Sejarah Tradisi Maulid Meron di Pati: Ala-Ala Keraton

Sejarah Tradisi Maulid Meron di Pati: Ala-Ala Keraton
(Gambar: kabarpatigo.com)

Jatengkita.id – Tradisi Meron dari Desa Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, adalah warisan budaya sakral yang digelar tiap 13 Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lebih dari sekadar ritual keagamaan, tradisi maulid ini menjadi wujud syukur, doa, dan kebersamaan masyarakat.

Selain itu, Meron juga menjadi identitas budaya yang memperkaya khazanah nusantara. Pada 2016, tradisi ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dan Kekayaan Intelektual Komunal.

Pengakuan tersebut mendorong pelestarian sekaligus menjadikannya atraksi wisata budaya yang mendukung ekonomi lokal. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami lebih dekat asal-usul, prosesi, hingga makna mendalam yang terkandung dalam Tradisi Meron Pati.

Asal-Usul Tradisi Meron

Tradisi Meron dipercaya sudah ada sejak awal abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1628. Kisahnya bermula ketika prajurit Kerajaan Mataram yang sedang dalam perjalanan menyerang Pati singgah di Sukolilo, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Karena tak bisa kembali ke keraton untuk mengikuti perayaan Sekaten, mereka pun mengadakan upacara serupa di Sukolilo dengan restu dari penguasa setempat. Dari sinilah lahir sebuah tradisi yang terus diwariskan hingga kini.

Nama “Meron” sendiri diambil dari singkatan bahasa Jawa “mempere keraton”, yang berarti meniru atau mengikuti tradisi keraton. Seiring berjalannya waktu, Meron berkembang menjadi perayaan tahunan penuh makna.

Tradisi ini ditandai dengan arak-arakan gunungan berisi nasi tumpeng dan aneka makanan tradisional. Gunungan ini kemudian dibagikan kepada warga sebagai simbol berkah, kebersamaan, dan ungkapan syukur masyarakat.

tradisi maulid
(Gambar: suratkabar.co.id)

Prosesi Tradisi Meron

Prosesi Tradisi Meron di Desa Sukolilo, Pati, biasanya dimulai setelah salat Dhuhur pada tanggal 13 Rabiul Awal sebagai bagian dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Suasana langsung semarak ketika arak-arakan gunungan atau meron digelar.

Gunungan ini memiliki tiga bagian utama, yakni mustaka (mahkota), gunungan inti, dan ancak, yang dihiasi beragam makanan tradisional khas Jawa. Ada nasi tumpeng, kue cucur, rengginang, ampyang, hingga once (gula manis tradisional yang jadi ciri khas).

Semuanya tersusun indah, siap diarak menuju tempat selamatan. Gunungan Meron biasanya diarak dari rumah kepala desa bersama perangkatnya menuju masjid, sambil diiringi lantunan doa, ayat suci Al-Qur’an, dan salawat yang dipimpin oleh para tokoh agama.

Usai prosesi selamatan, gunungan-gunungan itu kemudian dibagikan kepada warga yang sudah menanti dengan penuh antusias.

Makna Filosofi dan Sosial Tradisi Meron

Tradisi maulid ini bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi sarat makna mendalam. Setiap warna dan bentuk gunungan menjadi simbol kemakmuran, keberkahan, sekaligus wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Lebih dari itu, Meron juga menghadirkan semangat kebersamaan, karena seluruh warga ikut ambil bagian dalam setiap tahap persiapan hingga pelaksanaannya.

Menariknya, makanan hasil Meron dipercaya membawa berkah bagi yang menyantapnya. Makanan tersebut diyakini mendatangkan kesehatan, sementara bagi petani yang menaburkannya di sawah atau ladang, diharapkan menjadi doa agar panen melimpah.

Ikuti saluran WhatsApp Jateng Kita untuk berita terbaru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *