Jatengkita.id – Banjir di Kabupaten Pemalang telah menyebabkan ribuan warga terdampak, dengan sebagian besar rumah terendam air setinggi 50 hingga 150 sentimeter.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, sekitar 15 desa dilaporkan terendam dan memaksa lebih dari tiga ribu warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Beberapa desa yang terdampak parah antara lain Desa Banjardawa, Petarukan, Comal, dan Ampelgading.
- Kerugian Materiil
Kerusakan akibat banjir mencakup infrastruktur, properti pribadi, hingga fasilitas umum. Jembatan di Desa Banjardawa dilaporkan amblas, menyebabkan akses transportasi terganggu. Sekolah-sekolah di beberapa wilayah terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar karena ruang kelas terendam.
Selain itu, kerusakan lahan pertanian mengancam sumber mata pencaharian para petani. Diperkirakan, lebih dari 300 hektare sawah terendam, yang dapat mengakibatkan gagal panen.
- Gangguan Kesehatan
Kasus penyakit kulit, diare, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mulai dilaporkan oleh petugas kesehatan. Kekurangan air bersih memperburuk situasi ini dan memaksa warga untuk menggunakan air banjir yang tercemar untuk kebutuhan sehari-hari.
- Pendidikan dan Aktivitas Harian Terganggu
Kegiatan belajar-mengajar lumpuh total di beberapa wilayah karena sekolah tidak dapat beroperasi. Para siswa terpaksa belajar dari rumah atau di posko pengungsian tanpa fasilitas yang memadai.
Selain itu, aktivitas ekonomi masyarakat juga terhenti. Pasar tradisional yang biasanya menjadi pusat aktivitas ekonomi terpaksa tutup karena banjir.
Penyebab Utama Banjir di Kabupaten Pemalang
- Curah Hujan Tinggi
Musim penghujan tahun 2025 di Jawa Tengah menunjukkan intensitas yang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa wilayah Pemalang menerima curah hujan hingga 300 mm dalam satu hari, jauh di atas ambang normal.
- Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Kerusakan pada daerah aliran sungai, terutama Sungai Comal, menjadi salah satu penyebab utama banjir. Erosi dan sedimentasi mempersempit aliran sungai, sehingga air meluap ke pemukiman penduduk.
Penebangan hutan secara ilegal di kawasan hulu juga memperparah situasi, mengurangi kapasitas lahan untuk menyerap air.
- Drainase yang Tidak Memadai
Sistem drainase di beberapa wilayah Kabupaten Pemalang dinilai tidak memadai untuk mengatasi curah hujan yang tinggi. Banyak saluran air yang tersumbat oleh sampah, sehingga aliran air terhambat. Permasalahan ini menjadi tantangan yang harus segera diatasi untuk mencegah banjir lebih lanjut.
- Perubahan Iklim
Perubahan iklim global juga berkontribusi pada peningkatan intensitas hujan. Fenomena cuaca ekstrem semakin sering terjadi, termasuk di wilayah Pemalang. Hal ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih serius dalam mengelola lingkungan.
Seputar banjir : Banjir Brebes : Kerugian, Evakuasi, dan Pemulihan
Upaya Penanganan Bencana Banjir
Menghadapi banjir besar ini, berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, instansi terkait, hingga masyarakat bahu-membahu untuk memberikan bantuan dan mencari solusi jangka panjang.
- Evakuasi dan Penyediaan Posko Pengungsian
Pemerintah Kabupaten Pemalang, bekerja sama dengan BPBD dan TNI-Polri, segera mengevakuasi warga dari wilayah terdampak.
Posko pengungsian didirikan di beberapa lokasi, seperti balai desa, sekolah, dan tempat ibadah. Setiap posko dilengkapi dengan kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan obat-obatan.
- Bantuan Logistik
Bantuan logistik mulai berdatangan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi, lembaga sosial, dan relawan. Paket bantuan berupa beras, air mineral, selimut, dan perlengkapan kebersihan didistribusikan kepada para pengungsi.
Selain itu, tim medis juga dikerahkan untuk memberikan pelayanan kesehatan di posko-posko pengungsian.
- Pengerahan Alat Berat
Untuk mengatasi banjir yang menggenangi jalan utama dan pemukiman, pemerintah setempat menggunakan alat berat untuk membersihkan saluran air yang tersumbat. Pengerukan sedimentasi di Sungai Comal juga dilakukan untuk mempercepat surutnya air.
- Edukasi dan Sosialisasi
Pemerintah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama saluran air. Sosialisasi tentang cara menghadapi bencana banjir, seperti penyediaan tas siaga bencana, juga dilakukan agar masyarakat lebih siap menghadapi situasi darurat.

Langkah Jangka Panjang untuk Pencegahan
- Rehabilitasi Hutan dan DAS
Pemulihan daerah aliran sungai dan reboisasi di kawasan hulu menjadi prioritas utama. Pemerintah, bersama masyarakat dan organisasi lingkungan, perlu melakukan penanaman pohon secara masif untuk meningkatkan daya serap tanah.
- Pembangunan Infrastruktur yang Memadai
Sistem drainase yang lebih baik perlu dibangun di wilayah-wilayah rawan banjir. Selain itu, normalisasi sungai dan pembuatan tanggul juga harus dipertimbangkan untuk mencegah luapan air.
- Peningkatan Kesadaran Lingkungan
Masyarakat harus dilibatkan secara aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan, termasuk membuang sampah pada tempatnya. Kampanye kesadaran lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai media, mulai dari sekolah hingga media sosial.
- Sistem Peringatan Dini
Pengadaan sistem peringatan dini bencana dapat membantu masyarakat untuk lebih waspada dan siap menghadapi banjir. Dengan adanya peringatan dini, evakuasi dapat dilakukan lebih cepat dan mengurangi risiko korban jiwa.
Peran Masyarakat dan Solidaritas
Di tengah situasi yang sulit, solidaritas masyarakat Pemalang terlihat sangat kuat. Warga saling membantu, baik dalam proses evakuasi maupun di posko pengungsian. Gotong-royong menjadi salah satu kunci untuk menghadapi bencana ini dengan lebih baik.
Para pemuda setempat juga aktif menjadi relawan, membantu distribusi logistik dan memberikan dukungan moral kepada para pengungsi.
Bantuan dari komunitas-komunitas lokal hingga donatur dari luar daerah menunjukkan bahwa semangat kebersamaan masih menjadi nilai utama masyarakat Indonesia.
Info lengkap donasi banjir : Dompet Dhuafa






