Jatengkita.id – Lopis Raksasa Pekalongan menjadi salah satu ikon wisata Lebaran paling unik di Indonesia. Setiap tahun, masyarakat Kelurahan Krapyak Kidul, Kota Pekalongan, menggelar tradisi Lopisan atau Lopis Raksasa sebagai bagian dari perayaan Syawal setelah Idul Fitri.
Tradisi ini bukan sekadar festival kuliner, melainkan simbol gotong royong, silaturahmi, dan identitas budaya lokal yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
Momentum Syawalan sendiri lahir dari inisiatif para ulama terdahulu sebagai sarana memperkuat amanah keagamaan melalui silaturahmi. Kini, Pemerintah Kota Pekalongan menjadikannya sebagai ikon budaya dan destinasi wisata unggulan saat Lebaran.
Sejarah Tradisi Lopis Raksasa di Pekalongan
Awalnya, tradisi Lopis Raksasa hanya dilakukan secara sederhana di Krapyak Kidul Gang 8, sekitar musala Darunna’im. Kegiatan ini digagas warga sebagai wujud rasa syukur setelah menjalani 30 hari puasa Ramadan.
Seiring waktu, perayaan ini semakin dikenal luas. Bahkan pada tahun 2002, masyarakat Krapyak Kidul memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pembuat Lopis Raksasa terbesar.
Sejak saat itu, tradisi ini tidak lagi sekadar perayaan kampung, tetapi menjadi agenda budaya tahunan yang menarik ribuan pengunjung.
Proses Pembuatan Lopis Raksasa
Pembuatan Lopis Raksasa bukan perkara mudah. Total waktu memasak mencapai 3-5 hari dengan proses yang detail dan penuh koordinasi.
Mengutip dari sebuah sumber, berdasarkan wawancara dengan panitia, untuk pembuatan Lopis Raksasa, masyarakat bergotong royong melaksanakan kegiatan.

- Menyiapkan tungku untuk tempat dandang raksasa
- Mencuci dan membilas beras ketan
- Menumbuk beras ketan yang sudah setengah matang dari dandang-dandang kecil
- Menumbuk beras ketan tadi untuk kemudian dimasukkan ke dalam kronjot lopis raksasa hingga membentuk lupis berukuran raksasa
- Merebus lopis raksasa
- Memastikan api tetap menyala dengan bahan bakar kayu bekas pembuatan kapal yang mempunyai daya panas tinggi selama 24 jam
- Kemudian membalik lopis raksasa
- Merebus kembali selama 24 jam
- Setelah selesai kemudian lopis raksasa dientas dari dandang raksasa
- Membuat panggung lopis raksasa
- Memindahkan lopis raksasa yang sudah matang ke lokasi pemotongan lopis raksasa
Ukuran dan Fakta Menarik Lopis Raksasa
Lopis Raksasa Pekalongan memiliki ukuran yang fantastis, pada tahun 2024:
- Tinggi: 2 meter
- Diameter bulat: 250 cm
- Diameter inti: 80 cm
- Berat lopis raksasa: sekitar 2.018 kilogram
Menariknya, menurut pernyataan Wali Kota Pekalongan, ukuran lopis setiap tahun cenderung semakin besar dan tinggi. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Gotong Royong sebagai Jiwa Tradisi
Tradisi ini tidak mungkin terlaksana tanpa semangat gotong royong. Warga bersama-sama membuat lopis raksasa dari mulai proses penyiapan hingga penyajian.
Semua dilakukan dengan kebersamaan. Lopis kemudian dipotong dan dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol keberkahan dan persatuan.
Nilai sosial inilah yang menjadikan Lopis Raksasa bukan sekadar kuliner, tetapi warisan budaya hidup yang mempererat hubungan antarwarga.
Ikon Syawalan dan Destinasi Wisata Pekalongan
Kini, tradisi Lopis Raksasa telah menjadi agenda resmi Pemerintah Kota Pekalongan. Setiap Syawalan, ribuan masyarakat dan wisatawan memadati kawasan Krapyak untuk menyaksikan pemotongan lopis raksasa.
Momentum ini tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga mendorong sektor ekonomi kreatif dan pariwisata lokal.
Makna Filosofis Lopis dalam Tradisi Syawalan
Lopis yang terbuat dari beras ketan memiliki tekstur lengket. Dalam filosofi Jawa, sifat lengket ini melambangkan eratnya persaudaraan dan kebersamaan. Tradisi memotong dan membagikan lopis raksasa menjadi simbol bahwa masyarakat tetap menyatu setelah Ramadan.
Syawalan di Pekalongan mengajarkan bahwa Lebaran bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang memperkuat silaturahmi dan menjaga nilai kebersamaan.






