Mengenal Toxic Positivity : Berpikir Positif Punya Sisi Gelap?

Mengenal Toxic Positivity : Berpikir Positif Punya Sisi Gelap?
(Ilustrasi : istockphoto.com)

Jatengkita.id – Istilah “toxic positivity” merujuk pada kecenderungan untuk terus-menerus menekankan pentingnya berpikir positif dan menolak atau mengabaikan emosi negatif, bahkan ketika emosi tersebut valid dan layak untuk dirasakan.

Berpikir positif telah lama dianggap sebagai salah satu kunci untuk menjalani hidup yang bahagia, sehat, dan sukses. Nasihat untuk “selalu berpikir positif” sering kali disampaikan dalam berbagai konteks, baik dalam kehidupan pribadi, profesional, hingga spiritual.

Namun, dibalik niat baik dari dorongan untuk tetap optimis, terdapat sisi gelap yang jarang dibicarakan, yaitu fenomena yang kini dikenal sebagai toxic positivity.

Meskipun berpikir positif bisa memberikan kekuatan dalam menghadapi tantangan, ketika dilakukan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, hal ini justru bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental seseorang.

Apa Itu Toxic Positivity?

Secara sederhana, toxic positivity adalah pemaksaan terhadap diri sendiri atau orang lain untuk selalu menampilkan sikap positif, sekalipun sedang berada dalam situasi sulit atau menyakitkan.

Ini bukan tentang mencari hal-hal baik dalam kesulitan, tetapi lebih kepada penyangkalan terhadap realitas yang tidak menyenangkan.

Contoh umum dari toxic positivity meliputi:

“Jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja.”

“Setidaknya kamu masih punya pekerjaan.”

“Kamu harus bersyukur, banyak orang di luar sana yang lebih menderita.”

Meskipun terdengar seperti bentuk motivasi, pernyataan-pernyataan seperti ini justru dapat menutup ruang bagi individu untuk memproses perasaan mereka secara sehat. Hal ini bisa menimbulkan rasa bersalah karena merasa sedih atau kecewa, padahal perasaan itu sangat manusiawi.

Mengapa Toxic Positivity Berbahaya?

  1. Penekanan Emosi

Ketika seseorang dipaksa untuk selalu berpikir positif, mereka cenderung menekan atau mengabaikan emosi negatif. Padahal, menekan emosi secara terus-menerus bisa menyebabkan stres kronis, kecemasan, dan bahkan depresi.

Emosi negatif, jika tidak diproses dengan baik, bisa “meledak” di kemudian hari dalam bentuk ledakan emosi atau gangguan psikologis lainnya.

(Ilustrasi : istockphoto.com)
  1. Menghambat Proses Penyembuhan Emosional

Dalam proses penyembuhan dari trauma, kehilangan, atau kegagalan, seseorang butuh waktu untuk merasakan dan memproses kesedihan, kemarahan, dan frustrasi.

Toxic positivity mengintervensi proses ini dengan memaksakan rasa bahagia secara tidak realistis, yang akhirnya memperlambat pemulihan emosional.

  1. Merusak Hubungan Interpersonal

Saat seseorang tidak diberi ruang untuk mengungkapkan perasaan negatif karena khawatir dinilai “kurang bersyukur” atau “terlalu negatif”, mereka bisa merasa tidak dipahami atau bahkan terisolasi. Ini bisa merusak hubungan interpersonal karena komunikasi emosional menjadi tidak autentik.

  1. Menciptakan Standar Emosi yang Tidak Realistis

Toxic positivity menanamkan persepsi bahwa orang yang sehat mental harus selalu bahagia dan berpikir positif. Akibatnya, banyak orang merasa gagal atau tidak normal ketika mengalami hari-hari buruk atau emosi negatif.

Padahal, merasakan kesedihan, ketakutan, atau kemarahan adalah bagian alami dari kehidupan manusia.

Akar Budaya dari Toxic Positivity

Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh budaya populer, media sosial, dan bahkan industri self-help yang sering kali menampilkan kehidupan yang tampak sempurna dan penuh kebahagiaan.

Di media sosial, misalnya, kita kerap melihat kutipan motivasi, foto-foto bahagia, dan cerita sukses yang seolah menandakan bahwa kebahagiaan adalah satu-satunya emosi yang boleh ditunjukkan.

Budaya ini menciptakan tekanan sosial untuk “terlihat bahagia” setiap saat, tanpa mengakui bahwa setiap orang pasti mengalami naik-turun kehidupan. Dalam banyak kasus, orang menjadi malu untuk menunjukkan kesedihan atau kesulitan karena takut dianggap lemah atau tidak bersyukur.

Bagaimana Membedakan Positivity Sehat dan Toxic Positivity?

Penting untuk membedakan antara berpikir positif yang sehat dan toxic positivity. Positivity yang sehat melibatkan pengakuan terhadap kenyataan yang sulit, sambil tetap mempertahankan harapan dan mencari solusi.

Misalnya:

Positivity sehat:
“Saya tahu ini masa yang sulit, tapi saya percaya saya bisa melewatinya.”

Toxic positivity:
“Saya tidak boleh merasa sedih. Saya harus tetap bahagia.”

Positivity yang sehat memberi ruang untuk emosi negatif, namun tidak membiarkannya menguasai. Sebaliknya, toxic positivity mengabaikan atau menyangkal keberadaan emosi negatif sama sekali.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  1. Validasi Emosi

Belajarlah untuk mengakui dan menerima semua emosi, baik positif maupun negatif. Mengatakan “Saya sedih dan itu tidak apa-apa” adalah langkah awal untuk membangun kesehatan emosional yang sehat.

  1. Dengarkan dengan Empati
toxic positivity
(Gambar : istockphoto.com)

Ketika orang lain curhat, hindari memberi nasihat instan atau mencoba “menghibur” dengan cara memaksakan sisi positif. Cukup dengarkan dan akui perasaan mereka dengan berkata seperti, “Itu pasti berat ya, saya di sini kalau kamu butuh.”

  1. Berlatih Mindfulness

Dengan berlatih kesadaran penuh (mindfulness), kita belajar untuk hadir di saat ini tanpa menghakimi apa yang kita rasakan. Teknik ini membantu kita untuk menerima emosi secara utuh tanpa harus langsung mencari solusi.

  1. Jangan Bandingkan Perasaan

Hindari membandingkan penderitaan sendiri dengan orang lain. Setiap orang punya konteks dan pengalaman yang berbeda. Kalimat seperti “Banyak orang lebih menderita dariku” mungkin niatnya baik, tapi bisa mengikis validitas perasaan sendiri.

  1. Ciptakan Ruang Aman untuk Curhat

Di lingkungan keluarga, teman, atau tempat kerja, kita bisa menciptakan ruang yang aman dimana emosi bisa diekspresikan dengan jujur, tanpa takut dihakimi atau dibungkam dengan kalimat motivasi kosong.

Baca juga : Memahami Wellness Lewat Self-Care dan Me Time

Berpikir positif adalah alat yang berguna, tapi bukan satu-satunya alat untuk menghadapi hidup. Seperti halnya semua hal yang berlebihan, berpikir positif yang ekstrem bisa menjadi racun yang merusak ketahanan emosional.

Toxic positivity, meskipun muncul dari niat baik, justru dapat memperburuk kondisi mental seseorang karena menutup pintu terhadap emosi yang sah dan manusiawi.

Keseimbangan adalah kunci. Kita perlu belajar untuk menerima kenyataan hidup, termasuk bagian-bagian yang sulit, dengan penuh empati dan kasih terhadap diri sendiri dan orang lain.

Dengan begitu, kita membangun kedewasaan emosional yang tidak hanya kuat di saat senang, tetapi juga bijak saat menghadapi kesedihan dan duka.

Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *