Deretan Infrastruktur Warisan Belanda di Jawa Tengah

Deretan Infrastruktur Warisan Belanda di Jawa Tengah
(Gambar: kompasiana.com)

Jatengkita.id – Pada masa kolonial, Belanda banyak membangun infrastruktur dengan tujuan mendukung kepentingan ekonomi dan militer VOC saat itu. Infrastruktur warisan Belanda tersebut bahkan masih banyak yang bertahan.

Salah satu alasannya karena menggunakan campuran semen merah hingga serbuk batu bata yang berkualitas. Sehingga keberadaannya masih kokoh, dan tahan lama hingga kini. 

Seperti yang kita ketahui, pengaruh kolonial Belanda terhadap infrastruktur di Indonesia memang cukup besar dari segala aspek. Menyebarnya infrastruktur Belanda yang sering ditemui di berbagai daerah termasuk Jawa Tengah dengan kisah sejarahnya masih berdiri sampai hari ini.

Ada yang masih dipertahankan penggunaannya dan ada juga yang sudah dialihfungsikan. Banyak sekali bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang jadi bagian dari warisan arsitektur dan sejarah Indonesia di Jawa Tengah di antaranya sebagai berikut.

  1. Jalan Raya Pos (Jalan Daendels)  

Jalan Raya Pos merupakan jalur transportasi yang ada di Pantai Utara Jawa Tengah. Jalur ini dibangun oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Herman Willem Daendels awal abad ke-19. 

Jalan ini punya peran penting dalam pergerakan ekonomi Pulau Jawa dan perkembangan politik pemerintah. Adanya jalan raya ini berhasil memperlancar perekonomian seperti mengangkut hasil bumi rakyat, dan menghubungkan kota-kota yang ada di Pulau Jawa dengan mudah.

Dulu, tujuan utama dibangunnya jalan tersebut untuk menjaga keamanan Pulau Jawa dari invasi Inggris dan mempermudah mobilitas militer.

Rute jalan raya terbentang kurang lebih 1000 kilometer dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa. Pembangunan dimulai dari Surabaya hingga melintasi berbagai daerah seperti Porong, Sidoarjo, Bangil, Pasuruan, dan berakhir di Panarukan.

Sampai saat ini, jalan raya pos atau jalan Daendels masih digunakan sebagai jalur transportasi. Jalan raya pos ini selalu menarik perhatian dengan sejarah dan keunikannya. Sebagian jalan yang rusak juga sudah diperbaiki sehingga penggunaannya terus berkembang.

Uniknya, beberapa bagian dari jalan raya pos masih mempertahankan suasana klasik dengan adanya pohon-pohon besar yang berjajar rindang di kiri dan kanan jalan. Hal ini tentunya mengingatkan kita pada sejarah di masa lalu yang penuh dengan histori.

  1. Jalan Slamet Riyadi Solo

Jalan Slamet Riyadi ketika masa penjajahan Belanda dinamakan Poerwosari Weg atau de Groote Postweg. Rute ini dulunya merupakan jalur militer yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels pada awal abad ke-19. 

Jalan Slamet Riyadi merupakan jalan utama dan ikonik di Kota Solo, Jawa Tengah. Selain itu, jalan ini juga menjadi simbol peradaban sekaligus kemajuan kota dari zaman kolonial hingga era modern.

Nama Slamet Riyadi diberikan untuk mengenang Brigadir Jenderal (Anumerta) Slamet Riyadi, yaitu seorang pahlawan yang berjuang di Kota Solo. Ia merupakan pahlawan nasional yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda.

Jalan ini terus mengalami revolusi seiring dengan perkembangan zaman. Kini, Jalan Slamet Riyadi berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi. Banyak perkantoran, objek wisata, hingga kebudayaan yang berdiri mengelilinginya. 

Jalan ini juga dijuluki “Jalan Seribu Warung Kopi” karena banyak kafe tradisional hingga modern yang tersebar di kawasan ini.

Baca juga: Sejarah Kebun Teh Kaligua Brebes, Lestari Sejak Era Belanda

  1. Fasilitas Terowongan Irigasi di Kendal

Kendal memiliki fasilitas terowongan irigasi peninggalan Belanda yang masih berfungsi hingga kini. Lokasinya berada di Desa Surokonto, Kecamatan Pageruyung. Keberadaannya dimanfaatkan warga sekitar untuk mengalirkan air dari sungai ke ladang.

Dulu, dibangunnya fasilitas terowongan irigasi pada masa Belanda ini digunakan untuk menunjang pertanian, dengan teknologi pengairan yang diterapkan di negara mereka.

Lokasi terowongan di Desa Surokonto ini tersembunyi di tengah hutan. Diperkirakan panjang terowongan lebih dari 100 meter. Uniknya, bangunan tersebut berada di bawah area pemakaman, sehingga keberadaanya punya suasana yang agak berbeda.

Saluran air peninggalan Belanda ini keberadaannya masih dijaga dengan baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Meski usianya sudah satu abad, terowongan tersebut masih tetap berdiri kokoh.

Hingga kini, salurannya berfungsi sebagai sumber air utama untuk mengairi lahan persawahan. Selain itu, keberadaan mata air yang dialirkan dari terowongan ini fungsinya juga agar tidak meluber ke pemukiman warga.

  1. Plengkung Pitu Klaten
infrastruktur warisan belanda
(Gambar: klaten.sorot.co)

Plengkung merupakan bangunan peninggalan Kolonial Belanda berupa terowongan melengkung. Bangunan ini dimanfaatkan sebagai penyangga saluran air “fly river” atau “aqueduct” di atas perlintasan. 

Fungsinya tidak hanya sebagai infrastruktur irigasi, tapi juga sebagai jalan penghubung dan tempat berlindung. Plengkung Pitu berada di Desa Sudimoro, Kecamatan Tulung, Klaten.

Bentuk bangunannya cukup unik, sebab punya tiang dengan tujuh plengkungan. Konon, dulunya digunakan pihak Belanda untuk mengairi persawahan dan perkebunan hingga ke Majegan, Tulung sejauh empat kilometer.

Bangunan ini awalnya tidak terlihat, karena tertutup oleh rumpun bambu dan pepohonan liar yang menjulang tinggi. Kehadirannya selama bertahun-tahun tidak disadari oleh warga. Hingga akhirnya ditemukan dan dibersihkan pada akhir 2018. 

Hingga kini, keberadaannya masih terus berfungsi. Plengkung menjadi penopang saluran air dan sebagai tempat berteduh atau jalur untuk jogging dan refreshing

  1. Jembatan Kuno di Klaten

Di Klaten terdapat Jembatan kuno di perbatasan Desa Candirejo dan Mayungan yang  menggunakan besi rel kereta api. Bangunannya terlihat sederhana dengan lantai kayu dan sempit, namun fungsinya sangat penting sebagai jalur penghubung.

Jembatan ini melintas di atas Sungai Balong yang berada di perbatasan Kota Klaten sisi utara, yang merupakan perbatasan Kecamatan Ngawen dengan Kecamatan Klaten Utara.

Jembatan ini memiliki lebar sekitar satu meter dengan panjang sekitar 20 meter, serta melintas di atas sungai yang kedalamannya sekitar 15 meter. Hingga kini, bangunan tersebut masih bertahan kokoh.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *