Tempe Kemul Wonosobo, Cuma Gorengan Tapi Jadi Warisan

Tempe Kemul Wonosobo, Cuma Gorengan Tapi Jadi Warisan
(Gambar: Pinterest)

Jatengkita.id – Bayangkan seiris tempe sederhana yang disulap jadi luar biasa berkat balutan adonan tipis nan ajaib, renyah di luar dan gurih di dalam, dengan aroma kucai segar yang langsung menggoda sejak gigitan pertama. Tempe Kemul Wonosobo bukan cuma teman ngemil atau lauk pelengkap.

Kuliner ini jadi kebanggaan khas Wonosobo yang kini resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional. 

Asal Usul Legendaris Tempe Kemul Wonosobo

Di kaki Dieng yang berkabut, Tempe Kemul lahir dan tumbuh sebagai camilan rakyat yang penuh cerita. Istilah “kemul” diambil dari bahasa Jawa yang berarti selimut, merujuk pada lapisan tepung berbumbu yang membungkus tempe dengan hangat dan pas. 

Resepnya mengalir turun-temurun. Tempe setengah matang dipotong tipis, dibalut adonan khas, lalu digoreng singkat hingga merekah kriuk. Dari proses sederhana inilah lahir rasa autentik yang mencerminkan kearifan lokal petani tempe Wonosobo.

Keistimewaan yang Bikin Nagih

Ini jelas bukan sekadar tempe goreng biasa. Tempe Kemul tampil mencolok dengan taburan kucai yang melimpah. Tampilan itu menghadirkan aroma segar yang langsung membedakannya dari mendoan yang cenderung lembek.

Adonan tepungnya diramu dari campuran gandum dan tapioka dan diperkaya kunyit asli yang memberi warna kuning alami. Lalu ditambah pati basa atau tepung beras agar hasilnya renyah di luar namun tetap lembut di dalam. 

Sentuhan rempah khas Wonosobo menghadirkan rasa gurih dengan manis tipis yang bikin susah berhenti mengunyah. Paling nikmat disantap sebagai pendamping nasi megono atau mie ongklok.

Tapi tak kalah seru dinikmati begitu saja sebagai camilan hangat di udara dingin Dieng. Tak heran kalau anak muda pun jatuh hati pada kriuknya yang nagih.

tempe kemul wonosobo
(Gambar: Pinterest)

Bukan Sembarang Tempe, Kok Bisa WBTb? 

Penetapan Tempe Kemul sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional pada 2022 jelas bukan penghargaan simbolis semata.

Melalui pengakuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tempe Kemul diakui sebagai tradisi kuliner hidup yang unik, terus dijaga, dan melekat kuat pada identitas Wonosobo

Dari dapur-dapur sederhana inilah terlihat bahwa sesuatu yang kerap dianggap “cuma tempe” nyatanya menyimpan nilai budaya tinggi.

Resep yang diwariskan turun-temurun, proses pembuatan manual yang penuh ketelatenan, hingga perannya dalam kehidupan sosial masyarakat sebagai suguhan tamu dan pelengkap hajatan.

Bukan tentang kemewahan atau tren, melainkan kearifan lokal yang lahir dari keseharian dan kini siap dikenal lebih luas.

Status WBTb ini sekaligus menegaskan Tempe Kemul sebagai kuliner khas Wonosobo, melindunginya dari sekadar tiru-meniru, sambil membuka peluang ekonomi bagi para petani dan perajin tempe lokal.

Resep Tempe Kemul Wonosobo

Bahan yang dibutuhkan cukup satu papan tempe sekitar 300 gram yang diiris tipis, lalu campuran tepung terigu, tapioka, dan sedikit tepung beras agar teksturnya pas. Tambahkan irisan kucai segar dan air atau santan untuk cita rasa yang lebih gurih.

Sementara itu, bumbu halusnya terdiri dari bawang merah, bawang putih, kunyit atau kencur, ketumbar, dan garam, racikan sederhana yang jadi ciri khas Tempe Kemul.

Cara membuatnya, campurkan semua tepung, bumbu halus, dan cairan hingga menjadi adonan kental. Masukkan kucai, lalu diamkan sekitar 10 menit supaya bumbu menyatu.

Irisan tempe kemudian dicelupkan ke adonan dan digoreng dalam minyak panas bersuhu sekitar 170°C hingga mengembang dan berwarna keemasan, cukup 2–3 menit saja.

Agar hasilnya ekstra kriuk, gunakan tempe setengah matang dan goreng dengan api sedang. Sajikan bersama sambal kecap pedas, atau simpan. Tempe Kemul ini tetap renyah dan nikmat hingga dua hari.

Baca juga: Nasi Megono: 2 Rasa 2 Cerita dari Pekalongan dan Wonosobo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *