DPRD Jateng Dorong Perempuan Perkuat Ketahanan Keluarga Hadapi Tantangan Digital

Boyolali — Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Ida Nurul Farida, mengingatkan pentingnya peran aktif kaum perempuan dalam menghadapi berbagai disrupsi sosial di era modern. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Latansa Bela Negara Menengah 1 yang digelar di kawasan Spekta Merbabu, Kabupaten Boyolali, Minggu (17/5/2026).

Acara yang diinisiasi oleh Bidang Kepanduan dan Bela Negara Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jawa Tengah ini diikuti oleh ratusan kader perempuan dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat kesiapsiagaan fisik, mental, serta wawasan kebangsaan para kader perempuan agar mampu memberikan kontribusi yang lebih luas di masyarakat.

Sebagai legislator yang membidangi kesejahteraan rakyat—termasuk di dalamnya urusan pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keagamaan—Ida menyoroti tiga tantangan besar yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya para kader dakwah, pada masa sekarang.

Tantangan pertama adalah derasnya arus informasi di era digital yang bergerak tanpa sekat. Kedua, terjadinya krisis keteladanan di ruang publik, dan ketiga, mulai lunturnya ketahanan keluarga yang menjadi unit terkecil di masyarakat.

“Saat ini, tantangan zaman berkembang begitu cepat dan semakin kompleks. Derasnya arus informasi di era digital tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga potensi kerawanan sosial jika tidak disaring dengan baik. Kondisi ini kian diperberat dengan adanya krisis keteladanan di lingkungan sekitar, yang pada akhirnya ikut memicu kelonggaran atau lunturnya ketahanan keluarga,” ujar Ida.

Menurut Ida, keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun karakter bangsa. Oleh karena itu, penurunan kualitas ketahanan keluarga harus diantisipasi secara serius lewat edukasi yang konsisten dan menyentuh akar rumput.

Tiga Kunci Kekuatan

Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut, Ida memaparkan tiga kunci kekuatan utama yang wajib diadopsi dan diasah oleh setiap kader perempuan, yaitu kekuatan ruhiyah (spiritual), kekuatan intelektual, serta kekuatan sosial.

“Kader perempuan harus tangguh secara utuh. Kekuatan ruhiyah atau spiritual menjadi benteng moral dan modal utama agar kita tidak mudah goyah. Namun, aspek itu juga harus diimbangi dengan kekuatan intelektual agar kita mampu berpikir kritis serta solutif. Terakhir, kekuatan sosial diperlukan agar kehadiran kita benar-benar dirasakan manfaatnya dan menyatu dengan masyarakat,” jelas Ida.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kapasitas diri yang kuat tidak akan berdampak besar jika tidak dibersamai dengan etos kerja yang tepat. Ia merinci tiga semangat dasar yang harus terus dirawat oleh para kader, yakni semangat untuk terus bertumbuh dan belajar, semangat berkontribusi, serta semangat menjaga diri agar tetap istiqomah.

“Proses belajar itu sifatnya seumur hidup. Setiap kader perempuan harus memiliki semangat untuk terus bertumbuh, berproses, dan memperbaiki diri. Setelah kapasitas itu terbangun, munculkan semangat untuk berkontribusi secara nyata bagi lingkungan. Yang tidak kalah penting dan penuh tantangan adalah bagaimana kita konsisten menjaga diri agar tetap istiqomah di jalan kebaikan,” tuturnya.

Melalui momentum pelatihan Latansa Bela Negara ini, Ida berharap para kader perempuan PKS di Jawa Tengah tidak hanya membawa pulang kebugaran fisik, tetapi juga membawa perspektif baru untuk menjadi pelopor dalam memperkuat ketahanan keluarga dan lingkungan sosial di daerah masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *