Jatengkita.id – Jalanan seringkali hanya menyisakan debu dan stigma. Di mata banyak orang, mereka yang lahir dan besar di kerasnya aspal kerap dihakimi dengan stempel “kotor” yang sulit dicuci.
Namun, di tangan seorang tokoh agama, lorong-lorong gelap itu justru disulap menjadi ruang peziarahan spiritual. Memahami arti Yakuza Maneges bukanlah sekadar mengeja sebuah akronim organisasi, melainkan menyelami laku keprihatinan membela rakyat kecil yang tak lagi punya suara.
Paradoks Nama dan Laku Spiritual
Publik mungkin mengernyitkan dahi mendengar nama “Yakuza”. Di Jepang, nama itu lekat dengan sindikat kejahatan bersenjata. Namun, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, nama itu direbut dan dimaknai ulang menjadi sebuah doa yang mendalam: Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi.
Di balik transformasi ini, berdirilah sosok Gus Thuba Topo Broto Maneges Man, sang pemimpin karismatik.
Sebagai cucu Gus Miek (KH. Hamim Jazuli)—ulama besar yang dikenal lekat dengan dakwah di dunia malam dan jalanan—Gus Thuba mewarisi jalan sunyi kakeknya. Ia tidak mengutuk kegelapan, melainkan menyalakan lilin.
Melalui organisasi yang didirikan pada tahun 2024 ini, Gus Thuba memfasilitasi fenomena hijrah kaum jalanan. Mereka yang tadinya terpinggirkan, kini dihimpun bukan untuk menjadi preman, melainkan laskar amar ma’ruf nahi munkar yang elegan, melek hukum, dan beradab.
Zuhud yang Mengejawantah di Kediri
Bagi mereka, zuhud (meninggalkan cinta dunia) bukan berarti merelakan diri terasing di pojok masjid sambil memutar tasbih. Melainkan berani turun tangan saat melihat ketidakadilan. Sikap ini direfleksikan dengan tajam oleh Sekretaris Yakuza Maneges Pacitan, Rony Panengah.

Rony menjadi saksi bagaimana komitmen organisasi ini tidak berhenti pada retorika, melainkan diuji nyata di lapangan. Ia mencontohkan bagaimana arti Yakuza Maneges benar-benar dipraktikkan dalam mengawal kasus penyerobotan tanah milik Moh. Subkhan, seorang warga desa di Kediri.
Tanah senilai Rp140 juta milik warga kecil itu dicaplok oleh oknum polisi berinisial A.P.S, dibayar separuh, lalu sertifikatnya diagunkan ke bank. Menghadapi arogansi aparat, pasukan kaum jalanan yang telah berhijrah ini tidak merespons dengan kekerasan.
Di bawah komando Den Gus Thuba, mereka justru menempuh jalur mediasi yang bermartabat: restorative justice (keadilan restoratif).
“Kami mengedepankan komunikasi dan koordinasi agar hak masyarakat lemah bisa kembali. Keadilan restoratif ini penting agar ada titik temu yang menguntungkan korban secara materiil tanpa harus berbelit dalam birokrasi hukum yang lama,” ungkap perwakilan Pasukan Yakuza Maneges terkait pendekatan tersebut.
Pendekatan ‘lunak tapi menekan’ ini berbuah manis. Sang oknum akhirnya menyerahkan tambahan uang dan sertifikat jaminan. Hak wong cilik pun kembali.
Menebar Benih di Tanah Salatiga
Kini, embusan napas perlawanan tanpa kekerasan itu mulai menyejukkan Jawa Tengah. Di sebuah pendopo bernama Joglo Amarta, Jalan Ki Penjawi, Sarirejo, Kota Salatiga, denyut nadi perjuangan itu menemukan markas barunya.
Diketuai oleh Kadarisman, bersama Asrofi (Sekretaris) dan Martono (Bendahara), kepengurusan di Salatiga mulai merajut simpul. Pada 21 Februari lalu, hampir 50 anggota duduk melingkar, berbuka puasa bersama Gus Thuba, menyatukan frekuensi batin dan strategi advokasi untuk warga Jateng.
Pada akhirnya, arti Yakuza Maneges adalah sebuah pembuktian. Bahwa masa lalu yang kotor bukanlah halangan untuk merajut masa depan yang zuhud dan abadi.
Dan di tengah hukum yang kerap tajam ke bawah namun tumpul ke atas, kehadiran mereka menjadi pelita kecil; mengingatkan kita bahwa keadilan kadang tidak lahir dari ruang pengadilan yang megah, melainkan dari tangan-tangan kasar kaum jalanan yang memilih jalan terang.
