerap dianggap menyeramkan.
Kondisi inilah yang kemudian memunculkan berbagai cerita mistis di kalangan warga sekitar. Ada cerita tentang kesan angker hingga kisah-kisah yang membuat bangunan ini semakin jarang dijamah masyarakat umum.

Pesona dan daya Tarik Rowosari
Meski identik dengan nuansa misteri, Piramida Rowosari justru menawarkan pesona alam yang luar biasa. Berdiri di atas bukit dengan latar hutan hijau, bangunan ini menyuguhkan panorama Kota Semarang.
Saat cuaca cerah, pengunjung dapat melihat hamparan perbukitan, permukiman kota, hingga garis cakrawala yang tampak indah, terutama saat matahari terbit dan terbenam. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati jalur yang cukup menantang dengan kontur jalan terjal berbatu.
Rute menuju piramida umumnya hanya bisa dilalui sepeda motor atau dengan berjalan kaki, dan akan terasa lebih licin serta berbahaya ketika musim hujan tiba.
Melihat potensi besar yang dimiliki kawasan ini, Pemerintah Kota Semarang mulai melakukan pengembangan sejak 2022 dengan memperbaiki akses jalan menuju Bukit Rowosari. Kawasan Piramida Rowosari kemudian diproyeksikan sebagai destinasi wisata olahraga, khususnya paralayang.
Hal ini lantaran kondisi geografisnya dinilai sangat mendukung. Bahkan, potensi paralayang di kawasan ini sebenarnya telah dikenal sejak 2005. Terdapat dua jalur utama menuju lokasi, yakni melalui Rowosari atas dan jalur belakang Kabupaten Demak di kawasan Mranggen Selatan.
Hingga kini, mayoritas pengunjung Piramida Rowosari masih didominasi oleh atlet paralayang. Mereka datang untuk berlatih maupun meningkatkan kemampuan terbang.
Dengan tarif sekitar Rp200.000 per orang yang sudah termasuk pendampingan pelatih, pengunjung dapat merasakan sensasi paralayang sambil menikmati pemandangan Kota Semarang dari sudut pandang yang berbeda.
Di balik kesan mistis dan bangunan yang tak lagi utuh, Piramida Rowosari menyimpan potensi wisata yang unik dan berbeda dari destinasi lain di Semarang.
Perpaduan antara cerita masa lalu, nuansa misteri, tantangan akses, serta panorama alam yang menawan menjadikan tempat ini memiliki daya tarik tersendiri.
Ke depannya, banyak pihak berharap kawasan ini dapat dikelola dan dikembangkan secara optimal dengan penambahan fasilitas pendukung.
Dengan begitu, Piramida Rowosari tidak dikenal sebagai bangunan misterius di atas bukit. Tempat ini bisa dibranding sebagai salah satu ikon wisata outdoor dan petualangan unggulan di Kota Semarang.
Baca juga: Brown Canyon Semarang, Wisata Eksotis yang Terancam Berakhir Tragis






