Jatengkita.id – Keberadaan Candi Borobudur tidak hanya menyimpan nilai sejarah dan budaya, tetapi juga menyisakan misteri geologi yang menarik untuk ditelusuri.
Sejumlah penelitian mengungkap bahwa kawasan di sekitar candi megah ini diduga pernah berupa danau purba yang terbentuk sejak puluhan ribu tahun lalu, tepatnya pada masa Kala Plistosen Akhir.
Danau purba tersebut diperkirakan memiliki bentang luas hingga sekitar 8 kilometer. Namun seiring waktu, keberadaannya menghilang akibat proses alamiah seperti aktivitas vulkanik dan tektonik. Selain itu juga faktor non-alamiah yang memicu pendangkalan hingga akhirnya berubah menjadi daratan.
Dugaan Adanya Danau Purba
Jejak keberadaan danau ini dapat ditelusuri melalui lapisan endapan yang menutupi kawasan sekitar Borobudur. Material tersebut diyakini berasal dari aktivitas gunung api, pergerakan tanah, hingga campur tangan manusia yang terjadi selama ribuan tahun.
Selain itu, indikasi lingkungan perairan juga disebut-sebut tercermin dalam relief candi serta penamaan wilayah di sekitarnya.
Penelitian dari akademisi UPN Veteran Yogyakarta, termasuk oleh Helmy Murwanto, mengungkap bahwa keberadaan danau purba dapat dikenali dari temuan endapan berupa lempung hitam yang tersingkap di beberapa lokasi.
Endapan ini tersebar luas, mulai dari kawasan utara di sekitar lembah Sungai Pacet hingga ke selatan di lembah Sungai Sileng, yang membentang dari kaki Bukit Tidar hingga Pegunungan Menoreh.
Hasil kajian geomorfologi dan citra satelit juga menunjukkan adanya pola lembah yang menyerupai aliran sungai purba. Kini, area tersebut telah dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan pertanian. Daerahnya mencakup wilayah Bumisegoro, Pasuruhan, Saitan, hingga Deyangan.
Perubahan lanskap dari danau menjadi daratan tidak terjadi dalam satu waktu, melainkan melalui proses panjang yang berulang. Aktivitas vulkanik, pergeseran tektonik, aliran lahar, hingga aktivitas manusia berperan dalam mengubah kawasan tersebut menjadi dataran lakustrin seperti saat ini.
Bahkan, perubahan aliran sungai di sekitar Borobudur diyakini berkaitan dengan proses pengeringan danau secara bertahap.

Keberadaan jalur lurus yang menghubungkan Candi Mendut, Candi Pawon, dan Borobudur juga diduga baru terbentuk setelah sebagian area danau mengering. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia di kawasan tersebut tidak lepas dari dinamika lingkungan yang terus berubah.
Kontroversi Teori Danau Purba Borobudur
Meski telah lama menjadi bahan kajian, teori bahwa Borobudur berdiri di kawasan danau purba masih memicu perdebatan di kalangan ilmuwan.
Gagasan ini pertama kali diperkenalkan oleh W.O.J. Nieuwenkamp pada 193. Ia membayangkan Borobudur sebagai bunga teratai yang mengapung di tengah danau—simbol kesucian dalam ajaran Buddha.
Namun, pandangan tersebut sempat ditolak oleh Theodoor van Erp, pemimpin pemugaran Borobudur pada awal abad ke-20. Opini tersebut dianggap belum memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Di sisi lain, sejumlah peneliti seperti Reinout Willem van Bemmelen dan J.J. Nossin justru mendukung kemungkinan adanya danau purba di kawasan tersebut.
Penelitian lanjutan juga menemukan bukti berupa sedimen yang mengandung serbuk sari tanaman rawa seperti teratai dan jenis tumbuhan air lainnya.
Bahkan, berdasarkan analisis karbon, danau tersebut diperkirakan sudah terbentuk sekitar 22 ribu tahun lalu dan masih menyisakan genangan air saat Borobudur dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.
Namun, hasil riset terbaru dari tim peneliti yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional menghadirkan sudut pandang berbeda.
Dalam penelitian tersebut, lapisan yang sebelumnya dianggap sebagai endapan danau ternyata lebih didominasi material pasir dengan kandungan mineral tertentu, bukan lempung khas danau.
Selain itu, tidak ditemukan indikator biologis penting seperti diatom, ostrakoda, maupun serbuk sari dalam jumlah signifikan yang biasanya menjadi penanda ekosistem danau.
Temuan ini diperkuat melalui perbandingan dengan sampel dari kawasan rawa lain yang terbukti memiliki karakteristik endapan danau yang jelas.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, klaim mengenai keberadaan danau purba di kawasan Borobudur dinilai belum terverifikasi secara ilmiah.
Meski demikian, perdebatan ini justru semakin memperkaya nilai sejarah dan keunikan Candi Borobudur sebagai salah satu situs warisan dunia yang menyimpan banyak misteri.






