Jatengkita.id – Kisah Ashabul Kahfi adalah salah satu cerita yang populer dan diabadikan menjadi surat dalam Al-Qur’an. Kisah ini menceritakan tentang harga mati dari sebuah ketauhidan. Allah SWT akan memberikan perlindungan penuh kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menyelamatkan iman.
Surat ini dibaca setiap hari Jumat sebagai sebaik-baik pengingat tentang banyaknya pelajaran berharga dari kisah Ashabul Kahfi. Hadist pun menyebutkan banyak keutamaan membaca surat ini setiap hari Jumat.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Nabi saw bersabda: “Barang siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua Jumat.” (Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6471).
Pemuda dan Iman
Kisah ini bermula dari sekelompok pemuda yang melarikan diri untuk menyelamatkan iman. Mereka adalah anak bangsawan yang sedang berada dalam pengejaran rezim penguasa zalim. Sebuah sumber menyebutkan, nama penguasa itu adalah Diqyanus.
Ia memaksa seluruh rakyat untuk menyembah berhala. Bagi siapapun yang menolak, pilihan yang diberikan hanya dua, yaitu murtad atau mati. Melihat kondisi ini, para pemuda merasa khawatir dan tetap teguh kukuh dalam iman kepada Allah SWT.
Mereka terus berdakwah hingga kabar ini sampai pada penguasa. Pihak istana menangkap dan menyerahkan mereka pada Diqyanus. Mereka diberi waktu beberapa hari untuk mempertimbangkan apakah mereka akan keluar dari Islam.
Namun, justru mereka membalas dengan menyeru, “Tuhan kami adalah Tuhan Langit dan Bumi”. Seruan ini kemudian Allah abadikan dalam ayat 14 surat Al-Kahfi.
“Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” – QS. Al-Kahfi: 14.
Mereka tidak lagi bisa berdakwah dalam sistem yang rusak dan tidak beradab. Para pemuda ini kemudian memilih mengasingkan diri di sebuah gua di atas gunung. Di sinilah Allah menunjukkan kuasa-Nya dan memberikan banyak pelajaran berharga.
Mereka berdoa agar Allah memberikan rahmat dan petunjuk yang lurus dalam menghadapi persoalan yang sedang dialami.
“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.” – QS. Al-Kahfi: 10

Dalam gua tersebut, Allah melindungi pemuda-pemuda ini dan menidurkan mereka. Bukan hitungan jam atau harian, tapi ratusan tahun, tepatnya 309 tahun.
“Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama bertahun-tahun.” – QS. Al-Kahfi: 11
Selama waktu itu, Allah menjaga mereka dengan sebaik-baik penjagaan. Tubuhnya tidak rusak, guanya tidak runtuh. Allah memberikan sinar matahari yang cukup untuk menghangatkan mereka.
“Engkau akan melihat matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua mereka dan yang ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat yang luas di dalamnya (gua itu). ….” – QS. Al-Kahfi: 17
Posisi tidur mereka pun Allah bolak-balikan agar tubuhnya tidak rusak. Sementara itu, anjing mereka membantu dengan memberikan isyarat tubuh yang menunjukkan seolah gua itu tidak berpenghuni.
“Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur. Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka membentangkan kedua kaki depannya di muka pintu gua.” – QS. Al-Kahfi: 18
Setelah 309 tahun tertidur, Allah akhirnya membangunkan mereka. Para pemuda ini berpikir mereka hanya tertidur setengah hari atau sehari. Untuk mencari jawabannya, seorang pemuda keluar untuk membeli makan menggunakan uang perak yang mereka bawa sebelumnya.
Sungguh! Keajaiban itu terungkap. Pemuda ini menyadari bahwa kotanya telah berubah. Penduduknya tidak lagi menyembah berhala, namun sudah beriman kepada Allah SWT.
Saat hendak membayar makan dengan koin yang ia bawa, penduduk setempat menyadari bahwa koin tersebut berasal dari masa Diqyanus. Dari sinilah keberadaan pemuda-pemuda ini akhirnya terungkap. Dan masyarakat akhirnya beriman akan datangnya hari kebangkitan.
Pelajaran-Pelajaran Berharga
- Iman
Sebagai muslim, hal paling utama yang menjadi dasar dalam kehidupan kita adalah akidah. Kita harus mentauhidkan keesaan Allah dan bahwa Muhammad SAW adalah rasul Allah. - Tawakal
Dalam setiap kesulitan yang kita hadapi, mintalah pertolongan pada Allah. Dengan meminta, kita sudah menunjukkan bahwa kita hanyalah manusia yang tidak punya daya. Setelah meminta pertolongan, bersabarlah akan datangnya rahmat Allah. - Hijrah
Lingkungan dengan sistem yang masih dibelenggu oleh kejahiliahan membolehkan kita untuk berpindah tempat. Hal itu semata-mata dilakukan untuk menyelamatkan iman.
Baca juga: Menelusuri Akulturasi Budaya pada Arsitektur Masjid Agung Surakarta






