Nasihat Jawa “Bali Ndesa Mbangun Desa” Bagi Ilmuwan Asal Desa

Nasihat Jawa "Bali Ndesa Mbangun Desa" Bagi Ilmuwan Asal Desa
Salah satu yang diharapkan dari pembangunan desa adalah kemajuan dalam bidang pertanian (Gambar: jpnn.com)

Jatengkita.id – Bagaimana pendapatmu tentang nasihat Jawa yang menuturkan “Bali Ndesa Mbangun Desa”? Apa yang kamu pikirkan jika desa dikelola oleh para cendekiawan? Berapa besar kemungkinan nasihat ini bisa terealisasi? Mengapa kesadaran tersebut perlu ditanamkan?

Kita meyakini bahwa pendidikan adalah sarana untuk mencapai kesejahteraan hidup. Dan bagi masyarakat yang percaya bahwa jenjang pendidikan yang tinggi mampu memperbaiki kualitas hidup, akan memberikan support terbaik.

Akses pendidikan saat ini jauh lebih mudah. Terlepas dari persoalan pemerataan, jenjang SD hingga SMA kini menjadi kewajiban pendidikan yang harus ditempuh oleh setiap anak. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik, angka partisipasi kuliah terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Artinya, negara akhirnya memiliki banyak produk ilmuwan yang ke depannya bisa menjadi harapan. Bagi lulusan yang berasal dari kampung atau desa, kembalinya mereka ke tanah kelahiran menjadi yang ditunggu-tunggu bagi masyarakat.

Banyak yang menggantungkan harap. Banyak yang menanti perubahan. Dari sinilah, muncul nasihat Jawa “Bali Ndesa Mbangun Desa”. Masyarakat ingin para lulusan ini kembali pulang ke desa setelah menyelesaikan studi untuk kemudian bisa memajukan desa.

Apa alasan terbesar bagi ilmuwan yang tidak ingin kembali ke desa?

Sumber daya. Mereka menilai sumber daya desa belum mampu memfasilitasi potensi keilmuan mereka dan memberikan standar hidup yang mereka kejar. Karenanya, pertanyaan “Di desa mau ngapain?” akan menjadi sarkas umum yang sering dilontarkan.

Keterbatasan akses dan fasilitas juga tidak bisa dinafikan mampu menghambat pengembangan diri. Sekalipun bisa dipenuhi, tetap butuh effort yang lebih. keras. Tantangan kita hidup di desa adalah bagaimana agar tetap berkembang hingga mampu mengelola desa.

nasihat jawa
Nilai gotong-royong dalam kehidupan bermasyarakat (Gambar: kabarjawa.com)

Bagaimana?

Membangun desa bukanlah pekerjaan mudah. Butuh tekad yang kuat dan strategi yang tepat untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Pekerjaan ini tidak bisa dibebankan kepada satu orang, karena mewujudkan misi akan lebih mudah dilakukan bersama.

Membangun masyarakat bukan hanya persoalan meningkatkan kondisi ekonomi, melainkan juga harus mampu membentuk masyarakat yang berpikiran terbuka. Langkah-langkah mengedukasi masyarakat harus diintensifkan untuk mengonstruksi cara dan alur berpikir yang berkemajuan.

Edukasi ini berfungsi untuk membangun kesadaran yang sama dan cita-cita kolektif. Jika tahap ini sudah terpenuhi, maka untuk mencapai tujuan pun akan lebih mudah.

Tahap selanjutnya adalah mengelola apa yang diturunkan Sang Pemberi Rizki. Hasil pertanian, peternakan, UMKM, adalah beberapa komoditas yang bisa diolah untuk membentuk masyarakat yang mandiri.

Kita tahu, bahwa beras tidak akan diproduksi di kota-kota yang tidak memiliki lahan pertanian. Kita tahu bahwa industri manufaktur membutuhkan sumber daya dari desa. Atas dasar inilah desa memiliki alasan prioritas untuk serius digarap.

Hasilnya?

Desa yang berdikari dan berkeadaban. Masyarakat yang maju tahu bagaimana untuk bertahan di tengah dinamika dan realitas kehidupan. Mereka pernah ada di posisi berjuang puputan, belajar sungguh-sungguh, dan hidup dalam batas garis keterbatasan.

Pengalaman hidup membantu mereka untuk survival dan pengetahuan membantu mereka untuk menemukan peluang dalam setiap kesulitan. Belum lagi dengan kearifan lokal masyarakat Jawa yang masih hidup hingga hari ini.

Budaya gotong royong, musyawarah, andhap-asor, bisa menjadi daya dukung tambahan. Dengan begitu, identitas dan nilai-nilai Jawa tetap akan tertanam meski masyarakat sudah hidup modern.

Masyarakat yang berdikari tidak akan bergantung pada subsidi pemerintah. Dan masyarakat yang berkeadaban tidak akan goyah pada penyimpangan-penyimpangan norma yang berlaku dalam bermasyarakat.

Baca juga: Memayu Hayuning Bawana, Filosofi Hidup Seimbang ala Jawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *