Jatengkita.id – Nama Rown Division sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta fashion Tanah Air, khususnya kalangan muda yang akrab dengan dunia distro.
Berawal dari sebuah toko kecil di kawasan Kalitan, Solo, pada tahun 2007, kini Rown Division menjelma menjadi salah satu clothing brand terbesar di Indonesia.
Dibalik kesuksesan ini, berdiri sosok pengusaha muda Kusdarmawan Aryo Baskoro, yang dengan determinasi tinggi mampu mengangkat brand lokal Solo hingga menembus pasar mancanegara.
Perjalanan Rown Division bukanlah sekadar kisah sukses bisnis, tetapi juga gambaran nyata bagaimana passion, kerja keras, dan konsistensi bisa melahirkan dominasi dalam industri kreatif yang persaingannya semakin ketat.
Awal Berdiri, Dari Kalitan Menuju Manahan
Rown Division lahir pada tahun 2007 dengan satu visi sederhana, yaitu menghadirkan brand clothing lokal yang kuat dari Solo. Kala itu, distro sedang menjadi tren besar di kalangan anak muda.
Musik indie, komunitas skateboard, hingga kultur pop urban menjadi bagian dari denyut kehidupan generasi muda, dan distro hadir sebagai salah satu bentuk ekspresi diri.
Toko pertama Rown Division berdiri di kawasan Kalitan, yang pada masanya dikenal sebagai sentra kegiatan kreatif, baik fashion maupun musik. Tidak butuh waktu lama, hanya tiga tahun kemudian, Rown Division berhasil membuka toko yang lebih besar di kawasan Manahan.
Langkah ini menjadi tonggak penting karena sejak saat itu Rown Division resmi ditetapkan sebagai clothing brand terbesar di Solo.
Bersamaan dengan perkembangan tersebut, Rown Division mulai memperluas lini produknya. Tahun 2010, lahirlah Pretty Rown untuk segmen wanita dan Rown Junior untuk segmen anak-anak.
Kehadiran dua lini baru ini memperlihatkan keseriusan Rown untuk merangkul pasar yang lebih luas, tidak terbatas pada kaum pria dewasa atau remaja.
Dari Toko Kecil ke Jaringan Nasional
Modal awal sebesar Rp30 juta dari tabungan pribadi menjadi fondasi berdirinya Rown pada tahun 2006. Dengan toko berukuran hanya 2×3 meter di Jalan A. Yani, Solo, Aryo mempekerjakan tiga karyawan. Desain-desain uniknya ternyata diminati pasar.
Bisnis terus berkembang. Pada 2008, Aryo memberanikan diri meminjam modal Rp100 juta dari bank untuk menyewa tempat yang lebih besar.
Dari sinilah lahir distro Rown Division yang lebih mapan, lengkap dengan berbagai lini produk seperti kaus, sepatu, celana, jaket, hingga aksesori. Jumlah karyawan bertambah hingga kini mencapai sekitar 40 orang.
Setiap bulan, Rown Division mampu memproduksi lebih dari 30 ribu item fashion. Semua produk diberi label Rown, dengan brand turunan: Rown Terror untuk busana pria dan Pretty Rown untuk busana wanita.
Harga produknya bervariasi, mulai Rp20 ribu hingga Rp800 ribu, sehingga dapat menjangkau berbagai segmen pasar.

Strategi Bisnis, Konsistensi dan Eksklusivitas
Salah satu kunci sukses Aryo adalah konsistensi dalam meluncurkan desain baru. Hampir setiap hari, Rown Division merilis produk baru, entah itu T-shirt, jaket, kemeja, celana jins, atau sepatu.
Untuk mendukung hal ini, Aryo mempekerjakan desainer khusus yang bertugas menghasilkan karya segar setiap bulan.
Namun, di tengah gempuran produksi massal industri fashion, Aryo memilih jalannya sendiri, yaitu menjaga eksklusivitas. Setiap desain hanya diproduksi maksimal 30 potong.
Dengan demikian, konsumen merasa memiliki produk unik yang tidak pasaran. Strategi ini terbukti efektif menjaga citra Rown Division sebagai brand dengan identitas kuat.
Selain itu, promosi juga menjadi senjata andalan. Rown aktif menggunakan media sosial, menjadi sponsor acara musik, hingga tampil di layar kaca lewat kerja sama dengan film televisi (FTV). Branding kreatif ini membuat nama Rown semakin dikenal luas, terutama di kalangan muda.
Menembus Bandung, Kiblat Distro Nasional
Tidak bisa dipungkiri, Bandung adalah pusat industri distro Indonesia. Banyak brand besar lahir dari kota ini dan pasar distro Bandung dikenal paling dinamis. Bagi Aryo, mampu masuk ke pasar Bandung merupakan prestasi tersendiri.
Pembukaan kantor pemasaran di Bandung bukan hanya strategi bisnis, tetapi juga langkah simbolis bahwa brand asal Solo ini mampu bersaing di level nasional. Bandung kini menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi Rown Division.
Ekspansi ke Mancanegara
Tidak berhenti di pasar domestik, Rown Division mulai menjajaki pasar internasional. Produk-produk Rown sudah dipasarkan ke Singapura dan Malaysia, serta dalam tahap persiapan masuk ke Kanada.
Langkah ini membuktikan bahwa brand lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global. Aryo optimistis, dengan konsistensi kualitas dan kreativitas desain, Rown bisa diterima di berbagai negara lain.
Tagline dan Identitas Brand
Sejak awal berdiri, Rown Division selalu menekankan pentingnya identitas. Tagline “Industry Beyond Fantasy” mencerminkan ambisi Rown untuk melampaui batas imajinasi dalam dunia fashion.
Kini, jargon terbaru mereka adalah “Continue The Domination”, yang menunjukkan semangat untuk terus mendominasi pasar distro, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Rown Division tidak sekadar menjual pakaian, tetapi juga menjual gaya hidup. Desain-desainnya yang unik, eksklusif, dan dekat dengan kultur anak muda menjadikan Rown lebih dari sekadar brand. Ia menjadi simbol kreativitas dan kebanggaan lokal.
Tantangan Persaingan
Dengan semakin banyaknya distro yang bermunculan, khususnya di Solo, persaingan kian ketat. Namun, Aryo melihat ini sebagai tantangan sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kualitas produk dan strategi promosi.
Konsistensi dalam menjaga kualitas, kreativitas desain, dan strategi pemasaran yang tepat menjadi kunci agar Rown Division tetap bisa memenangkan persaingan.
Bagi para anak muda, Rown Division bukan hanya pakaian yang mereka kenakan, melainkan simbol kreativitas, identitas, dan semangat untuk terus maju.
Dan bagi Solo, keberhasilan Rown Division menjadi kebanggaan tersendiri, sebuah bukti bahwa kota budaya ini juga bisa melahirkan brand besar yang mendunia.
Ikuti saluran WhatsApp Jateng Kita untuk informasi lainnya!






