Jatengkita.id – Di balik hiruk-pikuk jalan kota Purwokerto, Kampung Dayak Purwokerto berdiri sebagai salah satu wilayah yang paling sering menjadi sorotan publik. Bukan karena keindahan atau kekayaan budayanya, tetapi karena kisah sosial yang menyentak nurani masyarakat.
Daerah ini dulunya dikenal sebagai area yang sarat masalah. Pada dekade terakhir, kampung kecil ini mengalami perjalanan panjang menuju transformasi yang mencerminkan harapan sekaligus tantangan nyata di tengah kota.
Nama “Kampung Dayak” bukanlah penanda keberadaan suku Dayak asli dari Kalimantan sebagaimana istilah etnik yang benar. Julukan masyarakat tersebut melekat karena sejarah sosialnya.
Secara administratif, kawasan ini merupakan bagian dari Kelurahan Karangklesem, Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Julukan ini muncul sejak masa lalu ketika kampung identik dengan kehidupan kumuh dan sering dikaitkan dengan keberadaan para gelandangan, pengemis, pekerja seks komersial (PSK), waria, hingga anak-anak terlantar di jalanan.
Dalam kajian sosial yang pernah dilakukan, Kampung Dayak digambarkan sebagai wilayah urban padat penduduk dengan tingkat ekonomi yang sangat rendah dan isolasi sosial yang tajam. Pemukiman ini tidak lahir dari perencanaan formal.
Kawasan Dayak berkembang sebagai tempat tinggal bagi mereka yang terpinggirkan dan tidak mampu memperoleh akses layak ke layanan sosial dasar.
Anak-anak di kampung ini bahkan sejak dini terlibat dalam kegiatan mencari nafkah melalui mengemis, mengamen, dan memulung untuk membantu penghasilan keluarga.
Puncak Sorotan Sosial
Reputasi kampung sebagai wilayah bermasalah mencapai puncaknya kala berbagai laporan media menyoroti aktivitas kriminal dan eksploitasi sosial di kawasan ini. Di beberapa pemberitaan yang beredar, Kampung Dayak digambarkan sebagai area yang “isinya preman, PSK hingga waria”.
Gambaran tersebut mencerminkan stereotip keras masyarakat tentang realitas sosial di sana, di mana aturan formal kerap tergelincir dan kehidupan marginal mendominasi.
Pendekatan jurnalistik terhadap kehidupan di kampung ini sering menyoroti kasus-kasus tragis. Misalnya saja, anak-anak yang “dijajakan” orangtuanya untuk mencari uang di jalanan dan fenomena yang mengundang keprihatinan aktivis dan warga sekitar.
Meski laporan yang beredar bersifat viral di media sosial, gambaran tersebut menguatkan narasi tentang tekanan ekonomi dan kurangnya perlindungan sosial. Kondisi ini dihadapi oleh keluarga miskin di area urban seperti Purwokerto.
Kampung Dayak pernah menjadi simbol kesenjangan sosial di kota kecil ini. Tinggal di lingkungan yang sangat padat, banyak keluarga menghadapi masalah struktural seperti akses pendidikan yang rendah, pekerjaan tidak tetap, dan stigma sosial.
Jumlah warga yang hidup di bawah garis kemiskinan di kawasan ini jauh di atas rata-rata kota. Ironisnya, stigma “kampung bermasalah” semakin memperkuat marginalisasi mereka.
Lebih jauh lagi, sebuah studi akademik menyatakan bahwa kondisi lingkungan yang keras memengaruhi kondisi mental dan psikis anak-anak yang tumbuh di sana.
Mereka sering dipaksa bekerja untuk keluarga sejak usia dini. Hal tersebut berdampak pada stres, kecemasan, dan pola perilaku menyimpang karena kurangnya dukungan sosial yang sehat.

Transformasi Menuju Sri Rahayu
Perubahan besar mulai terlihat ketika berbagai lembaga pemerintah dan organisasi kemasyarakatan turun tangan untuk melakukan pembinaan. Kawasan itu perlahan berganti nama menjadi Kampung Sri Rahayu.
Ini adalah sebuah upaya simbolik dan strategis untuk menghapus stigma lama dan membuka jalan bagi identitas baru yang lebih positif.
Program pemberdayaan masyarakat dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Sri Rahayu, memberikan pembinaan pendidikan anak, pelatihan keterampilan bagi orang dewasa, hingga akses layanan dasar seperti kesehatan.
Pendampingan ini bertujuan mengalihkan warga dari pekerjaan informal yang tidak aman. Selain itu juga membangun kapasitas mereka untuk mendapatkan pekerjaan layak, membuka usaha kecil, dan memperkuat modal sosial di komunitas.
Cerita transformasi ini menjadi bukti bahwa perubahan sosial nyata bisa terjadi ketika dukungan sistemik diberikan secara berkelanjutan.
Anak-anak yang dulu menjadi pengemis kini memiliki peluang untuk sekolah secara teratur. Sementara keterampilan orang dewasa akan membuka peluang usaha baru yang lebih produktif.
Meskipun begitu, tantangan masih jauh dari selesai. Masih ada sejumlah warga yang berjuang keluar dari jebakan kemiskinan struktural dan stigma sosial. Pembinaan harus terus berlanjut, termasuk dukungan akses kesehatan mental, pendidikan formal, dan kesempatan kerja yang layak.
Komunitas kampung juga perlu terus mendapatkan ruang dialog dengan pemerintah daerah agar suara mereka didengar dan kebutuhan mereka terpenuhi dengan tepat.
Kisah Kampung Dayak Purwokerto yang kini berubah menjadi Sri Rahayu adalah cermin kompleksitas urbanisasi di Indonesia. Dari kampung yang dahulu kerap dipandang sebagai “sarang sosial”, kini perlahan tumbuh menjadi komunitas yang berjuang membangun masa depan lebih layak.
Perjalanan ini, meski masih panjang, menunjukkan bahwa dengan sinergi antarlembaga dan masyarakat, perubahan sosial yang substansial bukan sekadar impian.
Baca juga: 7 Alasan Kota Purwokerto Jadi Pilihan Ideal Hidup Berkualitas






