Sejarah Tradisi Sebar Apem Klaten, Serunya Ngalap Berkah

Sejarah Tradisi Sebar Apem Klaten, Serunya Ngalap Berkah
(Gambar : joglojateng.com)

Jatengkita.id – Tradisi Sebar Apem Klaten di Jatinom terkait erat dengan tradisi “Ya Qowiyyu” yang menggabungkan ritual islam dengan budaya. Tradisi ini diperkenalkan oleh Ki Ageng Gribig yang menggunakan metode dakwah dengan cara menyebarkan ajaran islam melalui praktik budaya.

Dalam tradisi tersebut, prosesi terbagi menjadi tiga poin utama, yaitu Pembukaan, Kirab Apem, dan Sebaran Apem. Di dalam rangkaian tradisi tersebut, terdapat aspek-aspek pendukung yang melengkapi tradisi.

Hal ini bertujuan agar acara berjalan lebih meriah. Sehingga, beberapa dukungan untuk acara yang dilakukan masyarakat dan golongan lainnya seperti jathilan, lomba gejug lesung, drum band berasal dari aspirasi kemasyarakatan.

Acara pembuka biasanya berasal dari aspek-aspek pemerintahan, baik pemerintahan secara kelurahan, kecamatan, maupun kabupaten, dan sebagai pelengkap dari masyarakatan setempat. Kirab dimulai dari kantor kecamatan Jatinom sebagai awal pelaksanaan acara kirab.

Sebelum hari Sebaran Apem, masyarakat melakukan kirab gunungan apem. Gunungan apem yang dibawa terdapat dua buah gunungan yaitu Gunungan Lanang (laki-laki) dan Gunungan Wadon (perempuan).

Tradisi Sebar Apem Klaten
(Gambar : Pemerintah Provinsi Jawa Tengah)

Kirab budaya ini dilakukan dari Kantor Kecamatan Jatinom hingga Masjid Besar Jatinom. Apem terlebih dahulu disemayamkan di Halaman Kantor Kecamatan Jatinom dengan uborampe atau bagian yang akan dibawa ke Masjid Alit dan Masjid Besar serta digunakan di dalam acara sebaran apem nantinya.

Tradisi Sebar Apem diikuti ribuan warga dari dalam maupun luar kota yang berkumpul di pelataran Sendang Plampeyan, Jatinom. Seusai salat Jumat, dua gunungan kue apem Lanang dan Wadon diturunkan ke pelataran Sendang Plampeyan untuk didoakan.

Setelahnya, kue apem disebar oleh Pengelola Pelestari Peninggalan Ki Ageng Gribig dari dua bangunan menara dan masyarakat yang telah menunggu. Masyarakat meyakini akan mendapatkan berkah jika berhasil mendapatkan kue yang dikenal dengan “Apem Yaa Qowiyyu”

Dalam tradisi ini, ada tempat-tempat khusus yang ada di sekitar desa Jatinom sebagai ruang utama, seperti Masjid Besar Jatinom, Lapangan Klampeyan, Jalan Desa, dan Makam Ki Ageng Gribig. Sedangkan ruang yang bersifat baru adalah Kantor Kecamatan Jatinom, Lapangan Bonyokan, dan lainnya.

Sejarah Tradisi

Jatinom dahulu merupakan desa perdikan yang terbentuk akibat dari tokoh penyebar agama Islam, yaitu Ki Ageng Gribig yang juga berhasil memerangi pemberontakan dengan Sultan Agung. Dikarenakan jasa yang dilakukan tersebut, Ki Ageng Gribig meminta tanah yang sekarang menjadi Jatinom.

Cerita berawal saat Ki Ageng Gribig suatu hari selepas pulang haji, membagikan kue arab kepada sanak saudara, tetangga, dan masyarakat sekitar sebagai ungkapan rasa syukur. Karena banyaknya permintaan, warga yang ingin meminta bertambah banyak.

Maka istrinya membuat kue yang serupa dan dikenal dengan sebutan kue apem yang berasal dari Bahasa Arab “afwun” yang berarti ampunan. Pembagian kue apem dilakukan dengan cara disebarkan hingga akhirnya menjadi sebuah tradisi yang sampai sekarang dikenal sebagai tradisi sebaran apem.

Banyaknya minat masyarakat, maka Ki Ageng Gribig menyerahkan tugas menyelenggarakan tradisi ini setiap tahun. Tradisi Sebaran Apem menjadi kegiatan tahunan yang diadakan oleh warga Jatinom dan menjadi tradisi unggulan yang ada di daerah ini.

Artikel Terkait : Mengenal Tradisi Yaqowiyu Klaten, Tebar Apem bagi Warga

(Gambar : solopos.com)

Makna Tradisi Sebar Apem

Kata “Yaa Qowiyyu” berasal dari penggalan doa “Yaa qowiyyu, Yaa Aziz qowina wal muslimin, Ya qowiyyu warsuqna wal muslimin” yang berarti “Ya Tuhan, berikanlah kekuatan kepada kita segenap kaum muslimin”.

Tradisi Sebar Apem adalah tradisi sejak dulu yang dilakukan setiap bulan Sapar hari Jumat dalam penanggalan Jawa. Kue Apem yang ada dalam tradisi ini adalah kudapan bundar dari tepung beras dan merupakan kue tradisional khas dari Klaten. 

Masyarakat dalam mengikuti acara sebaran apem tersebut memiliki antusias tinggi karena banyak yang ingin menyaksikan dan ngalap berkah dari apem yang dilemparkan. 

Tradisi Sebar Apem menjadi peringatan kepada masyarakat agar selalu menjaga keimanan, melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Tradisi ini juga menjadi ritual yang melibatkan seni, budaya, serta agama dengan maksud melestarikan nilai-nilai lokal dan memperkuat hubungan antar sesama.

Sebaran Apem bagi masyarakat dijadikan simbol keberkahan dan sedekah. Masyarakat Jatinom meyakini bahwa mendapatkan Apem yang disebar akan membawa keberkahan, seperti panen yang melimpah, kesehatan, rezeki yang lancar, dan terhindar dari bala.

Melalui tradisi sebaran juga diharapkan bisa mengangkat potensi wisata desa berbasis budaya di Klaten sebagai tradisi warisan.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *