Kesegaran Air Panas Alami Pancuran Pitu Baturraden

Kesegaran Air Panas Alami Pancuran Pitu Purwokerto
(Gambar: javaisbeautiful.com)

Jatengkita.id – Di balik kesejukan hawa pegunungan Baturraden, terdapat sebuah destinasi wisata alam yang unik sekaligus penuh khasiat. Pancuran Pitu, nama yang diambil dari tujuh pancuran air panas alami yang memancar langsung dari perut bumi di lereng Gunung Slamet.

Pancuran Pitu terletak sekitar 14 kilometer dari pusat Kota Purwokerto atau sekitar 20 menit berkendara menuju arah utara. Jalan menuju lokasi cukup mulus, meskipun di beberapa titik menanjak tajam khas jalur pegunungan. 

Harga tiket masuk sangat terjangkau, yakni sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 per orang. Bagi wisatawan dari luar kota, tersedia pula penginapan di sekitar Baturraden dengan berbagai pilihan harga dan fasilitas.

Tak hanya menyajikan panorama memikat, tempat ini juga diyakini menyimpan manfaat kesehatan bagi tubuh.

Setiap hari, puluhan pengunjung datang untuk merasakan langsung sensasi berendam di air panas yang mengandung belerang. Asap tipis yang mengepul dari aliran air membuat suasana terasa mistis sekaligus menenangkan.

Berbeda dengan pemandian air panas lainnya, Pancuran Pitu memiliki keistimewaan berupa tujuh sumber air panas alami yang keluar dari celah batuan. Airnya mengalir deras dengan suhu berkisar 40-60 derajat celcius.

Menurut penelitian geologi, air panas ini merupakan hasil aktivitas vulkanik Gunung Slamet yang membawa mineral belerang ke permukaan.

Sejak lama, masyarakat sekitar percaya bahwa berendam di Pancuran Pitu dapat membantu menyembuhkan berbagai keluhan, seperti penyakit kulit, rematik, hingga masalah sendi.

Keyakinan ini diwariskan turun-temurun, bahkan hingga kini menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari terapi alami.

pancuran pitu
Lokawisata Baturraden (Gambar: kompas.com)

Misteri yang Masih Berkembang

Pancuran Pitu tidak hanya dikenal karena khasiat airnya, tetapi juga cerita legenda yang melekat di kalangan masyarakat Banyumas. Salah satu cerita yang melegenda adalah Syekh Maulana Maghribi, salah satu Walisongo, atau yang dikenal Mbah Atas Angin.

Konon, dulu Syekh Maulana menderita penyakit kulit yang sulit disembuhkan dan pergi ke sumber air panas dengan tujuh pancuran dan sembuh setelah rutin mandi.

Beberapa sesepuh desa setempat percaya bahwa jumlah pancuran tidak pernah berubah sejak dulu. Bahkan, jika salah satu aliran berkurang, maka aliran lain akan bertambah agar tetap berjumlah tujuh.

Keyakinan itu menambah aura magis bagi para pengunjung yang datang, seolah ada kekuatan gaib yang menjaga kelestarian sumber air ini.

Ragam Fasilitas

Meski berlokasi di kawasan hutan pegunungan, Pancuran Pitu kini telah dikelola dengan cukup baik. Pengelola menyediakan fasilitas seperti kamar bilas, toilet, area parkir luas, hingga warung makan yang menjual makanan khas Banyumas. Ada mendoan hangat hingga sate kelinci. 

Bagi yang ingin menikmati pengalaman lebih, terdapat layanan pijat tradisional di sekitar kolam berendam. Sentuhan tangan para terapis lokal berpadu dengan hangatnya air belerang dipercaya mampu melancarkan peredaran darah. 

Tak hanya itu, kawasan ini juga sudah dilengkapi jalur tracking yang menghubungkan ke beberapa titik wisata lain di Baturraden. Beberapa di antaranya adalah Pancuran Telu, Lokawisata Baturraden, hingga Wana Wisata.

Hal ini tentu membuat kunjungan ke Pancuran Pitu bisa menjadi bagian dari paket perjalanan wisata alam yang lebih lengkap.

Akhir tahun 2024, pengelola kawasan Baturraden meluncurkan fasilitas baru bernama Tsuyura Pitu Onsen. Wahana ini merupakan konsep pemandian air panas ala Jepang yang dirancang untuk memadukan keasrian alam pegunungan dengan kenyamanan modern.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *