Kelenteng Tay Kak Sie dan Sejarahnya yang Mengakar di Semarang

Kelenteng Tay Kak Sie dan Sejarahnya yang Mengakar di Semarang
(Gambar: indonesiakaya.com)

Jatengkita.id – Kamu pernah mendengar tentang Kelenteng Tay Kak Sie belum? Kalau kamu sedang menelusuri sejarah dan warisan budaya Tionghoa di Indonesia, terutama di Kota Semarang, kamu pasti akan terpesona dengan kisah panjang dan makna mendalam yang dimiliki kelenteng ini.

Nah, dalam ulasan kali ini, kita akan kupas sejarah kelenteng istimewa ini, dari awal berdirinya hingga perannya dalam kehidupan sosial budaya di Semarang.

Apa Itu Kelenteng Tay Kak Sie?

Tay Kak Sie adalah salah satu kelenteng tertua dan terbesar di Kota Semarang, Jawa Tengah. Nama Tay Kak Sie sendiri tercantum jelas di papan nama kelenteng. Secara harfiah diartikan sebagai “Kuil Kesadaran Agung” dalam bahasa Hokkien. 

Kelenteng ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga simbol sejarah panjang komunitas Tionghoa di kota lumpia ini. Destinasi ini terletak di sebuah gang kecil bernama Gang Lombok, di kawasan Pekojan dekat Pecinan Semarang. Area ini sejak dulu identik dengan komunitas etnis Tionghoa. 

Sejarah Kelenteng Tay Kak Sie

Sejarah kelenteng ini bermula dari sebuah usaha komunitas Tionghoa di Semarang untuk memiliki tempat ibadah sendiri. 

Kelenteng ini dibangun pada tahun 1746 oleh saudagar-saudagar Tionghoa yang tinggal di kawasan itu. Kho Ping (atau Khow Ping) adalah seorang pedagang yang menjadi pemimpinnya. 

Pada awalnya, bangunan ini hanyalah sebuah tempat kecil untuk bersembahyang kepada Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih). Sosok itu adalah tokoh populer dalam kepercayaan Buddha/Tao.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan spiritual masyarakat meningkat. Hal ini sejalan dengan bertambahnya jumlah pemeluk Tri Dharma (Buddha, Tao, Konghucu) di Semarang. 

Kelenteng yang awalnya kecil itu lantas diperluas menjadi bangunan yang lebih besar dan lengkap, yang memuat banyak altar untuk menghormati beragam dewa dan dewi. 

Makna Nama dan Pengaruh Dinasti Qing

Beberapa prasasti di pintu masuk kelenteng menunjukkan bahwa nama Tay Kak Sie juga diabadikan sekitar tahun 1821-1850 pada masa pemerintahan Kaisar Dao Guang dari Dinasti Qing. 

Penetapan nama ini memperkuat identitas spiritual dan budaya kelenteng sebagai pusat ibadah yang memiliki makna penting dalam kosmologi tradisional Tionghoa. 

Perkembangan dan Renovasi

Usia kelenteng yang kini lebih dari dua setengah abad, membuat sejarah Tay Kak Sie tentu mencatat banyak perubahan. Kelenteng ini terus mengalami renovasi dan pemeliharaan agar tetap kokoh dan relevan dengan kebutuhan jemaahnya. 

Di antaranya adalah perbaikan setelah kebakaran, serta penataan ulang interior dan eksterior supaya struktur bangunan tetap aman dan estetis. Arsitektur kelenteng kaya dengan ornamen khas Tionghoa. Atap kelenteng berhiaskan sepasang naga yang sedang memperebutkan matahari. 

Sepasang naga yang berada di atap tersebut merupakan simbol penjaga kelenteng dari pengaruh jahat. Lintasan dekorasi dan simbol-simbol ini mencerminkan akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara yang telah berlangsung berabad-abad. 

kelenteng tay kak sie
(Gambar: indonesiakaya.com)

Fungsi Spiritual dan Budaya

Kelenteng Tay Kak Sie merupakan tempat ibadah yang terbuka bagi masyarakat yang mempraktikkan ajaran Tri Dharma, yaitu Buddha, Tao, dan Konghucu. Di dalamnya, terdapat lebih dari 29 altar pemujaan yang menampilkan beragam dewa dan dewi dari kepercayaan itu. 

Hal ini menjadikan Tay Kak Sie bukan hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai pusat spiritual yang paling “lengkap” di Semarang.

Selain itu, kelenteng ini juga menjadi bagian dari siklus ritual dan perayaan budaya masyarakat Tionghoa di Semarang. Perayaan seperti Siang Sin Giu Hokri sebelum Tahun Baru Imlek yang merupakan tradisi untuk “mengantar” para dewa ke surga adalah contohnya.

Peran Sosial di Era Kontemporer

Menariknya, sejarah kelenteng ini tidak hanya berhenti pada aspek spiritual atau arsitektural. Kelenteng ini kini juga aktif berkontribusi pada kehidupan sosial masyarakat. 

Misalnya, setiap tahunnya dalam perayaan King Hoo Ping (Festival Kesejahteraan). Pengurus kelenteng menggelar kegiatan bakti sosial seperti pembagian paket sembako kepada ribuan warga di lingkungan sekitar. 

Aktivitas ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga wujud nyata dari nilai kepedulian dan toleransi yang dijunjung tinggi di Semarang. 

Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa kelenteng Tay Kak Sie berperan dalam memupuk kerukunan dan solidaritas antar komunitas lintas etnis dan agama di Semarang. 

Simbol Akulturasi Budaya di Semarang

Kalau kamu berjalan menyusuri kawasan Pecinan di Semarang, kehadiran Tay Kak Sie akan terasa seperti pengingat bahwa sejarah komunitas Tionghoa telah mengakar kuat di kota ini. 

Kelenteng ini tidak hanya menampilkan seni arsitektur Tionghoa klasik, tetapi juga menjadi saksi perjalanan budaya, agama, dan interaksi sosial yang berlangsung selama ratusan tahun.

Dari ritual ibadah kepada beragam dewa-dewi, hingga tradisi sosial lokal, sejarah kelenteng Tay Kak Sie mencerminkan bagaimana budaya Tionghoa berhasil berasimilasi dan menjadi bagian dari mosaik budaya Semarang yang beragam. 

Sebuah lokasi wisata sejarah yang kini bisa kamu kunjungi saat berkunjung ke Semarang secara mandiri atau mengikuti walking tour yang kini makin mudah ditemui, termasuk di kota ATLAS.

Jadi, kalau kamu tertarik memahami warisan budaya Semarang, kamu tidak boleh melewatkan kisah sejarah Kelenteng Tay Kak Sie. 

Lebih dari sekadar bangunan tua, ternyata kelenteng yang tidak jauh dari Kota Lama Semarang ini merupakan lambang panjangnya perjalanan komunitas Tionghoa di Indonesia, dari masa kolonial hingga zaman modern. 

Dengan nilai spiritual, budaya, dan sosial yang kaya, Tay kak Sie tetap relevan bagi masyarakat Semarang hingga hari ini. Tertarik berkunjung dan berwisata sejarah ke Tay Kak Sie?

Yuk share jawabanmu di kolom komentar!

Baca juga: Tempat Buku di Semarang yang Cozy dan Homey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *