Budaya Konsumsi Air Tajin untuk Bayi di Masyarakat Jawa

Budaya Konsumsi Air Tajin untuk Bayi di Masyarakat Jawa
Air tajin dari proses memasak nasi (Gambar: Klik Dokter)

Jatengkita.id – Memberikan air tajin untuk bayi merupakan budaya yang sampai kini masih dilakukan pada masyarakat Jawa, termasuk banyak daerah di Jawa Tengah. Pemberian nasi tajin ini sudah dilakukan secara turun-temurun karena diyakini memiliki banyak manfaat kesehatan.

Air tajin merupakan cairan mengental yang didapat dari proses memasak nasi sebelum mendidih. Cairan tersebut kemudian diambil dan ditambahkan garam. Air tajin ini dinilai memiliki banyak kandungan protein, sehingga banyak dimanfaatkan untuk perawatan kulit hingga konsumsi untuk bayi.

Jaman dulu, masyarakat Jawa menilai air tajin sebagai konsumsi pengganti ASI bagi masyarakat miskin. Ada juga yang menggunakan alternatif air tajin karena ASI tidak keluar dari sang ibu. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan protein bagi bayi, digunakanlah air tajin untuk makanan bayi.

Namun, perlu diperhatikan bahwa tanggapan tersebut merupakan hal yang salah. Air tajin tidak bisa digunakan sebagai pengganti ASI karena kandungan nutrisinya tidak sebanding. Melansir dari situs Hello Sehat, Kementerian Kesehatan RI menekankan pemberian ASI kepada bayi sampai usia enam bulan.

Bayi hanya boleh mengonsumsi ASI tanpa tambahan apapun, termasuk air putih. Barulah setelah usia enam bulan, bayi boleh diberi nasi tajin namun fungsinya hanya sebagai pendamping ASI, bukan pengganti.

air tajin untuk bayi
Air tajin adalah cairan kental yang didapat dari proses memasak nasi sebelum mendidih (Gambar: budaya-indonesia.org)

Baca juga: Intip Solo: Dari Sisa Nasi Jadi Camilan Klasik Legendaris

Kandungan dan Manfaat

Selain pada bayi, air tajin juga banyak digunakan orang dewasa karena dipercaya memiliki banyak manfaat karena kandungannya. Beberapa nutrisi yang terdapat pada air tajin adalah vitamin B, vitamin E, mangaan, seng, magnesium, dan serat.

Air tajin untuk bayi diklaim dapat menyuburkan rambut dan menghaluskan kulit. Namun, menurut ahli dermatologi, dr. Shilpi Khetarpal dari Cleveland Clinic Main Campus, klaim air tajin dapat menyuburkan rambut dan menghaluskan kulit ternyata tidak terbukti secara ilmiah.

Air tajin juga dipercaya dapat mengatasi diare. Menurut Cochrane Library, cairan tersebut dapat membantu mencegah dehidrasi. Air tajin ini bisa digunakan bila tidak ada laurat oralit. Hal ini telah disebutkan dalam booklet 10 Pesan Hidup Sehat dalam Kedaruratan yang disusun Kementerian Kesehatan RI.

Dalam memberikan air tajin untuk bayi atau memanfaatkannya untuk keperluan lain, perlu diperhatikan adanya potensi alergi yang bisa muncul. Beberapa gejala yang ditimbulkan adalah ruam, kulit melepuh, asma, mual, hingga syok anafilaksis.

Karenanya, untuk pertama kali percobaan, konsumsi air tajin bisa dilakukan dengan kadar sedikit lebih dulu. Selain itu, perlu juga melakukan konsultasi dengan dokter bila terjadi alergi yang tak kunjung teratasi.

Pemilihan beras yang berkualitas dan proses memasak yang bersih juga menjadi salah satu hal penting agar air tajin bisa dimanfaatkan secara optimal.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *