Jatengkita.id – Pernah nggak, kamu merasa kesepian, terus menghalu punya teman baru kece yang baik banget sama kamu? Kurang lebih, itulah yang dialami karakter utama dari review novel Kastel Terpencil dalam Cermin.
Dikenal juga dengan judul Lonely Castle in the Mirror (かがみの孤城, Kagami no Kojō). Karya ini merupakan novel karangan Mizuki Tsujimura. Bukan sekadar cerita fantasi, novel ini mengangkat isu kesehatan mental dan struggle anak-anak usia sekolah.
Sinopsis
Kokoro Anzai, si karakter utama, adalah seorang siswi di SMP 5 Yukishina. Masalahnya, dia ini “tidak bisa bersekolah”. Sudah beberapa waktu dia meliburkan diri dengan alasan “sakit perut”.
Bukan pura-pura, bukan rekayasa, bukan sulap bukan sihir, tapi perut Kokoro betul-betul sakit sampai dia nggak bisa makan juga. Kokoro pun selalu tinggal di rumah sendirian sementara orangtuanya bekerja.
Nah, suatu hari pas Kokoro lagi sendirian itu, cermin di kamarnya tiba-tiba bercahaya. Kokoro masuk ke cermin itu dan menemukan sebuah kastel misterius. Di sana, ada enam anak lainnya yang juga “diundang”. Mereka semua anak-anak yang sama-sama menolak pergi ke sekolah seperti Kokoro.
Meminjam kata-kata dari blurb buku: “Untuk apa mereka bertujuh dikumpulkan di kastel? Siapakah sebenarnya sosok gadis bertopeng serigala yang mengundang mereka?”
Penasaran? Lanjut dulu ke review di bawah ini, ya!
Plotnya Lambat?
Ini dia salah satu poin yang sering dikritik buat novel fantasi: Plot yang lambat.
Memang, karena novel fantasi punya aturan mainnya sendiri, mereka makan waktu lebih banyak buat pengenalan dunia dan karakter.
Banyak orang yang bilang kalau plot Kagami no Kojoo termasuk lambat. Tapi, sebetulnya nggak selambat itu kok. Pacing awalnya memang cocok pelan-pelan buat world-building, jadi masih acceptable.
Pacing di pertengahan cerita sampai akhir juga not in a rush, jadi pas banget bagi yang nyari bacaan slow buat healing. Tetap ada adegan menegangkan, misteri, bahkan sedikit kejadian lucu, tapi semuanya disajikan dengan tempo yang santai sehingga pembaca nggak merasa dikejar-kejar.
Karakter
Bagi yang kurang familiar atau jarang baca novel Jepang, agak susah mengingat nama tujuh anak Jepang sekaligus. Tapi, setiap karakter punya kepribadian unik dan ciri khas masing-masing.
Misalnya Rion, yang warna kulitnya agak terbakar karena sekolah di luar negeri, Subaru yang pembawaannya dewasa, dan Aki yang hidupnya problematik.
Ada juga nama karakter yang unik, yaitu Masamune, yang kalau kamu mengikuti cerita-cerita zaman Sengoku, pasti langsung kepikiran samurai Masamune Date.
Memang, nggak ada karakter yang terlalu nyentrik atau mencolok di sini. Tapi, begitu menyelami situasi dan perasaan dari setiap karakter ini, pembaca dijamin bersimpati.

Persahabatan
Masa sekolah memang masanya memupuk persahabatan. Tapi, kalau anak-anak yang nggak mau pergi ke sekolah ini, gimana?
Ternyata karena sama-sama nggak punya teman di sekolah, anak-anak ini jadi bisa berteman satu sama lain. Kesulitan yang mereka alami justru jadi tali yang mengikat erat persahabatan mereka.
Friendship ketujuh anak ini terasa banget sejak di pertengahan buku. Anak-anak ini saling berbagi rahasia, curhat, impian, dan saling menguatkan.
Kokoro yang mengalami bullying, Aki yang punya masalah keluarga, Fuka yang merasa gagal karena bakatnya, sampai Rion yang punya trauma kehilangan dan orangtua toxic.
Mereka bukan sekadar malas sekolah. Mereka takut. Takut sama perundung, sama penolakan, sama kesalahpahaman.
Terharu banget sama solidaritas mereka, adik-adik SMP yang berjuang mengalahkan rasa takut mereka untuk pergi ke sekolah!
Bahkan, mereka sampai janjian untuk bertemu di dunia nyata dan bersama-sama menjalani hari-hari sekolah bak neraka. Mereka sama-sama takut dan karena itu mereka sama-sama bergenggam tangan menghadapi rasa takut itu.
Pesan Moral
Ini adalah salah satu hal yang paling mantap dari buku ini.
Cerita ini bilang kalau sekolah itu bukan segalanya. Sekolah itu penting, banget. Tapi bukan berarti seluruh hidup kita ikut hancur kalau kita gagal survive di sistem pendidikan formal.
Buat kalian yang merasa atau pernah merasa takut pergi sekolah, nggapapa kok. Takut itu manusiawi. Kalau memang nggak cocok di satu sekolah, bisa pindah ke sekolah lain. Atau bisa ambil pendidikan non formal, kayak Kelas Kalbu yang diambil Kokoro.
Jangan lupa juga, kesehatan mental anak lebih penting daripada prestasinya di sekolah. Kalau memang udah nggak kuat, jangan ragu buat cari professional help, atau sekadar cerita ke orang yang dipercaya.
Karakter Bu Kitajima, yang membantu Kokoro menghadapi permasalahannya, bilang: “Kau tidak harus kembali ke sekolah. […] Kalau kau merasa tidak ingin sekolah, kami semua akan ada di pihakmu untuk bersama-sama memikirkan apa yang harus kau lakukan, apa yang kau ingin lakukan ke depannya. […]. Jadi, ingatlah bahwa kau memiliki banyak pilihan, Kokoro.” (Tsujimura, 2022, hlm 362-363)
Seringkali di masyarakat kita, anak-anak yang nggak mau sekolah mendapat stereotip yang buruk. Ada yang langsung dicap bandel, bodoh, pemalas, dan seterusnya. Padahal, problem-nya nggak sesederhana itu.
Ada alasan-alasan lain yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata, khususnya bagi anak-anak yang masih mencoba memahami diri sendiri. Sayangnya, cuma segelintir orang dewasa yang mau mencoba mendengarkan memahami itu.
Yang dibutuhkan anak-anak ini adalah dukungan dan bimbingan, sampai mereka bisa mendapatkan kepercayaan diri mereka untuk kembali melangkahkan kaki di dunia pendidikan yang keras.
Baca juga : Eksis Hingga Kini, FLP Jadi Wadah Potensial Berliterasi
Jadi, Apakah Novel Ini Recommended?
Banget!
Baik buat remaja yang lagi krisis identitas dan nggak semangat sekolah, ataupun orang dewasa yang pernah mengalami struggle semasa sekolah.
Novel ini mengangkat isu dunia pendidikan yang kurang mendapat spotlight, yaitu tentang rasa takut menjalani hari di sekolah. Di sini kita ditunjukkan, bahwa apa yang tampak sederhana bisa menjadi luka yang begitu dalam bagi sebagian orang.
Ada semangat dan kehangatan yang bisa kita rasakan dari perjuangan para karakter dalam menghadapi ketakutan mereka. Ini kisah yang bisa memotivasi kita untuk melangkah di dunia yang penuh trauma sekaligus keindahan.
Buat yang belum baca, pokoknya buruan dimasukkin ke reading list! Bagi yang udah baca, jangan lupa cek adaptasi animenya, ya!
Follow akun instagram Jateng Kita untuk informasi menarik lainnya!






