Jatengkita.id – Terletak tepat Provinsi Jawa Tengah, Gunung Tidar Magelang menjulang setinggi 503 mdpl. Gunung ini dikenal luas sebagai “Pakunya Tanah Jawa” dalam legenda lokal. Nama tersebut sebagai sebuah julukan yang menegaskan posisinya sebagai pusat spiritual Pulau Jawa.
Gunung Tidar juga berkembang sebagai destinasi wisata spiritual. Wisatawan dapat menjelajahi sejumlah objek wisata yang ada, menikmati suasana sejuk, dan pemandangan alam yang menenangkan di tengah kota Magelang.
Namun di balik pemandangan dan objek wisata yang memukau, Gunung Tidar yang terletak di jantung Kota Magelang ini menyimpan beragam kisah sejarah dan legenda. Banyak pula yang menyebut Gunung Tidar sebagai tempat keramat dan sakral.
Di puncaknya, terdapat makam para leluhur yang diyakini sebagai tokoh penting dalam perjuangan dan penyebaran ajaran di Tanah Jawa. Karena nilai spiritual dan sejarahnya yang kuat, Gunung Tidar menjadi salah satu destinasi wisata religi favorit di Magelang.
Hal ini juga ditandai oleh tingginya jumlah wisatawan dan peziarah yang datang dari berbagai daerah bahkan dari luar Pulau Jawa untuk berziarah sekaligus menikmati keindahan alam serta ketenangan suasana di kawasan gunung ini.
Keberadaan Gunung Tidar juga tidak lepas dari legenda serta asal usulnya sendiri. Seperti dalam penelitian Huda dkk (2019), nama Gunung Tidar memiliki makna filosofis mendalam, yang diyakini berasal dari kata “Mukti” dan “Kadadar”.
“Mukti” berarti kebahagiaan, kesuksesan, dan kehormatan dalam hidup, sementara “Kadadar” mengacu pada proses dididik, ditempa, dan diuji.
Gabungan makna ini menegaskan bahwa jika seseorang yang ingin hidup bahagia, berpangkat dan sukses dalam hidup harus dididik (berpendidikan), ditempa, dan diuji agar menjadi pribadi yang mumpuni dan tangguh (profesional).
Untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan sejati, seseorang harus melalui proses pendidikan dan pengujian yang ketat.
Selain itu, terdapat pula legenda yang erat kaitannya dengan Gunung Tidar. Cerita ini juga masih tumbuh subur dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Salah satu legenda paling terkenal yaitu mengisahkan pada masa ketika Pulau Jawa belum kokoh berdiri.

Dahulu, pulau ini dikisahkan bergoyang dan belum seimbang, karena di tanah Pulau Jawa pada kala itu berada di tengah lautan yang mengakibatkan Pulau Jawa selalu terombang-ambing oleh deburan ombak.
Oleh karena itu para leluhur berupaya mencari cara agar Pulau Jawa dapat berdiri tegak. Beragam usaha telah dilakukan, namun semuanya gagal. Hingga akhirnya muncul gagasan untuk menancapkan “paku” di titik tengah Pulau Jawa agar tanahnya menjadi stabil.
Sayangnya, tempat yang diyakini sebagai pusat Pulau Jawa itu ternyata dikuasai oleh makhluk jahat. Makhluk tersebut mengancam bahwa siapa pun yang mendekat akan mati, dalam bahasa Jawa disebut modar. Keadaan ini membuat Pulau Jawa tetap kosong dari manusia dan tak kunjung tenteram.
Hingga suatu ketika, kabar tentang kekosongan Pulau Jawa dari manusia itu sampai ke telinga Sultan Turki. Sang Sultan lalu mengutus seorang ulama besar, Syekh Subakir, untuk datang ke Tanah Jawa.
Dengan tujuan tersebut, Syekh Subakir akhirnya bertemu dengan Kiai Semar atau Eyang Ismoyo, sosok suci penjaga Tanah Jawa yang dipercaya sebagai jelmaan dewa dari golongan putih. Kiai Semar telah bertapa di Gunung Tidar selama 1001 tahun lamanya.
Dari pertemuan itu, Syekh Subakir mengemban tiga tugas besar, yaitu menyingkirkan makhluk jahat yang menghuni Gunung Tidar, menghadirkan manusia agar Pulau Jawa tak lagi kosong, dan menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru tanah ini.
Kisah legenda Gunung Tidar berlanjut ketika Kiai Semar menyetujui permintaan Syekh Subakir untuk menata kembali keseimbangan Pulau Jawa.
Setelah mendapat restu, Syekh Subakir mulai memindahkan makhluk halus jahat yang mendiami gunung tersebut dengan cara menanam tumbal berupa pahatan ayat-ayat Al-Qur’an di titik-titik tertentu di Gunung Tidar.
Ritual itu dipercaya menjadi awal mula terkendalinya kekuatan gaib yang selama ini mengganggu ketenangan Tanah Jawa.
Namun, Kiai Semar memberikan dua syarat penting kepada Syekh Subakir sebelum membawa 20 ribu penduduk untuk menghuni Pulau Jawa yang saat itu masih kosong.
Pertama, Syekh Subakir harus menyebarkan ajaran Islam tanpa paksaan, memberi kebebasan kepada masyarakat untuk memilih keyakinannya sendiri. Kedua, ia tidak boleh menghapus adat dan tradisi Jawa yang telah mengakar sejak lama.
Setelah misi itu berhasil, Kiai Semar kemudian diangkat menjadi pemimpin atau Lurah yang dikenal dengan nama Ki Lurah Bodronoyo.
Dari legenda ini pula yang menyebabkan Gunung Tidar Magelang dipercaya sebagai Pakuning Tanah Jawa atau poros spiritual Pulau Jawa. Sehingga tanah Pulau Jawa yang terombang-ambing di tengah samudra “dipaku” dengan Gunung Tidar di bagian tengahnya agar tidak hanyut dan tetap tenang.
Sejak saat itu, Pulau Jawa diyakini menjadi stabil dan damai. Karena diyakini memiliki kekuatan supranatural, Gunung Tidar dianggap sebagai tempat keramat oleh masyarakat Jawa hingga kini.
Ada sejumlah pantangan yang dijaga turun-temurun, seperti larangan menanam tanaman palawija di area gunung, larangan membuat sumur karena dipercaya airnya terhubung langsung ke samudra, serta larangan mengubah bentuk alam Gunung Tidar karena dianggap suci.
Selain itu, gunung ini juga diyakini sebagai keraton makhluk halus, dengan Kiai Semar sebagai pemimpinnya.
Di puncak Gunung Tidar terdapat petilasan yang dihormati masyarakat, sehingga setiap pengunjung diingatkan untuk menjaga perilaku dan tidak melakukan hal-hal yang dianggap tidak pantas di tempat keramat tersebut.
Dengan perpaduan nilai sejarah, ekologi, dan spiritualitas, Gunung Tidar bukan hanya menjadi ikon Kota Magelang, tetapi juga destinasi yang menarik untuk dikunjungi bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang budaya, sejarah, dan keindahan alam Jawa Tengah.
Baca juga: Wisata Sejarah Magelang yang Jarang Diketahui Pelancong






